Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Dapur Mati di Tanah Serambi, Cerita Warga Aceh Berburu Gas Elpiji

Editor:  Akbar
Reporter: Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Masyarakat Kota Banda Aceh mengantre untuk mendapatkan gas elpiji di satu pangkalan gas yang berada di Jalan Sudirman, Kota Banda Aceh, Kamis (18/12/2025). (Montase Nusantaraterkini.co)

Nusantaraterkini.co, BANDA ACEHDi bawah terik matahari Jalan Sudirman, Banda Aceh, puluhan warga berdiri sabar sambil menggenggam tabung gas kosong.

Wajah lelah itu menyimpan satu harapan sederhana yakni, membawa pulang gas elpiji untuk memasak hari ini. Namun, harapan itu sering kali harus kandas, meski mereka telah mengantre sejak kemarin.

Pascabanjir yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Aceh, kehidupan warga belum sepenuhnya pulih. Air memang telah surut, tetapi dampaknya masih mengalir deras dalam keseharian masyarakat.

Salah satunya adalah kelangkaan gas elpiji yang hingga kini belum juga teratasi.

“Dari kemarin, sudah mengantre sampai sekarang. Kami gak tahu lagi mau cari gas di mana,” ucap seorang warga dengan suara lirih di salah satu pangkalan gas di Banda Aceh. Tabung gas di tangannya menjadi saksi betapa kebutuhan paling dasar pun kini harus diperjuangkan.

Baca Juga : Gempa Tektonik M 4.6 Guncang Laut Barat Daya Sabang, Getaran Terasa di Banda Aceh hingga Pidie Jaya

Baca Juga : Pemerintah Diminta Percepatan Rekonstruksi Jembatan Jalan Nasional Ambruk Banda Aceh-Medan Pasca Banjir Bandang

Antrean panjang hampir terjadi di setiap pangkalan gas di Kota Banda Aceh. Warga rela menunggu berhari-hari, meninggalkan pekerjaan dan aktivitas rumah tangga, demi memastikan dapur tetap mengepul. Bagi sebagian keluarga, gas elpiji kini terasa seperti barang mewah yang sulit dijangkau.

Kondisi ini diperparah dengan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM). Iwan Wahyudi, warga Kota Banda Aceh, mengungkapkan bahwa antrean tidak hanya terjadi di pangkalan gas, tetapi juga di hampir seluruh SPBU.

“Sudah berhari masyarakat antre untuk mendapatkan gas elpiji bang,” kata Iwan kepada nusantaraterkini.co, Kamis (18/12/2025).

Ia menyebutkan, sekitar 15 hingga 20 SPBU yang ada di Banda Aceh, hampir semuanya dipadati antrean kendaraan. Situasi ini membuat mobilitas warga terganggu dan roda perekonomian melambat.

Menurut Iwan, kelangkaan gas elpiji dan BBM telah berlangsung sejak hari pertama bencana banjir melanda Aceh, hampir sebulan lalu. Hingga kini, solusi konkret belum benar-benar dirasakan masyarakat.

Baca Juga : Jalan Tol Sigli - Banda Aceh Dibuka Secara Fungsional

Baca Juga : Antrean BBM di Banda Aceh Mengular Pascabanjir Melanda

“Belum bisa terselesaikan. Masyarakat tetap mengantre untuk bisa mendapatkan minyak untuk kendaraan dan gas elpiji,” ujarnya.

Lebih dari sekadar antrean, kondisi ini berdampak pada lonjakan harga kebutuhan pokok. Bagi warga Banda Aceh, hari-hari pascabanjir menjadi masa penuh ketidakpastian. Harga mahal dan barang sulit didapat menjadi cerita yang terus berulang di tengah upaya bangkit dari bencana.

“Intinya, semua kebutuhan pokok di Banda Aceh mahal dan sulit,” tutup Iwan.

Di tengah antrean yang tak kunjung usai, warga Aceh kembali diuji. Bukan oleh derasnya banjir, melainkan oleh kesabaran menghadapi krisis kebutuhan hidup.

(Akb/nusantaraterkini.co)