Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Pasar saham Indonesia kembali menunjukkan taringnya. Setelah sempat bergerak fluktuatif, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka peluang melanjutkan reli dan menguji area psikologis 8.500 pada perdagangan Selasa (24/2/2026).
Penutupan sebelumnya menjadi sinyal penting. Indeks tidak hanya naik secara teknikal, tetapi juga ditopang kombinasi sentimen domestik dan global yang relatif kondusif. Di tengah isu tarif Amerika Serikat yang masih bergulir, pasar domestik justru terlihat lebih resilien.
Pertanyaannya: apakah ini awal fase kenaikan baru atau hanya jeda sebelum konsolidasi?
Baca Juga : IHSG Dibuka Menguat ke 8.318, Sentimen Global dan Aksi Asing Jadi Penopang
IHSG Ditutup Naik 1,5%, Momentum Masih Terjaga
Indeks Harga Saham Gabungan ditutup menguat 1,5% ke level 8.396 pada perdagangan Senin (23/2/2026). Secara teknikal, posisi ini membuka peluang lanjutan kenaikan menuju area 8.450 hingga 8.500.
Level 8.400 kini menjadi area krusial. Selama indeks mampu bertahan di atas zona tersebut, peluang penguatan lanjutan tetap terbuka lebar.
Baca Juga : IHSG Melejit 1% ke 8.334, Sektor Basic Pimpin Penguatan – Intip Rekomendasi Saham Hari Ini
Beberapa indikator teknikal menunjukkan bias positif:
IHSG bergerak di atas MA20
MACD berada di zona positif
Baca Juga : IHSG Bersiap Uji 8.400, Sektor Energi Jadi Motor Penguatan Pasar
Volume beli relatif solid
Meski demikian, Stochastic RSI mulai mendekati area overbought. Artinya, potensi konsolidasi jangka pendek tetap perlu diantisipasi.
Sentimen Global: Tarif AS Masih Jadi Bayang-bayang
Baca Juga : Pasar Menanti Data PDB, IHSG Berpeluang Menguat Terbatas
Pasar global sempat merespons keputusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan kebijakan tarif resiprokal yang sebelumnya digaungkan oleh Donald Trump.
Namun, pernyataan lanjutan mengenai potensi tarif global baru sebesar 10–15% membuat pelaku pasar tetap waspada.
Secara historis, kebijakan tarif AS sering memicu:
Arus keluar modal dari emerging markets
Pelemahan mata uang regional
Lonjakan volatilitas indeks saham
Kali ini, reaksi pasar Indonesia relatif lebih stabil. Investor domestik tampak lebih percaya diri, sementara tekanan eksternal belum menunjukkan eskalasi signifikan.
Rupiah Menguat dan Likuiditas Bertambah
Dari sisi domestik, penguatan rupiah ke level Rp16.802 per dolar AS menjadi katalis tambahan. Stabilitas nilai tukar membantu:
Mengurangi tekanan emiten berbasis impor
Menjaga stabilitas arus modal
Meningkatkan kepercayaan investor asing
Tak hanya itu, pertumbuhan uang beredar luas (M2) pada Januari 2026 mencapai 10% secara tahunan, naik dari 9,6% pada Desember 2025.
Likuiditas yang membaik sering kali menjadi bahan bakar reli pasar saham, karena dana yang tersedia dalam sistem keuangan meningkat dan berpotensi mengalir ke instrumen investasi.
Faktor MSCI dan Potensi Capital Inflow
Pelaku pasar juga mencermati proposal yang diajukan BEI dan OJK kepada MSCI.
Setiap evaluasi atau perubahan kebijakan indeks MSCI berpotensi memicu pergerakan dana investasi global. Jika responsnya positif, peluang tambahan arus modal asing ke pasar saham Indonesia semakin terbuka.
Capital inflow inilah yang bisa menjadi penggerak lanjutan menuju level psikologis berikutnya.
Dengan IHSG yang masih berada dalam momentum penguatan, sejumlah saham menarik dicermati untuk strategi jangka pendek:
Bank Rakyat Indonesia (BBRI)
Barito Pacific (BRPT)
Unilever Indonesia (UNVR)
ESSA Industries Indonesia (ESSA)
Timah (TINS)
Rekomendasi tersebut berbasis momentum teknikal dan sentimen sektoral. Namun, tetap sesuaikan dengan profil risiko masing-masing.
Risiko Tetap Ada, Disiplin Jadi Kunci
Walau peluang penguatan terbuka, pasar tidak pernah bergerak dalam satu arah secara permanen. Jika IHSG gagal bertahan di atas 8.400 atau muncul sentimen negatif global, koreksi sehat bisa terjadi sebelum tren naik berlanjut.
Skenario ideal:
Indeks stabil di atas 8.400
Volume transaksi konsisten tinggi
Tidak ada tekanan eksternal signifikan
Momentum ada, tapi manajemen risiko tetap wajib dijaga.
Apakah IHSG siap menembus 8.500 dalam waktu dekat? Jawabannya kini bergantung pada kekuatan bertahan di atas level psikologis kunci tersebut.
(Dra/nusantaraterkini.co).
