Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Jeritan Hati Masyarakat Adat Sihaporas Menuntut Keadilan: Hutan Kami Hilang, Tangis Alam Terdengar

Editor:  Herman Saleh Harahap
Reporter: Herman Saleh Harahap
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Mersi Silalahi,Masyarakat Adat di Nagori Sihaporas, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, saat menceritakan kisahnya, di Medan, Jumat (19/12/2025).(foto:herman/Nusantaraterkini.co)

Nusantaraterkini.co, MEDAN – Di sebuah ruangan sederhana di Medan, Jumat (19/12/2025), suasana mendadak hening saat seorang perempuan dari Masyarakat Adat di Nagori Sihaporas, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, mulai berkisah. Suaranya bergetar, bukan karena takut, melainkan menahan beban kesedihan yang telah dipendam bertahun-tahun.

​"Hutan di Sihaporas tidak ada lagi. Kami sangat bergantung pada hutan, namun kini hubungan erat itu perlahan terputus," ungkap Mersi Silalahi, masyarakat adat di Nagori Sihaporas, dengan tatapan mata yang dalam dan penuh luka.

Baca Juga : Desak Penutupan Permanen PT TPL, Sekber dan Masyarakat Bakal Kepung Istana 

​Bagi masyarakat Sihaporas, hutan bukan sekadar kumpulan pepohonan. Ia adalah denyut nadi, identitas, dan ruang sakral tempat mereka berkomunikasi dengan leluhur. Hilangnya hutan berarti hilangnya akses terhadap ramuan tradisional yang menjadi bagian tak terpisahkan dari tujuh ritual adat mereka.

Mersi juga mengungkap derita warga saat lahan perkebunan mereka yang rusak atau bahkan sengaja dirusak pihak perusahaan, dengan tujuan agar mereka meninggalkan lahan mereka. Bahkan, katanya tidak jarang tanaman mereka dirusak saat sudah siap panen. "Mereka merampasnya, kami tidak jadi panen, dan siapa yang menanggung kerugian itu?" tanya dia.

 

Saat ini, katanya, hidupnya dan masyarakat adat di Nagori Sihaporas kian memprihatinkan. Sebab, lahan yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka sudah tidak lagi ramah buat mereka, sudah tidak lagi memberi hasil seperti yang seharusnya.

"Kami sekarang ini hidup dari bantuan para suster para pendeta, pastor dan orang-orang yang peduli. Terima kasih buat yang peduli kami. Sebenarnya kami tidak ingin berharap belas kasih seperti ini, kami ingin hutan dilestarikan kembali, agar kami bisa hidup harmonis dan mendapat manfaat dari hutan untuk kehidupan kami," harapnya.

Baca Juga : Penghentian Operasional Toba Pulp Lestari: Langkah Pemerintah Antisipasi Banjir dan Longsor 

​Kesedihan ini kian memuncak seiring rentetan bencana ekologis yang melanda wilayah Tapanuli Raya. Banjir bandang yang menghantam Tapanuli Selatan (Tapsel), Tapanuli Tengah (Tapteng), hingga Tapanuli Utara baru-baru ini dianggap sebagai "tangisan alam" yang sudah tidak sanggup menanggung kerusakan.

​"Sekarang sudah terdengar suara tangisan dari alam," ucapnya lirih.

Ia merujuk pada maraknya informasi di media sosial yang menghubungkan bencana banjir tersebut dengan aktivitas perusahaan Toba Pulp Lestari (TPL).

Baginya, bencana tersebut adalah bukti nyata bahwa keseimbangan antara manusia dan alam telah hancur. Tanpa hutan yang sehat, air bersih yang dulu melimpah kini menjadi barang yang sulit didapat.

​Ketidakmampuan untuk melestarikan alam karena dominasi korporasi membuat masyarakat adat merasa terasing di tanah mereka sendiri. Dengan penuh ketegasan yang dibalut rasa sedih, mereka melayangkan desakan kepada pemangku kebijakan tertinggi di negeri ini.

​"Kami ingin menyuarakan kepada Bapak Presiden, kepada Bapak Gubernur, agar secepatnya TPL ditutup secara permanen," tegasnya.

​Tuntutan ini bukan sekadar urusan ekonomi, melainkan perjuangan untuk bertahan hidup. Mereka mendambakan kembali hidup selaras dengan alam, di mana air bersih mengalir dari hutan yang rimbun dan ritual adat dapat dijalankan tanpa rasa was-was.

Baca Juga : Gubernur Sumut Bobby Nasution Keluarkan Rekomendasi Penutupan PT Toba Pulp Lestari Setelah Rapat Maraton 

​Kini, masyarakat Sihaporas hanya bisa berharap agar suara mereka tidak sekadar lewat ditiup angin. Mereka ingin kepastian agar anak cucu mereka tidak hanya mewarisi bencana, tetapi juga keasrian hutan yang pernah menjadi kebanggaan leluhur mereka.

(Emn/Nusantaraterkini.co)