Nusantaraterkini.co, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil parkir di zona hijau pada perdagangan Kamis (26/6), meskipun secara mingguan masih berada dalam tren pelemahan.
BACA JUGA; IHSG Lanjutkan Penguatan 24,18 Poin ke Level 6.856,32 di Perdagangan Kamis (26/6/2025) Pagi Ini
Pada penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG menguat sebesar 0,96% ke level 6.897,40.
Namun, IHSG dalam sepekan terakhir, indeks masih mencatatkan penurunan sebesar 1,02%.
Volume perdagangan saham tercatat sebanyak 21,02 miliar saham dengan total nilai transaksi Rp 14,74 triliun.
Sebanyak 357 saham menguat, 247 saham melemah, dan 200 saham stagnan.
Direktur PT Kanaka Hita Solvera, Daniel Agustinus, menjelaskan bahwa pelemahan IHSG dalam sepekan terakhir didorong oleh sentimen eksternal, terutama konflik antara Israel dan Iran yang mendorong harga minyak melonjak tajam.
"Kenaikan harga minyak memunculkan kekhawatiran terhadap potensi pelebaran defisit APBN Indonesia," jelas Daniel.
Selain itu, sinyal dari The Fed yang masih enggan memangkas suku bunga dalam waktu dekat turut membuat pasar negara berkembang (emerging markets) kurang menarik bagi investor global.
Sementara itu, Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana melihat bahwa tekanan jual masih mendominasi pergerakan IHSG dalam sepekan terakhir.
Namun, secara teknikal, IHSG masih tertahan oleh garis rata-rata bergerak 20 hari (MA20).
"Konflik Timur Tengah yang mulai mereda, serta pelemahan nilai tukar dolar AS, memberi sedikit sentimen positif bagi rupiah dan IHSG," ungkap Herditya.
Ia menambahkan, harga komoditas seperti minyak mentah dan emas juga mulai menurun seiring meredanya ketegangan geopolitik.
Proyeksi IHSG Awal Pekan
Untuk perdagangan awal pekan, Senin (30/6), Daniel memperkirakan IHSG akan bergerak di kisaran 6.800 – 6.950. Ia merekomendasikan saham:
JPFA dengan target jangka pendek Rp 1.600 per saham
ANTM dengan target Rp 3.100 per saham
Sementara itu, Herditya memperkirakan IHSG berpeluang menguat terbatas, dengan support di level 6.833 dan resistance 6.881.
Ia menyarankan investor mencermati perkembangan berikut: Situasi geopolitik di Timur Tengah, rilis data manufaktur China, dan tren harga komoditas global, terutama minyak dan emas.
Adapun rekomendasi saham dari Herditya untuk awal pekan meliputi:
JPFA di kisaran Rp 1.535 – Rp 1.605
ULTJ di kisaran Rp 1.395 – Rp 1.475
INCO di kisaran Rp 3.380 – Rp 3.490.
(wiwin/nusantaraterkini.co)
