Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Di dalam kompleks Keraton Yogyakarta di Daerah Istimewa Yogyakarta, para penjaga yang mengenakan pakaian tradisional menyandang senjata khas di pinggang mereka, yakni keris, yang diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan.
Keris memiliki sejarah panjang, dan namanya berasal dari kata Jawa kuno yang berarti "menusuk" atau "membelah". Bilahnya, yang kerap ditandai dengan pola gelombang unik, dirancang tidak hanya untuk meningkatkan kekuatannya sebagai senjata mematikan, tetapi juga untuk menjelmakan kearifan artistik dan bela diri yang mendalam.
Jumlah dan bentuk lekukan pada keris memiliki makna simbolis yang beragam, dan beberapa bilah dihiasi dengan ukiran emas dan perak yang rumit.
Baca Juga : Mahasiswa Sumut Temui Wapres Gibran, Dorong Hari Ulos Nasional Masuk UNESCO
Pembuatan satu bilah keris membutuhkan proses yang memakan waktu satu tahun. Para perajin secara teliti menjalani proses yang melibatkan pemilihan bahan, pembentukan lapisan, pemrosesan dengan asam, pendinginan, pemolesan, dan penambahan hiasan. Gagang dan sarung keris, yang sering terbuat dari kayu, gading, atau logam, dihiasi dengan ukiran, tatahan, dan sepuhan emas, yang menampilkan motif dewa atau hewan, membentuk kesatuan yang harmonis dengan bilah keris itu sendiri.
Lebih dari sekadar senjata, keris merupakan ikon spiritual dan peradaban, yang menjadi saksi bisu bagi pewarisan dan perkembangan budaya Indonesia selama ribuan tahun.
(fer/nusantaraterkini.co)
Baca Juga : Adi Bing Slamet Sambut Wacana Nama Sang Ayah Diabadikan Jadi Nama Jalan di Jakarta
Sumber: Xinhua
