Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Dilema Petugas BPBD Aceh Tamiang, Antara Evakuasi Warga atau Dampingi Istri Lahiran

Editor:  Fadli Tara
Reporter: Muhammad Alfi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!

Nusantaraterkini.co, ACEH TAMIANG - Kisah haru di alami seorang petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Tamiang, ketika tengah sibuk mengefakuasi warga dari banjir bandang.

Dimana, saat tengah sibuk mengefakuasi warga, di saat itu pula sang istri yang tengah hamil anak pertamanya mengalami kontaksi ingin melahirkan.

Baca Juga : Wagub Sumut Paparkan Kondisi Terkini Daerah Terdampak Bencana kepada Komisi VIII DPR RI

Peristiwa mengharukan ini datang dari seorang petugas BPBD Kabupaten Aceh Tamiang, bernama Ismail (30).

Dimana, dirinya yang saat itu tengah bertugas untuk mengefakuasi warga dari banjir bandang, tiba-tiba mendapat kabar jika istrinya yang tengah berada di rumah akan melahirkan anak pertamanya.

Saat itu, pimpinannya di kantor BPBD Aceh Tamiang pun memerintahkannya untuk kembali ke rumah mengefakuasi sang istri.

Namun, langkah nya membawa sang istri ke rumah sakit, harus terhenti akibat terputusnya sejumlah akses dan fasilitas kesehatan yang ada di Kabupaten Aceh Tamiang akibat banjir bandang.

Akibatnya, sang istri pun terpaksa harus bertahan selama tiga hari di posko pengungsian tanpa penanganan medis dan bahan makanan sembari menahan sakit akibat kontaksi yang ia alami.

Baca Juga : VIDEO Pascabanjir Bandang, RSU Cut Meutia Langsa Dipenuhi Pasien Korban Banjir

Ismail sendiri, akhirnya berhasil membawa sang istri ke RSU Cut Muetia Langsa, tiga hari kemudian setelah berusaha menerobos banjir yang saat itu menggenangi ruas jalan lintas penghubung Kabupaten Aceh Tamiang dan Kota Langsa.

Sesampainya di Rumah Sakit, sang istri pun akhirnya harus melahirkan anak pertama mereka dengan cara operasi cesar. Hal ini, akibat sudah mengeringnya air ketuban sang istri yang sebelumnya telah kontraksi selama tiga hari.

Setelah tim media RSU Cut Meutia berhasil melakukan operasi, ternyata anaknya tersebut lahir dengan kondisi kesehatan yang memburih hingga harus mendapat perawatan khsus di ruang Neonatal Intensive Care Unit (Nicu).

"Saat ini anak saya masih mendapat perawatan intensif di ruang Nicu, sebab kondisi kesehatannya memburik setelah dilahirkan," ujarnya, Sabtu (6/12/2025) malam.

Baca Juga : Menteri LHK Perketat Pengawasan PT AR dan NSHE di DAS Batang Toru, Aktivitas Penambangan-Hutan Industri Diidentifikasi Perparah Banjir

Sambung ismail, akibat tidak langsung mendapat penanganan medis saat istrinya mulai mengalami kontraksi, serta tidak adanya logistik makanan di posko pengungsian saat itu, mengabitkan sang anak kekurangan gizi.

"Kalau kata dokter karna air ketuban istri saya saat itu sudah mengering, serta kekurangan gizi lantaran beberapa hari tidak lagi makan selama di pengungsian. Sehingga, hal itu yang membuat kondisi kesehatan anak saya memburuk," jelasnya sembari meneteskan air mata.

Sementara itu, Ismail pun berharap kondisi kesehatan anak serta istrinya dapat segera pulih kembali.

"Saya hanya berharap anak saya bisa sehat, sebab kondisinya kesehatannya saat ini masih harus mendapat perawatan intensif di ruang Nicu," harapnya.

Di sisi lain, Ismail pun merasa kebinguan setelah anak dan istrinya nanti kembali sehat dan dapat keluar dari rumah sakit.

Baca Juga : Menteri LH Setop Operasional Tambang, Perkebunan Sawit, dan PLTA di Batang Toru: Audit Lingkungan Wajib Dilakukan

Sebab, saat ini seluruh rumah dan harta benda yang ia miliki telah hilang akibat di terjang banjir bandang yang terjadi di Kabupaten Aceh Tamiang pada, Rabu (26/11/2025) lalu.

"Setelah ini pun saya gak tau mau bawa kemana anak dan istri saya, sebab rumah saya dan rumah orang tua saya juga sudah hancur saat banjir bandang kemari," pungkasnya dengab nada sedih.

(Cw4/Nusantaraterkini.co)