Nusantaraterkini.co, Jakarta - Pada perdagangan Selasa (8/7/2025) harga minyak mentah turun setelah naik hampir 2% di sesi sebelumnya.
Investor kini mencermati perkembangan terbaru terkait tarif impor Amerika Serikat dan keputusan OPEC+ untuk menaikkan produksi lebih tinggi dari perkiraan pada Agustus.
Melansir Reuters, harga minyak mentah Brent turun 21 sen ke level US$69,37 per barel pada pukul 00.41 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 24 sen ke US$67,69 per barel.
Baca Juga : Harga Minyak Mentah Terkoreksi Dipicu Pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Volodymyr Zelenskiy
Presiden AS Donald Trump pada Senin (7/7) mulai menyampaikan secara resmi kepada mitra dagangnya, termasuk pemasok besar seperti Korea Selatan dan Jepang serta eksportir kecil seperti Serbia, Thailand, dan Tunisia.
Tarif impor AS akan dinaikkan secara signifikan mulai 1 Agustus. Kebijakan ini menandai fase baru dari perang dagang yang dimulai awal tahun ini.
Peningkatan tarif ini menimbulkan ketidakpastian di pasar dan kekhawatiran bahwa dampaknya dapat menekan ekonomi global serta permintaan energi, termasuk minyak.
Baca Juga : Harga Minyak Mentah Turun Hampir US$1
Meski demikian, terdapat tanda-tanda bahwa permintaan minyak saat ini tetap kuat, terutama di AS yang merupakan konsumen minyak terbesar dunia.
Data dari asosiasi perjalanan AAA menunjukkan, rekor 72,2 juta warga AS diperkirakan melakukan perjalanan lebih dari 80 kilometer selama libur Hari Kemerdekaan 4 Juli, mendukung stabilitas harga minyak.
Sentimen pasar juga terlihat masih cukup optimistis. Data dari U.S. Commodity Futures Trading Commission menunjukkan bahwa manajer investasi meningkatkan posisi beli bersih mereka dalam kontrak berjangka dan opsi minyak mentah hingga pekan yang berakhir 1 Juli.
Dari sisi pasokan, kelompok negara produsen minyak OPEC+ pada Sabtu lalu sepakat menaikkan produksi sebesar 548.000 barel per hari (bph) mulai Agustus melampaui kenaikan 411.000 bph yang dilakukan dalam tiga bulan sebelumnya.
Keputusan ini secara efektif menghapus hampir seluruh pengurangan sukarela sebesar 2,2 juta bph yang dilakukan delapan negara anggota OPEC.
Analis Goldman Sachs memperkirakan, OPEC+ akan mengumumkan tambahan kenaikan produksi sebesar 550.000 bph untuk September dalam pertemuan berikutnya pada 3 Agustus.
Meski demikian, realisasi kenaikan produksi selama ini cenderung lebih kecil dari jumlah yang diumumkan, dan sebagian besar pasokan tambahan berasal dari Arab Saudi, menurut analis pasar.
(wiwin/nusantaraterkini.co)
