DPR Desak Pemerintah Perketat Pengawasan Air Keras Usai Maraknya Teror Penyiraman
DPR kritik lemahnya kontrol air keras yang picu aksi teror. Pemerintah didesak perketat izin jual beli online
Nusantaraterkini.co, JAKARTA — DPR mendesak pemerintah untuk segera menertibkan peredaran air keras yang dinilai semakin tak terkendali dan berbahaya bagi publik.
Anggota Komisi III DPR Abdullah menilai negara abai dalam mengawasi distribusi bahan kimia korosif yang kini kerap disalahgunakan sebagai alat kekerasan.
“Penggunaan air keras sebagai alat teror sangat meresahkan. Negara tidak boleh diam ketika bahan ini dengan mudah berubah menjadi senjata untuk melukai warga, bahkan berpotensi mengarah pada percobaan pembunuhan,” tegasnya, Senin (6/4/2026).
Pernyataan ini merespons rentetan kasus penyiraman air keras yang terus berulang. Salah satu yang terbaru menimpa Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, yang diserang di Jakarta Pusat pada Maret lalu hingga mengalami luka bakar serius.
Insiden serupa juga terjadi di Bangka Selatan dan Kabupaten Bekasi, menambah daftar panjang korban akibat lemahnya pengendalian bahan berbahaya.
Pria yang akrab disapa Gus Abduh ini menilai, akar persoalan terletak pada longgarnya pengawasan negara. Air keras, seperti asam sulfat, asam klorida, hingga natrium hidroksida, masih bebas dijual di toko material dengan harga terjangkau tanpa kontrol memadai.
“Kemudahan akses ini adalah celah kejahatan. Negara seharusnya hadir, bukan sekadar membuat aturan, tapi memastikan pengawasan berjalan ketat di lapangan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti inkonsistensi pemerintah dalam menegakkan regulasi yang sebenarnya sudah ada, yakni Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 7 Tahun 2022 tentang pengawasan bahan berbahaya. Menurutnya, aturan tersebut kerap mandek di level administratif tanpa implementasi yang tegas.
“Kalau regulasi hanya berhenti di atas kertas, maka negara gagal melindungi warganya. Penindakan harus nyata, bukan sekadar formalitas,” kritiknya.
Tak hanya di jalur konvensional, DPR juga menilai pemerintah kecolongan dalam mengawasi penjualan air keras di platform daring. Minimnya verifikasi dan kontrol di ruang digital dinilai membuka jalur baru distribusi bebas bahan berbahaya.
“Pengawasan tidak boleh setengah-setengah. Pemerintah harus menutup semua celah, termasuk di platform online. Tanpa itu, kejahatan akan terus menemukan ruang,” pungkasnya.
(LS/Nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
EKONOMIHarga Emas Antam Turun Rp20 Ribu ke Rp2.545.000 Per Gram Jelang Akhir Pekan
Rozie Winata·32 menit yang lalu -
PERISTIWAKebakaran Hanguskan 9 Rumah di Komplek Griya Pesona Minimalis Medan Marelan
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
-
HUKUM DAN KRIMINALSolidaritas Ojol Desak Kapolri Usut Dugaan Penyadapan Presiden Prabowo
Herman Saleh Harahap·1 jam yang lalu -
NEWSHensa Duga Jokowi Pamer Ijazah untuk Alihkan Isu Penyadapan Prabowo
Herman Saleh Harahap·2 jam yang lalu -
POLITIKBantah Isu Munaslub Golkar, Ahmad Doli Tegaskan Hubungan Baik dengan Bahlil
Herman Saleh Harahap·2 jam yang lalu -
EKONOMIChusnunia Chalim Dorong Penguatan Industri Bahan Baku Pakan Ternak Lokal
Herman Saleh Harahap·2 jam yang lalu -
EKONOMIHarga Pangan Melonjak, Imas Aan Desak Kemendag Segera Lakukan Pengendalian
Herman Saleh Harahap·3 jam yang lalu -
TRAVELPemprov Sumut Ajukan Megalitik Nias Selatan Jadi Warisan Dunia
Herman Saleh Harahap·4 jam yang lalu -
NEWSAnggota DPR Siap Fasilitasi Hak Pekerja Korban Kecelakaan Kerja PT Daehyun
Herman Saleh Harahap·4 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan