Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Organisasi Papua Merdeka (OPM) kembali membuat masalah. Kali ini OPM membuat pemerintah meradang dengan membunuh anggota TNI serta melalukan pembakaran terhadap sekolah.
Menanggapi itu, pengamat militer Susanintyas Nefo Kertopati mengatakan, kasus separatisme seperti OPM adalah PR besar bagi Presiden berikutnya.
Baca Juga : TNI Tembak Mati Tokoh OPM Bumi Walo Dalam Operasi di Puncak Jaya
"Prediksi saya siapa pun presidennya, Papua akan tetap jadi PR besar bagi pemerintah RI. Karena menurut saya masalah disana belum dilengkapi dengan update kondisi terkini Papua yang jauh lebih rumit apalagi jumlah aktor konflik makin banyak multi kepentingan. Sementara pendekatan Pemerintah masih sama," katanya, Sabtu (20/7/2024).
Baca Juga : OPM Bakar Sekolah di Yahukimo: Seorang Guru Tewas, 3 Luka Berat
Wanita akarab disapa Nuning menututkan, TNI juga harus menyelesaikan isu separatisme di Papua dengan mekanisme peraturan internasional sebagaimana diatur oleh PBB.
Terlebih, hal yang penting adalah memetakan akar masalah terutama yang msh belum selesai.
Baca Juga : Tantangan Asta Cita: Ancaman Deforestasi dan Pengangguran Hantui Elektabilitas Prabowo
Ia melanjutkan, separatisme juga terjadi di berbagai belahan dunia dan ditangani secara profesional oleh militer negara-negara tersebut.
Baca Juga : Mahasiswa Papua di Medan Desak Penghentian Kekerasan dan Pelanggaran HAM di Tanah Papua
Nuning mencontohkan, isu separatisme di Catalunya diselesaikan dengan cepat dan senyap oleh militer Spanyol. Bahkan Uni Eropa juga secara tegas membantu pemerintah Spanyol membasmi sparatisme Catalunya. Irlandia di Inggris.
"Dengan status OPM sebagai separatis, maka mekanisme dukungan internasional akan berpihak kepada pemerintah Indonesia," ujarnya.
Baca Juga : Viral Pengibaran Bendera GAM di Lokasi Bencana, Firman Soebagyo Ingatkan Bahaya Pecah Belah
Terkait dengan soal penembakan terhadap TNI dan pembakaran Sekolah itu, Menurut Nuning, OPM bermain simbol dalam melakukan operasinya.
Karena itu, TNI sebagai simbol Pertahanan dan Sekolah simbol kemajuan generasi penerus. Dan dua hal itu tidak disukai OPM.
"Pemerintah sudah berupaya menyelesaikan masalah di Papua tetapi jika akar masalahnya tak disekesaikan termasuk masalah Otsus maka aka terus terjadi kekerasan yang dilakukan OPM," tegas dosen Universitas Pertahanan (Unhan) ini.
Diketahui situasi di Puncak Jaya, Papua Tengah, sempat memanas usai tiga anggota OPM tewas ditembak oleh anggota TNI belum lama ini.
Penembakan tersebut bermula saat sejumlah anggota OPM menyerang Satgas Yonif RK 753/AVT.
Massa lalu melancarkan protes dan mengatakan para korban bukan anggota OPM. Buntut protes itu, sebanyak enam unit mobil milik TNI-Polri dibakar massa. Mereka juga meminta ganti rugi total Rp3 miliar untuk ketiga orang yang ditembak sebagai denda adat.
Personel TNI sendiri menyita satu pucuk pistol rakitan dan bendera Bintang Kejora usai menembak mati 3 anggota OPM tersebut.
Barang bukti itu diduga milik kelompom OPM pimpinan Teranus Enumbi yang terus menerus meneror warga sipil. Kelompok ini juga disebut sering merusak fasilitas umum hingga menyerang aparat keamanan.
(cw1/nusantaraterkini.co)
