Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Tiga Pekan Berlalu, Bencana Tapteng Sisakan Trauma Bagi Lansia

Editor:  Herman Saleh Harahap
Reporter: Junaidin Zai
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Kondisi sebuah gereja di Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, usai banjir dan longsor menerjang kawasan tersebut. (Foto: Junaidin Zai/Nusantaraterkini.co)

Nusantaraterkini.co, TAPANULI TENGAH - Di sejumlah desa di Kabupaten Tapanuli Tengah, hujan belum lagi kembali menjadi peristiwa biasa. Tiga pekan setelah banjir bandang dan longsor menerjang wilayah ini, bunyi air yang jatuh dari langit masih kerap disambut dengan kewaspadaan. Bagi sebagian warga lanjut usia, hujan adalah isyarat untuk terjaga, bersiap, karena masih trauma.

Bencana yang datang dari hulu pada penghujung November 2025 itu bukan sekadar peristiwa alam. Ia meninggalkan jejak panjang dalam ingatan para penyintas, terutama lansia, yang telah puluhan tahun tinggal di desa-desa sepanjang sungai dan perbukitan.

Tercatat, banjir dan longsor tersebut merenggut 132 jiwa, menghapus beberapa permukiman, merusak ratusan rumah, serta mengubah jalur sungai. Namun di balik angka-angka itu, tersisa pengalaman personal yang belum selesai.

Baca Juga : Tiga Pekan Pascabanjir di Tapteng, Warga Cium Aroma Tak Sedap dari Tumpukan Lumpur 

Di Kecamatan Sorkam, Sari Asi Simanullang (64) menjalani hari-harinya di sebuah gubuk darurat. Sejak rumahnya hanyut diterjang banjir bandang, ia tak lagi memiliki ruang yang benar-benar ia kenal sebagai rumah. Dinding papan tipis dan atap seadanya menjadi perlindungan sementara dari dingin malam.

"Setiap hujan deras kembali turun, rasa cemas selalu muncul. Tidur kerap terpotong. Pikiran selalu  kembali ke malam di akhir November (peristiwa bencana, red," kata Asi, kepada Nusantaraterkini.co, Selasa (22/12/2025).

Sebelum banjir, rumah Asi berdiri tak jauh dari sebuah waduk tua. Tempat itu menjadi ruang berkumpul keluarga besarnya setiap Lebaran. Anak, cucu, dan kerabat dari luar kota selalu pulang. Rutinitas itu berlangsung bertahun-tahun.

Namun pada Selasa dini hari, 25 November 2025, air datang dari arah hulu. Awalnya, kata Asi, air setinggi lutut. Tidak lama berselang, arus menjadi deras dan naik cepat. Dinding rumah tak mampu menahan tekanan. Satu per satu bagian rumah roboh. Perabot dan bahan makanan hanyut.

Stok beras hasil panen Juni silam dari hasil kerja keras yang disisihkan untuk kebutuhan berbulan-bulan telah hilang tanpa sisa. Malam itu, Asi tak sempat menyelamatkan apa pun selain dirinya dan keluarga.

“Saya trauma dengan banjir itu,” ujarnya.

Ia selamat setelah dibantu warga sekitar yang berjibaku melawan arus untuk mengevakuasi sesama. Kepedulian warga menjadi penopang di tengah situasi genting. Namun setelah selamat, rasa aman tak serta-merta kembali.

Tak jauh dari sana, di Desa Sorkam Tengah, Darniwati Pasaribu (56) merasakan dampak yang serupa, meski rumahnya tidak sepenuhnya hilang. Selama lebih dari lima tahun terakhir, ia tinggal berdua dengan suaminya, Sawaluddin Zai. Anak-anak mereka telah lama merantau ke luar kota.

Selepas banjir, Darniwati kerap terbangun di malam hari. Suatu malam, sekitar pukul 22.30 WIB, ia terjaga dan langsung duduk. "Saya masih kepikiran peristiwa itu, kalau hujan, pertanyaan yang muncul apakah air naik lagi?" ungkapnya.

Pertanyaan itu muncul nyaris tanpa sadar. Ia mengatakan, suara hujan atau aliran air kecil saja cukup untuk memicu ingatan pada malam ketika air masuk ke desa. Sejak itu, tidur baginya tak lagi sepenuhnya tenang.

Dari Kecamatan Sorkam, jejak bencana alam berlanjut ke wilayah Barus. Di Desa Ujung Batu, Nasruddin Tanjung (71) kehilangan rumah yang telah ia tempati puluhan tahun. Sejak lama, Nasruddin hidup seorang diri. Rumah kecil itu menjadi satu-satunya tempat berlindung.

Saat ditemui, Nasruddin duduk dengan tatapan kosong. Ia mengingat malam ketika air mulai memasuki rumahnya. Ia berlari ke rumah tetangga dan naik ke atas loteng. Dari sana, ia merasa cukup aman. Air, pikirnya, tak akan setinggi itu.

Perkiraannya meleset. Air terus naik. Arus membawa lumpur dan gelondongan kayu dari hulu. Dari lantai dua rumah tetangganya, Nasruddin menyaksikan rumahnya dihantam dan lenyap di tengah gelap.

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un,” ucapnya mengenang momen itu.

Bagi Nasruddin, kehilangan rumah bukan sekadar kehilangan bangunan. Ia kehilangan ruang hidup yang dibangun bertahun-tahun, sekaligus rasa aman yang menyertainya.

Air bah dari hulu juga menghantam Desa Aloban di Kecamatan Tapian Nauli. Desa yang berada di bawah kawasan Bair itu diterjang banjir dan longsor hampir bersamaan. Empat warga meninggal dunia. Jenazah mereka baru ditemukan dua hari setelah kejadian.

Poibe Hutagalung (64) masih mengingat hari itu dengan jelas. Hujan turun sejak pagi. Saat itu bertepatan dengan musim panen durian. Poibe sempat membeli durian di pusat desa. Ia sama sekali tidak menyangka hujan hari itu akan membawa bencana.

Baca Juga : Kisah Lansia di Bencana Tapteng, Beras untuk Ramadhan Hanyut dan Dua Kali Terseret Arus 

Ketika tiba di rumah, dari teras ia melihat orang-orang berlarian. Awalnya, ia mengira terjadi perkelahian. Tak lama kemudian, kepanikan itu terjawab. Warga berlari menyelamatkan diri dari banjir.

Air datang membawa material kayu dari hulu. Rumah-rumah dihantam. Dinding roboh. Kantor kepala desa rusak parah. Poibe dibantu anak laki-lakinya untuk menyelamatkan diri. Rumahnya dan seluruh isi di dalamnya hilang.

“Apapun tidak ada lagi,” katanya.

Kini, Poibe bersama ratusan warga dari Desa Bair dan Aloban mengungsi di Gereja HKI di Desa Tapian Nauli IV. Sebagian warga memilih tinggal di rumah kerabat. Di pengungsian, bantuan logistik seperti beras, air mineral, dan susu anak terus berdatangan. Namun kebutuhan spesifik kelompok rentan belum sepenuhnya tercukupi.

Camat Tapian Nauli, Harrys Sihombing, mengatakan distribusi kebutuhan dasar telah dilakukan pemerintah. Namun ia mengakui masih ada kekurangan, terutama popok balita dan pembalut.

“Yang paling utama pampers untuk anak-anak. Pembalut juga,” ujarnya. Ia juga menyebut keberadaan penyandang disabilitas di pengungsian yang baru terdata belakangan.

Tiga pekan setelah bencana, kondisi belum sepenuhnya pulih. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tapanuli Tengah per 20 Desember 2025 mencatat sebanyak 8.658 jiwa masih hidup dalam kondisi terisolasi.

Warga tersebar di Kecamatan Tukka, Sibabangun, Lumut, dan Sitahuis. Akses jalan terputus akibat longsor dan kerusakan infrastruktur.

Sekretaris BPBD Tapteng, Tanti Harahap, menyebut pemerintah daerah terus berupaya membuka akses ke desa-desa terdampak. Koordinasi dilakukan bersama Dinas Pekerjaan Umum dan TNI. Distribusi logistik tetap berjalan meski harus ditempuh secara manual.

Baca Juga : Pascabanjir, Sungai Aek Sibundong di Tapteng Melebar: Warga Sorkam Khawatir Ancaman Luapan 

Di tengah situasi tersebut, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah mengeluarkan kebijakan pelarangan pembukaan lahan kelapa sawit di kawasan hutan, perbukitan, daerah resapan air, serta sempadan sungai, pantai, dan danau. Kebijakan itu tertuang dalam Surat Keputusan Bupati Tapteng Nomor 2571/Distan/2025 tertanggal 15 Desember 2025.

(Cw7/Nusantaraterkini.co)