Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Tradisi Marsuan Eme di Desa Sikam Samosir Lestarikan Kearifan Lokal

Editor:  Rozie Winata
Reporter: JAS
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Tradisi Marsuan Eme atau menanam padi di Desa Sikam, Kecamatan Sianjur Mula-mula, Kabupaten Samosir. (Foto:JAS/Nusantaraterkini.co)

Nusantaraterkini.co, SAMOSIR - Pemerintah Kabupaten Samosir menggelar kegiatan Marsuan Eme dan lomba menanam padi sebagai upaya untuk melestarikan kearifan lokal.

Kegiatan itu dilaksanakan dengan empat kategori, yakni penyuluh, petani, pelajar dan wisatawan di lahan warga Desa Sikam, Kecamatan Limbong, Kabupaten Samosir, Selasa (24/6/2025).

Baca Juga : Lestarikan Budaya Batak, Masyarakat Samosir Gelar Even Horja Bius dengan Ritual Mangalat Horbo

Dalam Bahasa Batak Toba Marsuan Eme berarti menanam padi. Ini adalah bagian dari tradisi pertanian yang melibatkan gotong royong dalam masyarakat Batak, khususnya dalam menanam padi di sawah (juma atau hauma). 

Baca Juga : MPR Dorong Kemandirian Masyarakat Lewat Pengembangan Kearifan Lokal

Marsuan Eme mencerminkan semangat kebersamaan dan saling membantu dalam masyarakat Batak. Ketika musim tanam padi tiba, seluruh anggota keluarga atau bahkan seluruh warga desa akan bekerja bersama-sama untuk menanam padi di sawah. 

Tradisi Marsuan Eme menunjukkan kearifan lokal masyarakat Batak dalam memanfaatkan sumber daya alam, menjaga kelestarian lingkungan dan menciptakan swasembada pangan. Sistem pertanian tradisional ini juga memperkuat solidaritas sosial dan menjaga keharmonisan dalam masyarakat. 

Baca Juga : Bukan Hanya Manusia yang Menari

Meskipun ada pengaruh globalisasi dan modernisasi, tradisi marsuan eme masih tetap dilestarikan oleh sebagian masyarakat Batak, meskipun mungkin dengan beberapa penyesuaian. 

Baca Juga : Rumah Baca Persada: Pasada Uhur Marbudaya, Ruang Kolaborasi Seni dan Literasi

Marsuam Eme diselenggarakan perdana kalinya di Kabupaten Samosir, gerakan tanam padi merupakan langkah untuk mempertahankan kearifan lokal dan swasembada pangan. Para pemenang lomba juga mendapatkan hadiah, petani mendapatkan pupuk dan 2 unit traktor.

Ketua adat berinisail N mengungkapkan rasa terimakasihnya, atas terselenggaranya tradisi Marsuan Eme yang digelar di Desa Sikam sebagai tuan rumah.

"Kami masyarakat Sikam sangat berterimakasih, Desa Sikam telah menjadi tuan rumah dalam kegiatan Marsuan Eme. Menanam padi merupakan tradisi kita orang Batak, patut dibanggakan dan di lestarikan sampai ke generasi selanjutnya", ujarnya.

Ia juga mengharapkan, Pemerintah juga bisa memperhatikan jalan dan jembatan diujung Desa Sikam untuk segera diperbaiki agar wisatawan meningkat.

"Pemandangan di Desa Sikam luar biasa dan kunjungan wisatawan meningkat setelah jalan diperbaiki, kiranya diujung jalan dan jembatan nya segera di perbaiki agar wisatawan yang berlibur ke Samosir terkhususnya Desa Sikam terus meningkat," harapnya.

Bupati Samosir Vandiko Gultom dalam sambutanya, ia mengatakan tradisi kearifan lokal Marsuan Eme harus tetap dilestarikan dan dibudayakan.

"Kearifan lokal Marsuan Eme harus tetap lah kita lestarikan dan budayakan, jangan sampai tradisi turun temurun hilang akibat perubahan zaman. Masuan Eme atau menanam padi tidak hanya menjadi kearifan lokal, namun menciptakan swasembada pangan serta meningkatkan kunjungan wisatawan ke Kabupaten Samosir," tambahnya.

Vandiko juga mengajak seluruh lapisan masyarakat menjaga tradisi dan untuk menjaga alam dengan tidak membakar hutan dan lahan.

"Mari kita semua untuk menjaga dan melestarikan Marsuam Eme atau menanam padi sebagai bagian dari diri kita, dihimbau untuk seluruh lapisan masyarakat untuk tetap menjaga alam dengan tidak membakar hutan dan lahan terkhusunya saat ini musim kemarau yg rentan terjadi kebakaran," tandasnya.

(Jas/nusantaraterkini.co)