Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin kembali menjadi sorotan publik usai melontarkan sejumlah pernyataan yang memicu kontroversi.
Dalam beberapa kesempatan, Budi menyampaikan pandangan terkait kesehatan, ekonomi, hingga kebijakan medis yang dinilai sensitif oleh berbagai pihak.
Terbaru, Menkes Budi Gunadi Sadikin menekankan pentingnya peningkatan pendapatan masyarakat sebagai bagian dari strategi menuju Indonesia Emas 2045.
Namun, pernyataan yang mengaitkan penghasilan seseorang dengan tingkat kesehatan dan kecerdasannya dianggap menyudutkan kelompok berpenghasilan rendah.
Selain itu, ia menyinggung standar kesehatan berdasarkan ukuran lingkar pinggang, dan menyamakannya dengan ukuran celana jeans pria.
Menanggapi kontroversial itu, Analis Komunikasi Politik Hendri Satrio menilai pernyataan Menkes Budi yang menyampaikan padangan terkait soal kesehatan, ekonomi, hingga kebijakan medis secara komunikasi publik itu tidak tepat.
"Pak Menkes ini kan sekarang jadi makhluk politik, maka setiap kali statementnya itu ada kaitannya dengan politik pastinya," ujar Hendri, Rabu (21/5/2025).
Baca Juga: Menkes Diminta tak Keluarkan Pernyataan Kontroversi, Lebih Baik Banyak Mendengar
Menurutnya, kasus Menkes itu menunjukkan perlunya kehati-hatian dalam berkomunikasi, terutama sebagai pejabat publik.
"Sebagai Menteri Kesehatan, ya sudah, fokus saja menjalani fungsi sebagai Menteri Kesehatan, tidak menjadi paranormal, bahkan meramal kematian seseorang," tegasnya.
Lebih lanjut, ia menilai pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kerap menghadapi kontroversi akibat penyampaian pesan atau komunikasi publik yang tidak tepat.
Hendri pun menyarankan agar pejabat lebih berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan agar tidak memicu salah tafsir atau polemik di masyarakat.
“Pak Prabowo sudah berpesan bahwa komunikasi publik para pejabat ini harus diperbaiki, maka seharusnya ini sudah tidak terulang lagi dan para pejabat pun harus hati-hati akan potensi slip of tongue karena publik saat ini semakin cerdas,” pungkasnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IX DPR Yahya Zaini meminta Menkes lebih berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan ke publik.
Baca Juga: Komisi IX: Wacana Dokter Umum Bisa Lakukan Operasi Caesar Perlu Dikaji Secara Hati-hati
"Menurut saya tidak otomatis orang yang gajinya Rp15 juta lebih sehat dan lebih pintar dari orang yang bergaji Rp5 juta. Sebaiknya Menkes lebih berhati-hati dalam membuat pernyataan sehingga tidak menimbulkan keresahan di publik," kata Yahya Zaini.
Yahya mengatakan tak sedikit masyarakat menjadi pengusaha dengan pendidikan yang tidak begitu tinggi. Sebaliknya, lanjut dia, ada pula sopir ojek online dengan pendidikan lulusan S2.
"Banyak orang yang pendidikannya biasa-biasa saja justru sukses menjadi pengusaha. Di tengah kesulitan mencari pekerjaan seperti sekarang ini ada supir ojol yang lulusan S2," ujarnya.
Yahya lantas meminta Budi tidak mengeluarkan pernyataan ke publik tanpa data. "Menkes sebaiknya berdasarkan data kalau ingin menyampaikan sesuatu ke publik," katanya.
(cw1/nusantaraterkini.co)
