Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

IHSG Dibuka Menguat 0,4% ke 8.646, Didukung Pelemahan Dolar AS

IHSG dibuka menguat ke 8.646 di tengah pelemahan dolar AS dan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed. Pemerintah siapkan insentif bagi investor

Sejumlah pengunjung di dalam ruangan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa, (8/4/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Sejumlah pengunjung di dalam ruangan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa, (8/4/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan () kembali mengawali perdagangan di zona positif pada Kamis (4/12/2025). Di sesi pembukaan, IHSG naik 34,86 poin atau 0,4% ke posisi 8.646,65.

Sebanyak 271 saham langsung bergerak menghijau, sementara 67 tercatat melemah dan 618 lainnya masih stagnan. Total nilai transaksi mencapai Rp373,2 miliar dengan volume 737,5 juta saham yang berpindah tangan dalam 71.130 transaksi.

Pada perdagangan hari ini, pelaku pasar diperkirakan mencermati sejumlah rilis data global di tengah melemahnya indeks dolar AS serta sinyal pendinginan sektor tenaga kerja Amerika Serikat.

Indeks dolar (DXY) pada perdagangan Rabu (3/12/2025) terpantau melemah cukup dalam dan sempat menyentuh 98,932—level terendah sejak akhir Oktober 2025 menurut data Refinitiv. Pelemahan tersebut dipicu meningkatnya ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan menurunkan suku bunga pada pertemuan FOMC 10 Desember mendatang. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang pemangkasan sebesar 25 bps kini mencapai 88%, melonjak tajam dibanding pekan sebelumnya.

Dari dalam negeri, sentimen masih cenderung terbatas. Meski demikian, stabilitas rupiah dan ketahanan memberi ruang bagi pasar keuangan Indonesia untuk bergerak positif.

Di sisi lain, Menteri Keuangan menegaskan komitmen pemerintah dalam mendorong tumbuhnya melalui pemberian insentif fiskal. Namun, sebelum implementasi kebijakan tersebut, ia meminta Otoritas Jasa Keuangan () dan Bursa Efek Indonesia () memperkuat pengawasan terhadap praktik penggorengan saham.

Purbaya memberi waktu enam bulan bagi otoritas pasar modal untuk menunjukkan langkah penindakan nyata terhadap pelaku manipulasi harga. Ia menegaskan bahwa pemerintah ingin melihat sanksi konkret sebelum mengeluarkan insentif apa pun.

“Enam bulan nanti kita lihat, lengkap atau tidak. Ada yang diberikan sanksi atau tidak. Kalau ada action yang tegas terhadap penggoreng saham, baru pemerintah akan memberikan insentif kepada investor,” ujar Purbaya dalam Financial Forum 2025 yang digelar CNBC Indonesia di Main Hall , Rabu (3/12/2025).

(Dra/nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru