Rupiah Tertekan di Awal Pekan, Dolar AS Menguat Jelang Rilis Data Ekonomi
Rupiah dibuka melemah ke Rp16.732 per dolar AS seiring penguatan dolar global. Pasar fokus pada data ekonomi AS dan arah kebijakan The Fed.
Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada awal perdagangan pekan ini. Pada Senin (5/1/2026), rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), seiring menguatnya mata uang Negeri Paman Sam di pasar global.
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah penguatan dolar AS yang mencapai level tertinggi dalam tiga setengah pekan terhadap euro, serta posisi terkuat dalam dua pekan terhadap yen Jepang. Kondisi tersebut dipicu oleh meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat.
Berdasarkan data Bloomberg, pada pukul 09.14 WIB di pasar spot, rupiah tercatat melemah 7 poin atau 0,04 persen ke level Rp 16.732 per dolar AS. Pada saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) menguat 0,17 persen ke posisi 98,59.
Sebelumnya, pada penutupan perdagangan Jumat (2/1/2026), rupiah juga ditutup melemah 38 poin di level Rp 16.725 per dolar AS, menandakan tekanan yang masih berlanjut sejak akhir pekan lalu.
Mengutip Reuters, dolar AS membuka pekan perdagangan penuh pertama di awal 2026 dengan tren penguatan. Mata uang tersebut mencatat level tertinggi dalam tiga setengah pekan terhadap euro, serta mendekati posisi puncak dua pekan terhadap yen Jepang.
Penguatan dolar AS terjadi meskipun Amerika Serikat baru saja melakukan operasi militer di Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro pada akhir pekan lalu. Namun, sentimen geopolitik tersebut dinilai tidak menjadi faktor utama di pasar valuta asing.
Pelaku pasar global saat ini lebih memusatkan perhatian pada prospek kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed), terutama terkait sinyal suku bunga yang akan dipengaruhi oleh data ekonomi AS ke depan.
Pada perdagangan Senin, dolar AS tercatat naik 0,1 persen ke level US$ 1,1704 per euro, setelah sempat menyentuh US$ 1,1700, yang merupakan level terkuat sejak 11 Desember 2025. Sementara terhadap yen Jepang, dolar menguat 0,2 persen ke level 157,08 yen, mendekati posisi tertinggi sejak 22 Desember 2025 di level 157,255 yen.
“Pasar valuta asing saat ini cenderung mengesampingkan risiko geopolitik dari Venezuela dan lebih fokus pada sinyal yang akan muncul dari data ekonomi AS terkait arah kebijakan The Fed,” ujar analis pasar senior Capital.com, Kyle Rodda, seperti dikutip Reuters.
(Dra/nusantaraterkini.co).
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
NASIONALAnggota DPR Dorong KAI Tambah Armada KRL Jabodetabek
Herman Saleh Harahap·Beberapa detik yang lalu -
SUMSELTNI dan Pemko Palembang Gelar Gotong Royong Bersihkan Aliran Sungai Sekanak
Herman Saleh Harahap·11 menit yang lalu -
NEWS VIDEODasco Minta Komisi III Dalami Temuan Fasilitas Mewah di Lapas Cibinong
Fadli Tara·20 menit yang lalu -
-
NEWSPolri Perkuat Tata Kelola Institusi Lewat Buku Police Governance
Herman Saleh Harahap·55 menit yang lalu -
SUMSELAtasi Kemacetan, Pemko Palembang Bakal Tertibkan Pasar Tradisional
Herman Saleh Harahap·1 jam yang lalu -
PERISTIWAKebakaran di Padangsidimpuan Hanguskan 9 Rumah, 1 Meninggal Dunia
Herman Saleh Harahap·1 jam yang lalu -
EKONOMIIHSG Hari Ini Berpotensi Lanjut Koreksi, Berikut Rekomendasikan 6 Saham Pilihan
hendra·2 jam yang lalu -
KRIMINALAnggota DPRD Sumut Dhody Thahir Terancam 7 Tahun Penjara
Herman Saleh Harahap·2 jam yang lalu -
PAPUA TERKINIDPD Dorong PPDS RSPPU Jadi Jalur Afirmasi Nyata bagi Dokter Papua
Herman Saleh Harahap·3 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan