Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Menilik Keris, Mercusuar Budaya Indonesia

Editor:  Feriansyah Nasution
Reporter: Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Seorang staf menunjukkan sebuah keris di Museum Keris Brojobuwono di Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah, pada 28 Agustus 2025. (Foto: Xinhua)

Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Di dalam kompleks Keraton Yogyakarta di Daerah Istimewa Yogyakarta, para penjaga yang mengenakan pakaian tradisional menyandang senjata khas di pinggang mereka, yakni keris, yang diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan.

Keris memiliki sejarah panjang, dan namanya berasal dari kata Jawa kuno yang berarti "menusuk" atau "membelah". Bilahnya, yang kerap ditandai dengan pola gelombang unik, dirancang tidak hanya untuk meningkatkan kekuatannya sebagai senjata mematikan, tetapi juga untuk menjelmakan kearifan artistik dan bela diri yang mendalam.

Foto yang diabadikan pada 29 Agustus 2025 ini menampilkan keris Indonesia yang dipamerkan di Museum Sonobudoyo di Daerah Istimewa Yogyakarta. (Foto: Xinhua)

Jumlah dan bentuk lekukan pada keris memiliki makna simbolis yang beragam, dan beberapa bilah dihiasi dengan ukiran emas dan perak yang rumit.

Baca Juga : Mahasiswa Sumut Temui Wapres Gibran, Dorong Hari Ulos Nasional Masuk UNESCO

Pembuatan satu bilah keris membutuhkan proses yang memakan waktu satu tahun. Para perajin secara teliti menjalani proses yang melibatkan pemilihan bahan, pembentukan lapisan, pemrosesan dengan asam, pendinginan, pemolesan, dan penambahan hiasan. Gagang dan sarung keris, yang sering terbuat dari kayu, gading, atau logam, dihiasi dengan ukiran, tatahan, dan sepuhan emas, yang menampilkan motif dewa atau hewan, membentuk kesatuan yang harmonis dengan bilah keris itu sendiri.

Foto yang diabadikan pada 29 Agustus 2025 ini menampilkan berbagai cara menyandang keris di Museum Sonobudoyo di Daerah Istimewa Yogyakarta. (Foto: Xinhua)

Lebih dari sekadar senjata, keris merupakan ikon spiritual dan peradaban, yang menjadi saksi bisu bagi pewarisan dan perkembangan budaya Indonesia selama ribuan tahun.

(fer/nusantaraterkini.co)

Baca Juga : Adi Bing Slamet Sambut Wacana Nama Sang Ayah Diabadikan Jadi Nama Jalan di Jakarta

Sumber: Xinhua