Nusantaraterkini.co, TAPTENG - Sekitar sepekan penyintas bencana longsor dari Desa Sigiring-giring, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, mengumpulkan batu-batu dari aliran air sungai yang kecil. Sebagian batu bahkan dicungkil dari tanah. Semuanya ditumpuk di tiap titik jalan yang memutus akses menuju permukiman.
Untuk urusan perbaikan, warga tidak terlibat. Urusan itu ditangani militer yang memiliki alat berat dan perlindungan diri. Sementara warga tidak punya.
Pada Rabu (14/1/2026) adalah hari pertama warga mengumpulkan batu. Di hari-hari sebelumnya para warga telah membersihkan beberapa titik yang dipenuhi lumpur yang tidak jauh dari desa.
Baca Juga : Aksi Kemanusiaan Brimob Polda Sumut Bersihkan Sisa Banjir Bandang di Tapanuli Tengah
Bagi warga hal itu adalah cara mereka untuk menolak di relokasi ke hunian tetap (Huntap) yang berada di Kecamatan Pinangsori. Kata warga, apabila mereka menuruti kemauan pemerintah maka, saat itu pula mereka dijauhkan dari kebun milik sendiri.
"Kami (warga) desa Giring-giring ini, sudah rapat semua, tidak mau dipindahkan desa kami ke tempat yang ditunjukkan pemerintah, susah nanti mengelola harta kami di desa Giring-giring ini, karena di sini (desa) mata pencarian kami, menderes, semua lah, kebun-kebun, pertanian, menanam cabai, semuanya," kata Riamida Sibagariang (65) kepada Nusantaraterkini.co, di lokasi tempat warga bergotong royong, Kelurahan Hutanabolon.
Kata, penyintas perempuan lanjut usia itu, bencana banjir dan longsor yang menerjang desa mereka pada penghujung November 2025 lalu, datang dari arah perbukitan. Air bercampur lumpur, batu besar, dan kayu menghantam permukiman. Rumah rusak berat. Kendaraan terseret. Kebun para warga yang selama ini menjadi sumber penghidupan—hilang dalam sekejap.
Baca Juga : Bencana di Tapteng Membuat Ayah Ini Terancam Putuskan Kuliah Empat Anaknya: Tolong Kami
Bencana itu yang pertama kali sekaligus paling dahsyat. Riamida trauma pada hari-hari pertama. Namun, sumber penghidupan, saat ini, lebih penting. Dan perbaikan akses menuju desa, tutur Riamida, adalah langkah awal yang harus diambil pemerintah.
"Gotong royong ini adalah semangat mau kembali ke kampung kami. Biarpun kami siap bergotong-royong, asal pemerintah bersedia, membantu kami, biar bisa kami masuk ke desa kami lagi dengan jalan yang bagus," ucapnya.
Penolakan relokasi juga disampaikan warga lain yang terlibat dalam gotong royong. Menanti Lase (31) mengatakan, inisiatif mengumpulkan batu muncul dari dorongan warga dan pemerintah desa, sebagai upaya bertahan di tengah lambannya pemulihan infrastruktur.
“Gotong royong ini dari warga. Kami diminta pihak desa untuk membantu supaya jalan bisa segera diperbaiki,” kata Menanti.
Ia menyebutkan, aktivitas ekonomi warga lumpuh sejak akses jalan terputus. Distribusi hasil kebun, kebutuhan logistik, hingga layanan dasar menjadi terbatas. Namun, hingga kini warga belum melihat kejelasan waktu perbaikan jalan secara menyeluruh.
Para warga yang bergotong royong sebagian besar adalah kepala rumah tangga. Sementara kaum ibu, sengaja menggantikan para suami mereka yang harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga.
Rianti Mendrofa, ibu dua anak ini sengaja menyewa rumah. Posko pengungsian tidak nyaman. Tidak punya ruang privasi. Bahkan, katanya, pembagian logistik kadang tidak beraturan. Keluarganya kerap tidak menerima bagian. Kondisi itu adalah salah satu alasan mereka terpaksa menyewa rumah di tempat lain.
"Suami saya bekerja dan saya yang menggantikannya. Karena biaya sewa rumah juga harus dipikirkan," kata Rianti yang tengah beristirahat di dekat aliran sungai kecil itu.
Sejak bencana melanda, akses menuju Desa Sigiring-giring, hingga kini masih terputus. Jalan utama menuju desa tidak dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat karena tertimbun material longsor berupa tanah, batu berukuran besar, dan kayu, serta mengalami putus total di sejumlah titik.
Di beberapa lokasi, badan jalan amblas dan tergerus aliran air, menyisakan jurang dengan kedalaman bervariasi. Kondisi ini membuat jalur penghubung desa sama sekali tidak dapat difungsikan, bahkan untuk kendaraan darurat.
