Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

10 Tradisi Unik Jelang Ramadan di Indonesia, dari Megengan hingga Dandangan

Editor:  hendra
Reporter: Hendra Mulya
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Tradisi Jelang Ramadan. (Foto: nusantaraterkini.co)

Nusantaraterkini.co, MEDAN – Menyambut datangnya bulan suci Ramadan, masyarakat di berbagai daerah Indonesia memiliki cara khas yang diwariskan turun-temurun. Tradisi-tradisi ini bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi wujud syukur, doa, sekaligus momentum mempererat silaturahmi sebelum memasuki bulan penuh berkah.

Berikut deretan tradisi unik jelang Ramadan yang masih lestari hingga kini:

1. Assuro Maca (Bugis-Makassar)

Baca Juga : Bantah Pengunduran Diri Sri Mulyani, Ini Penjelasan Airlangga Hartarto

Tradisi Assuro Maca hidup di tengah masyarakat Bugis-Makassar sebagai bentuk doa bersama menjelang puasa. Warga berkumpul membaca doa dan menyantap hidangan khas seperti nasi, ayam, dan ikan yang disajikan dalam nampan besar atau kappara’. Biasanya digelar sehari sebelum Ramadan sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.

2. Baratan (Jepara)

Di Jepara, tradisi Baratan digelar saat malam Nisfu Syaban. Warga mengikuti kirab sambil memanjatkan doa agar diberi keselamatan dan kelancaran dalam menjalankan ibadah puasa. Selain sarat makna spiritual, tradisi ini juga memperkuat nilai gotong royong antarwarga.

Baca Juga : MPR: Ketua MA Harus Bisa Menjadi Teladan bagi 'Justice Seeker'

3. Dandangan (Kudus)

Kota Kudus memiliki tradisi Dandangan yang identik dengan pasar malam meriah di sekitar Menara Kudus. Nama Dandangan berasal dari bunyi bedug yang ditabuh sebagai penanda datangnya Ramadan. Tradisi ini memadukan nuansa religius dan perayaan rakyat.

4. Megibung (Bali)

Baca Juga : Gus Miftah: Program Makan Siang Prabowo Serupa dengan Ajaran Nabi Ibrahim

Di Bali, umat Muslim menjalankan tradisi Megibung dengan memasak dan menyantap makanan bersama dalam satu wadah besar. Tradisi ini mempererat kebersamaan keluarga dan komunitas sebelum memasuki bulan puasa.

5. Munggahan (Sunda)

Bagi masyarakat Sunda, Munggahan berarti “naik” atau beranjak menuju fase yang lebih baik. Tradisi ini biasanya diisi dengan makan bersama, membersihkan diri, dan saling meminta maaf kepada keluarga serta kerabat sebagai persiapan batin menyambut Ramadan.

Baca Juga : Dewas KPK: Pungli di Rutan KPK Melibatkan Kepala Rutan hingga Komandan Regu

6. Nyorog (Betawi)

Tradisi Nyorog dilakukan masyarakat Betawi dengan mengantarkan makanan kepada kerabat yang lebih tua. Selain menunjukkan rasa hormat, kebiasaan ini menjadi simbol kuatnya nilai kekeluargaan menjelang puasa.

7. Padusan (Yogyakarta dan Jawa Tengah)

Baca Juga : BPS Bongkar Borok Data Bansos Lama: NIK Ganda hingga Penerima Sudah Meninggal

Padusan dilakukan dengan mandi atau berendam di sumber mata air sebagai simbol penyucian diri. Tradisi ini dipercaya membantu membersihkan jiwa dan raga agar lebih siap menjalani ibadah Ramadan.

8. Tabuh Bedug (Jawa)

Penabuhan bedug di berbagai daerah Pulau Jawa menjadi tanda datangnya bulan puasa. Biasanya dilakukan sehari sebelum Ramadan dan diiringi lantunan sholawat, menciptakan suasana religius yang khidmat.

Baca Juga : Jelang Hari Raya Idul Adha, Permintaan Sapi Belom Mengalami Lonjakan

9. Mandi Pangir (Sumatera Utara)

Tradisi Mandi Pangir atau Marpangir dilakukan dengan menggunakan bahan alami seperti serai, jeruk purut, nilam, dan akar-akaran. Ritual ini melambangkan pembersihan lahir dan batin agar ibadah puasa dijalankan dengan hati yang bersih.

10. Megengan (Jawa Timur)

Di Jawa Timur, masyarakat mengenal tradisi Megengan yang bermakna “menahan diri.” Kegiatan ini diisi dengan ziarah makam leluhur, pembacaan doa, serta kenduri bersama keluarga dan tetangga sebagai bentuk persiapan spiritual menyambut Ramadan.

Beragam tradisi tersebut menunjukkan kekayaan budaya Indonesia dalam menyambut Ramadan. Meski berbeda cara, seluruhnya memiliki tujuan yang sama: memperkuat iman, mempererat persaudaraan, dan menumbuhkan semangat kebersamaan sebelum memasuki bulan suci.

(Dra/nusantaraterkini.co).