Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Merek Fesyen Sejauh Mata Memandang Terapkan Praktik Sandang Sirkular dalam Desain dan Produksinya

Editor:  Feriansyah Nasution
Reporter: Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Chitra Subyakto (kanan), pendiri sekaligus direktur kreatif Sejauh Mata Memandang, berpose untuk difoto dalam pembukaan pameran "Pasar Kita" di Grand Indonesia, Jakarta, pada 18 Juli 2025. (Foto: Xinhua/Rai Iftikar)

Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Seiring meningkatnya kesadaran publik terhadap pembangunan berkelanjutan, kalangan fesyen Indonesia pun mulai menerapkan praktik sandang sirkular yang ramah lingkungan dalam desain dan produksinya, salah satunya adalah merek tekstil Sejauh Mata Memandang.

Pendekatan praktik sirkular, atau circularity, di dalam dunia fesyen bertujuan untuk memperpanjang masa pakai, mengurangi limbah, dan menciptakan sistem yang memulihkan, bukan merusak. Untuk mewujudkan sandang sirkular, ada lima langkah pendekatan sederhana, yakni praktik 5R, yang terdiri dari praktik Guna Ulang (Reuse), Perbaikan (Repair), Pakai Ulang (Rewear), Jual Kembali (Resell), dan Daur Ulang (Recycle).

Foto yang diabadikan pada 1 Agustus 2025 ini menunjukkan sejumlah koleksi yang dipajang dalam pameran "Pasar Kita" di Grand Indonesia, Jakarta. (Foto: Xinhua/Rai Iftikar)

Menurut Sejauh Mata Memandang, merek itu menghadirkan kesadaran dan makna untuk menghormati serta merawat hubungan yang berarti antara kehidupan keseharian dan alam di dalam produknya.

Salah satu upayanya adalah memilih bahan baku dalam proses produksinya, dengan memilih bahan alami yang ditanam secara bertanggung jawab dan tidak merusak kesuburan tanah, serta memastikan bahan itu tidak membahayakan lingkungan saat terurai. Sejauh Mata Memandang juga berupaya memperpanjang masa pakai produknya dan mendorong pendaurulangan bahan-bahannya.

Baca Juga : Pesona Fuji Kebanting dengan Davina Karamoy, Saat Mejeng di Acara Fesyen Muslim Malaysia

Praktik sandang sirkular bukan sesuatu yang sejak awal diterapkan oleh Sejauh Mata Memandang. Merek tekstil tersebut mulai belajar tentang pendekatan praktik sirkular pada 2019, saat mereka mengangkat isu sampah plastik di laut Indonesia lewat pameran terdahulunya yang bertajuk "Laut Kita".

Pameran tersebut mengetengahkan pameran lingkungan untuk meningkatkan kesadaran tentang pencemaran plastik dan mengurangi penggunaannya.

Dalam pameran instalasi bertajuk "Pasar Kita" yang digelar merek tersebut di Grand Indonesia, Jakarta, mulai 18 Juli hingga 31 Agustus nanti, kesinambungan dan keharmonisan juga menjadi sorotan.

Sebanyak 90 persen bahan yang digunakan merupakan hasil guna ulang (Reuse) dan daur ulang (Recycle). Panel-panel kayu modular yang sebelumnya telah digunakan dalam berbagai acara merek tersebut kembali dimanfaatkan, sementara kain-kain perca sisa produksi diubah menjadi ornamen dekoratif yang mempercantik suasana.

Setiap motif dari koleksi dalam pameran ini terinspirasi dari penggambaran emosi, kesimbangan alam, dan kemanusiaan yang divisualisasikan melalui bentuk geometris kotak positif-negatif dalam susunan menyerupai kain poleng (kain tradisional khas Bali).

Baca Juga : Jadi Istri Sultan Andara, Gaya Fesyen Nagita Slavina Tak Ketinggalan Tren

Elemen-elemen organik lainnya, seperti ombak laut, awan, bulan, dan matahari, juga hadir sebagai simbol sumber kehidupan sekaligus pengingat akan pentingnya menjaga alam.

Motif-motif tersebut diaplikasikan di atas kain katun dan kain Tencel dengan teknik cetak saring tangan yang dikerjakan oleh Sejauh Mata Memandang bersama para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Desa Duri, Denpasar, Provinsi Bali, serta teknik batik cap yang dikerjakan oleh mitra-mitra artisan batik di Pekalongan, Provinsi Jawa tengah.

Menurut Chitra Subyakto, pendiri sekaligus direktur kreatif Sejauh Mata Memandang, pameran "Pasar Kita" berperan sebagai wadah kolaborasi dengan mengusung pesan penting dari gotong royong di tengah dampak sektor ekonomi, khususnya bagi para artisan dan pelaku UMKM.

(fer/nusantaraterkini.co)

Sumber: Xinhua