Akibat kerusakan tersebut, warga terpaksa berjalan kaki menempuh jarak sekitar lima kilometer dari posko utama di Kelurahan Hutanabolon untuk mencapai Desa Sigiring-giring. Perjalanan harus dilalui dengan melewati jalur sempit dan licin, menyusuri bekas longsoran serta aliran sungai kecil, sehingga menyulitkan mobilitas warga.
Saat ini, di Desa Sigiring-giring tidak tampak lagi aktivitas warga. Puing-puing bekas bencana berupa batu, kayu, serta rumah-rumah yang rusak akibat terjangan longsor masih berserakan. Hingga kini belum terlihat adanya tanda-tanda perbaikan maupun upaya pemulihan kondisi seperti sebelum bencana.
Saat ini, di desa Sigiring-giring nyaris tidak tampak aktivitas warga. Permukiman terlihat lengang, dengan sebagian besar rumah ditinggalkan dalam kondisi rusak berat. Puing-puing bekas bencana berupa batu, kayu gelondongan, serta sisa-sisa bangunan rumah masih berserakan di halaman dan sepanjang badan jalan desa.
Sejumlah rumah tampak tertimbun material longsor, sementara lainnya mengalami kerusakan pada dinding dan fondasi akibat terjangan banjir bercampur lumpur. Hingga saat ini, belum terlihat adanya kegiatan perbaikan infrastruktur maupun upaya pemulihan permukiman.
Alat berat belum tampak di lokasi, dan material longsor dibiarkan menumpuk, menandakan proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana belum berjalan.
Ditengah penolakan untuk di relokasi warga bersama dengan pemerintah desa, telah menentukan titik untuk membuka perkampungan baru. Namun, untuk memulai semuanya alat berat harus masuk.
Pemerintah pusat, sementara ini, menyepakati bantuan pembangunan rumah senilai Rp60 juta per unit, meskipun angka tersebut masih berpeluang disesuaikan.
Sejumlah lokasi pembangunan hunian tetap telah ditetapkan. Di Kota Sibolga, huntap direncanakan dibangun di kawasan GOR Sibolga. Sementara di Kabupaten Tapanuli Tengah, lokasi pembangunan berada di area Asrama Haji Pinangsori.
Adapun di Kabupaten Tapanuli Utara, huntap akan dibangun di Desa Sibalanga, dan di Kabupaten Tapanuli Selatan berlokasi di Kebun Hapesong milik PTPN IV. Untuk hunian sementara, pembangunan baru direncanakan di Tapanuli Utara dengan total 30 unit.
Pemerintah provinsi juga telah menyatakan status tanggap darurat bencana banjir dan longsor di Sumatera Utara telah berakhir. Namun, Bobby menekankan bahwa masa transisi justru menandai pembagian fokus penanganan.
Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution menegaskan bahwa perubahan status kebencanaan tidak serta-merta menghentikan upaya pencarian orang hilang. Menurutnya, operasi tersebut akan tetap dilakukan sepanjang masa transisi pemulihan yang diproyeksikan berlangsung hingga akhir Maret 2026.
“Masuknya masa transisi tidak berarti pencarian korban dihentikan. Penanganan korban hilang tetap berjalan sampai fase ini selesai,” kata Bobby dalam keterangan tertulis, Minggu (11/1/2026).
Pemerintah provinsi memperkirakan masa transisi berlangsung antara satu hingga tiga bulan, terhitung sejak Januari 2026. Pada periode ini, penanganan bencana dilakukan bersamaan dengan upaya pemulihan rumah warga, ekonomi masyarakat, dan lahan pertanian yang terdampak.
Di tengah proses tersebut, pemerintah daerah masih menghadapi kendala dalam pendataan penyintas. Bobby mengakui data penerima bantuan berbasis by name by address (BNBA) dari sejumlah kabupaten dan kota belum sepenuhnya rampung.
“Sebagian sudah kami kirim ke pemerintah pusat, tetapi masih ada daerah yang belum menyampaikan. Targetnya pekan ini seluruh data masuk,” ujar Bobby, Jumat (9/1/2026).
Keterlambatan pendataan dinilai berpotensi menghambat pembangunan hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap), yang menjadi kebutuhan mendesak bagi ribuan keluarga terdampak. Pemerintah daerah beralasan, kondisi geografis dan sulitnya akses ke sejumlah desa menjadi penyebab lambannya proses tersebut.
Data yang telah dikumpulkan kini masih dalam tahap verifikasi di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Pemerintah mencatat lebih dari 30 ribu rumah warga di Sumatera Utara mengalami kerusakan, mulai dari kategori ringan hingga berat.
(Cw7/Nusantaraterkini.co).
