Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Harga Cabai Anjlok, Petani dan Pedagang Sumut Terpuruk Akibat Pasokan dari Jawa

Editor:  Feriansyah Nasution
Reporter: Elvirida Lady Angel Purba
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Pedagang Cabai di MMTC Medan, Selasa (29/10/2024). (Foto: Elvirida Lady Angel Purba/Nusantaraterkini.co)

Nusantaraterkini.co, MEDAN - Harga cabai merah di Sumatera Utara mengalami penurunan drastis pada awal pekan ini, dengan harga berkisar antara Rp17.000 hingga Rp22.000 per kilogram di berbagai wilayah, termasuk di Pasar Raya MMTC Medan.

Harga yang sempat mencapai Rp40.000 per kilogram kini anjlok, menyebabkan kerugian besar bagi petani dan pedagang yang mengandalkan stabilitas harga cabai.

Dalam wawancara melalui WhatsApp, Pengamat Ekonomi, Gunawan Benjamin, menjelaskan bahwa penurunan ini disebabkan oleh disparitas harga cabai yang signifikan antara Sumatera Utara dan Jawa Timur. 

Baca Juga : Harga Emas Spot Bertahan Mendekati Level Tertinggi Dalam Lima Minggu

“Harga cabai merah keriting di Sumatera Utara per 23 Oktober berada di angka Rp38.350 per kilogram, sementara di Jawa Timur hanya sekitar Rp18.550 per kilogram. Selisih harga ini mendorong pedagang untuk memasok cabai dari luar wilayah, yang pada akhirnya membuat harga cabai lokal ikut jatuh,” ujar Gunawan.

Gunawan menambahkan bahwa penurunan harga cabai merah ini telah diprediksi sebelumnya, karena tren disparitas harga yang terlalu besar cenderung memicu penurunan di wilayah dengan harga yang lebih tinggi. 

"Petani jelas dirugikan dalam kondisi seperti ini karena harga jual berada di bawah HPP (harga pokok produksi)," jelasnya.

Baca Juga : Hari Indonesia-Mesir 2025, Promosikan Produk Unggulan Indonesia di Pasar Mesir

Sementara itu, di Pasar MMTC Medan, para pedagang turut merasakan dampaknya. Dalam wawancara di pasar, seorang pedagang cabai bernama Ramli mengungkapkan keprihatinannya terhadap situasi saat ini. 

"Harga yang turun ini membuat kami kesulitan. Biasanya bisa jual di atas Rp25. 000, tapi sekarang sudah sulit mendapatkan untung. Pembeli pun masih menawar harga, meski sudah murah," keluh Ramli.

Pedagang lainnya, Nurhayati, menyampaikan bahwa stok cabai lokal kini semakin sulit dijual dengan harga layak. 

Baca Juga : Harga Emas Antam Naik Rp10.000 ke Level Rp1.213.000

“Setiap kali ada cabai dari Jawa masuk, otomatis harga cabai lokal turun. Sebenarnya ini merugikan kami juga, karena kami biasa ambil dari petani lokal. Kalau harga anjlok, mereka bisa beralih tanam ke tanaman lain, dan akhirnya nanti stok kita pun akan ikut berkurang,” ungkap Nurhayati.

Di sisi lain, Nusantaraterkini melaporkan bahwa harga komoditas pangan lainnya di Pasar MMTC Medan menunjukkan tren bervariasi. Harga tomat, misalnya, mengalami kenaikan signifikan dari Rp8.000 menjadi Rp15.000 per kilogram, diduga akibat cuaca buruk yang mempengaruhi hasil panen. 

“Tomat saat ini memang sulit didapatkan, jadi wajar harga naik. Cuaca tak menentu membuat panen gagal,” jelas Tania, seorang pedagang tomat di pasar tersebut.

Baca Juga : IHSG Parkir di Zona Hijau Tapi Mencatatkan Penurunan Sebesar 1,02% Dalam Sepekan

Data Badan Pangan Nasional (Bapanas) per 29 Oktober juga menunjukkan adanya penurunan harga cabai merah keriting secara nasional menjadi Rp29.730 per kilogram, dengan harga cabai rawit merah berada di Rp41.900 per kilogram. Di sisi lain, bawang merah dan bawang putih mengalami sedikit kenaikan harga.

Gunawan Benjamin menambahkan bahwa meskipun penurunan harga cabai merah meringankan beban konsumen, situasi ini menimbulkan dampak jangka panjang bagi para petani dan pedagang lokal. 

“Jika situasi ini terus berlangsung tanpa intervensi, para petani bisa saja enggan menanam cabai karena merugi, yang nantinya bisa berujung pada kelangkaan dan kenaikan harga yang tinggi,” ujarnya. 

Baca Juga : Danantara Mitra Kerja Komisi VI dan XI, Legislator Minta Percepat Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

Dengan kondisi harga yang tidak stabil, banyak pihak berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk menjaga keseimbangan pasar dan mendukung kesejahteraan petani serta pedagang.

(cw9/nusantaraterkini.co) 

Baca Juga : TPL Kolaborasi dengan IBCWE Dukung Pemberdayaan Perempuan di Sektor Bisnis dan Industri