Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Aksi Refleksi Kamisan Medan, Nyalakan Lilin Kenang 10 Korban yang Tewas saat Unjuk Rasa

Bentuk mengenang itu dilakukan dengan diam sambil menundukkan kepala. Sekitar 10 menit hening itu berlangsung

Kelompok aktivis dari Aksi Kamisan Medan kembali ke Pos Bloc di Jalan Balai Kota, Kecamatan Medan Barat, pada Kamis (4/9/2025). Mereka menggelar aksi untuk mengenang sepuluh korban tewas yang diduga akibat kekerasan aparat selama gelombang unjuk rasa yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia. (Foto: Junaidin Zai/Nusantaraterkini.co)
Kelompok aktivis dari Aksi Kamisan Medan kembali ke Pos Bloc di Jalan Balai Kota, Kecamatan Medan Barat, pada Kamis (4/9/2025). Mereka menggelar aksi untuk mengenang sepuluh korban tewas yang diduga akibat kekerasan aparat selama gelombang unjuk rasa yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia. (Foto: Junaidin Zai/Nusantaraterkini.co)
A A

Nusantaraterkini.co, MEDAN - Kelompok aktivis dari Aksi Kamisan Medan kembali ke Pos Bloc di Jalan Kesawan, Kecamatan Medan Barat, pada Kamis (4/9/2025).

Mereka menggelar aksi untuk mengenang sepuluh korban tewas yang diduga akibat kekerasan aparat selama gelombang yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia.

Dalam amatan Nusantaraterkini.co sekitar Pukul 19.40 WIB, bentuk mengenang itu dilakukan dengan diam sambil menundukkan kepala. Sekitar 10 menit hening itu berlangsung.

Baca Juga : Aksi Kamisan Medan Refleksikan Kematian Munir dan Korban Kekerasan Unjuk Rasa

Seorang peserta aksi bernama, Gana, mengatakan sepuluh korban tersebut diduga tewas karena mengalami kekerasan dari aparat kepolisian dan yang paling terbaru. Salah satunya adalah Afif Kurniawan yang tewas dilindas oleh mobil rantis Brimob saat yang terjadi di Jakarta Pusat, beberapa waktu yang lalu.

“Gerakan refleksi ini adalah ekspresi kekecewaan kami terhadap pemerintah, karena kematian Munir hingga kini belum pernah tuntas,” kata Gana saat diwawancarai di lokasi, Kamis malam.

Penting untuk diketahui, demonstrasi di berbagai kota di Indonesia memakan korban jiwa. Bentrokan antara personel kepolisian dan massa demo tidak hanya berujung ratusan orang terluka, bahkan tewas. Jumlah korban terus bertambah mulai 28 Agustus hingga 2 September 2025.

Tercatat setidaknya ada 10 korban tewas dalam demo di berbagai kota. Dugaan kekerasan aparat terjadi dalam insiden di Jakarta dan Yogyakarta. 

Selain insiden di Jakarta, kerusuhan di Makassar hingga pembakaran kantor DPRD juga mengakibatkan korban jiwa. Laporan lokal menyatakan kematian warga Solo dan Manokwari diduga akibat gas air mata. 

Berikut daftar korban jiwa yang teridentifikasi:

Septinus Sesa

Iko Juliant Junior

Andika Luthfi Falah

Affan Kurniawan

Syaiful Akbar

Muhammad Akbar Basri

Sarinawati

Rusmadiansyah

Reza Shendy Pratama

Sumari

Dalam pantauan Nusantaraterkini.co, para aktivis mengenakan pakaian serba hitam dan membawa payung hitam yang menjadi simbol gerakan.

Mereka juga menyalakan lilin, memajang foto korban, menyanyikan lagu Gugur Bunga, serta mengheningkan cipta.

“Selama 21 tahun kematian Munir tidak pernah tuntas. Ini bentuk kekecewaan kami terhadap pemerintah,” kata Gana, salah seorang aktivis, saat ditemui di lokasi.

Selain Munir, mereka juga mengenang sembilan korban tewas dalam gelombang unjuk rasa belakangan ini. Para aktivis menyebut kasus tersebut sebagai bukti bahwa Indonesia sedang berada dalam kondisi darurat kekerasan.

Aksi dimulai sekitar pukul 17.50 WIB hingga 19.20 WIB. Selama dua jam lebih, peserta aksi bergantian berorasi. Menjelang malam, lilin-lilin dinyalakan dan suasana hening menyelimuti kawasan Kesawan.

“Dari aksi ini kami berharap pemerintah mendengar aspirasi masyarakat. Karena tidak berjalan, tema aksi kali ini adalah Indonesia Darurat Kekerasan,” ujar Gana.

Baca Juga : VIDEO Aktivis Aksi Kamisan Medan Refleksikan Kematian Munir dan Korban Kekerasan Unjuk Rasa

Latar Belakang Aksi Kamisan

Aksi Kamisan pertama kali dipelopori oleh Maria Catarina Sumarsih, ibu almarhum Bernardus Realino Norma Irmawan (Wawan) yang tewas dalam Tragedi Semanggi I, 1998. Bersama Suciwati, istri Munir, serta Bedjo Untung, penyintas tragedi 1965, Sumarsih rutin menggelar aksi diam di depan Istana Negara sejak 2007.

Simbol pakaian serba hitam dan payung hitam dipilih sebagai lambang duka sekaligus keteguhan memperjuangkan kemanusiaan. Gerakan ini terinspirasi dari Asociación Madres de Plaza de Mayo di Argentina, para ibu korban penghilangan paksa yang sejak 1977 menggelar aksi damai setiap pekan.

(cw7/nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru