nusantaraterkini.co, MEDAN - Sebuah karya seni yang menyoroti dampak buruk kehadiran perusahaan kelapa sawit terhadap kehidupan masyarakat Indonesia dipamerkan pada hari pertama Jong Bataks Arts Festival ke-12, yang digelar di Taman Budaya Kota Medan, Sabtu (18/10/2025). Festival ini akan berlangsung selama 11 hari hingga 28 Oktober 2025 mendatang.
Sebuah karya seni yang menceritakan tentang dampak buruk kehadiran perusahaan kelapa sawit di tengah-tengah kehidupan masyarakat Indonesia, diperlihatkan dalam acara Jong Bataks Arts Festival ke 12 di hari pertama acara yang akan berlangsung selama 11 hari, di Taman Budaya kota Medan, Sabtu (18/10/2025) hingga 28 Oktober 2025 mendatang.
Karya tersebut menyerupai hutan tropis yang terganggu oleh aktivitas industri. Ditengah-tengahnya terdapat dua pohon kelapa sawit berbahan plastik berdiri di hamparan tanah hitam yang menggambarkan permukaan bumi. Di sekitarnya, potongan-potongan bahan berbentuk daun hijau dengan warna mencolok menyerupai semak-semak.
Baca Juga : Karya Seni jadi Wadah Bersuara Perupa Keturunan Tionghoa di Indonesia
Lalu, diantara pepohonan dan semak-semak itu, tampak sebuah miniatur alat berat berwarna kuning yang menceritakan tentang aktivitas eksploitasi yang kontras dengan warna-warna hijau di sekelilingnya.
Menariknya, karya ini juga mengeluarkan asap tipis dari bagian dalam instalasi. Efek asap itu menambah kesan kuat tentang suasana kabut pekat yang identik dengan kebakaran hutan di wilayah-wilayah tropis.
Ade, sebagai perwakilan dari seni bernama Non-blok Sikukeluang, di kota Pekanbaru, Riau, menilai jika kehadiran perusahaan kelapa sawit di Indonesia, khususnya di Riau, menjadi masalah terhadap hutan adat.
"Maksudnya, karena kita sering bekerjasama dengan masyarakat adat, nah itu memang menjadikan hutan ulayat, tanah ulayat, dan membuat kebudayaan disekitarnya turut hilang," kata Ade, kepada Nusantaraterkini.co di Medan, Senin (20/10/2025).
Alasan lain dibuatnya karya seni tersebut, karena masalah-masalah serupa terus berulang dari tahun ke tahun. Kata Ade, sejak 2007 hingga tahun 2025 belum juga terselesaikan.
"Jadi selama belasan tahun, terus saja kebakaran, dibakar, dan terus setelah itu tumbuhlah sawit-sawit itu. Meski pada tahun 2014 terjadi penurunan, tetapi hal tersebut tidak serta-merta menghilangkan akibat (masalah) yang terjadi," ungkap Ade.
Kampanye-kampanye atas kondisi tersebut juga sering disuarakan oleh sejumlah lembaga di Riau seperti, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pekanbaru, Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari), dan sejumlah lembaga lainnya.
"Kita selalu bekerja sama dengan membuat kegiatan-kegiatan yang terus mengampanyekan hal tersebut," kata Ade.
Salah satu wujud dari kampanye tersebut, mereka, mengumpulkan limbah berbahan plastik. Cara itu kemudian menjadi salah satu program kerjasama mereka yang bernama Operasi Asoy. Kenapa plastik, alasannya, kata Ade, karena benda-benda tersebut cukup mudah untuk ditemukan.
"Jadi bahan-bahan itu kita kumpulin. Karya ini juga instalasinya dari plastik," ucap Ade.
Dari karya seni yang berjudul Habis Asap Terbitlah Sawit itu juga menyampaikan satu pesan penting terhadap generasi.
"Dari karya ini kita coba untuk menumbuhkan kesadaran-kesadaran lokal itu lebih penting terhadap generasi sekarang untuk masa depan," tutur Ade.
Acara Jong Bataks Arts Festival ke 12 akan berlangsung hingga 28 Oktober 2025 mendatang, di Taman Budaya kota Medan, Jalan Perintis, Kecamatan Medan Timur. Selain karya dari kelompok seni Non Blok Sikuleleng, karya-karya lainnya juga turut diperlihatkan. Pada hari pertama, sejumlah pihak dari pemerintahan Kota Medan turut berhadir.
Kepala Dinas Pariwisata kota Medan, M. Odi Anggia Batubara, menyampaikan jika Walikota Medan, Rico Waas, memberikan apresiasi terhadap acara tersebut. Dari acara itu, kata Rico yang diwakili Odi, merupakan momentum penting untuk menjaga kekayaan seni dan kebudayaan bangsa.
"Wali Kota Medan menyambut baik atas berlangsungnya Jong Bataks Art Festival ke 12. Acara ini menjadi momen penting untuk menjaga kekayaan seni dan budaya yang telah menjadi jati diri bangsa," ucap Odi membacakan pesan tertulis Rico Waas, saat memberikan kata sambutan di agenda pembukaan acara.
Selain pemerintah kota, Direktur Bina Sumber Daya Manusia, Lembaga dan Pranata Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia (RI), Irini Dewi Wanti, juga turut berhadir.
Dia menyebut, tema tahun ini yang mengangkat tentang isu pangan lokal merupakan sebuah isu global yang sangat menarik.
"Acara ini, kalau menurut saya, semakin keren. Dan ini tahun ke 12. Jong Bataks ini secara konsisten melakukan festival yang selalu temanya berbeda-beda," ujar Irini saat diwawancarai di lokasi, pada Sabtu malam.
"Kita tidak hanya berbicara arts bukan hanya tentang kesenian saja. Tapi, bahwa kesenian itu juga punya ekosistem. Dimana kita berbicara tentang ketahanan pangan itu juga berbicara tentang ekosistem," kata Irini.
Dia mengatakan, tema pada festival tahun ini juga menjadi sebuah isu yang juga menjadi agenda prioritas pemerintah pusat.
"Jadi, disitu ada kemajuan kebudayaan yang berkaitan dengan ketahanan pangan. Sekali lagi saya katakan, ini adalah sebuah isu global. Dan bicara tentang ketahanan pangan memang menjadi salah satu prioritas nasional," sambung Irini.
(Cw7/Nusantaraterkini.co)
