Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

IHSG Diperkirakan Uji Area 8.430–8.500, Investor Menanti Rebound Awal Tahun

Editor:  hendra
Reporter: Hendra Mulya
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Sejumlah pengunjung di dalam ruangan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa, (8/4/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih bergerak terbatas dalam jangka pendek pada awal pekan ini, Senin (29/12/2025). Pada perdagangan terakhir sebelum libur panjang, Rabu (24/12/2025), IHSG ditutup melemah 0,55 persen ke level 8.537,9.

Analis Phintraco Sekuritas menilai, kondisi pasar global relatif kondusif setelah indeks-indeks utama Wall Street mengakhiri pekan lalu di zona hijau. Penguatan bursa AS didorong oleh kinerja positif saham sektor keuangan dan industri yang secara musiman kerap mencatat performa solid menjelang akhir tahun.

Optimisme pelaku pasar juga ditopang ekspektasi berlanjutnya dampak positif kebijakan pajak yang disahkan pada Juli lalu, serta proyeksi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve hingga 2026.

Baca Juga : IHSG Masih Rentan Terkoreksi, Pergerakan Diprediksi Tertahan di Bawah 8.000

Dari pasar komoditas, pergerakan harga masih bervariasi. Harga minyak mentah tertekan seiring sinyal kemajuan dalam perundingan perdamaian Rusia dan Ukraina. Sebaliknya, emas justru kembali mencetak rekor tertinggi baru di kisaran USD 4.530 per troy ounce, didorong meningkatnya minat investor terhadap aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global.

Memasuki pekan terakhir perdagangan tahun ini, pasar saham turut diwarnai ekspektasi penguatan musiman. Investor mulai mengantisipasi potensi terjadinya Santa Claus rally yang secara historis berlangsung pada lima hari perdagangan terakhir tahun berjalan dan dua hari pertama tahun berikutnya.

“Pada pekan ini, investor mengantisipasi potensi Santa Claus rally yang kerap muncul menjelang pergantian tahun,” tulis Phintraco Sekuritas dalam riset terbarunya.

Baca Juga : IHSG Masih Tertekan Sentimen MSCI, Simak Strategi dan Rekomendasi Saham Senin 2 Februari 2026

Meski demikian, arah kebijakan moneter The Fed untuk 2026 masih menjadi fokus utama investor global. Tekanan pada saham-saham teknologi di Wall Street akibat kekhawatiran valuasi yang relatif mahal masih membayangi pasar. Namun, sektor-sektor dengan valuasi lebih moderat dinilai berpeluang menjadi penopang pergerakan indeks.

Dari dalam negeri, pelaku pasar akan mencermati rilis data indeks manufaktur (PMI) dan inflasi Desember yang dijadwalkan keluar pekan ini. Kedua indikator tersebut dinilai krusial untuk membaca arah pemulihan ekonomi serta ruang kebijakan moneter ke depan.

Secara teknikal, IHSG masih berada dalam tekanan. Indeks tercatat bergerak di bawah MA5 dan MA20, disertai histogram MACD yang semakin melebar di area negatif. Stochastic RSI memang berada di zona jenuh jual, namun belum memberikan sinyal pembalikan arah yang kuat.

Baca Juga : IHSG Berpotensi Lanjutkan Koreksi, Enam Saham Ini Justru Jadi Incaran

“Dengan kondisi tersebut, IHSG diperkirakan berpotensi menguji area support 8.430–8.500 dalam jangka pendek,” jelas Phintraco.

Meski ruang koreksi masih terbuka, peluang pemantulan teknikal tetap ada, terutama memasuki awal tahun. Sentimen awal tahun dan posisi IHSG yang sudah berada di area oversold dinilai dapat menjadi katalis terjadinya technical rebound.

Untuk perdagangan pekan ini, Phintraco Sekuritas merekomendasikan saham AUTO, TKIM, AVIA, DOID, ASII, dan BTPS sebagai pilihan yang dinilai menarik di tengah volatilitas pasar.

Baca Juga : IHSG Bergejolak, Strategi Time Trading Astronacci Jadi Penopang Trader di Tengah Crash

(Dra/nusantaraterkini.co)