Nusantaraterkini.co, Medan – Target swasembada pangan yang disampaikan oleh Presiden Prabowo Subianto dalam pidato perdananya menjadi agenda penting bagi Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.
Salah satu provinsi yang diharapkan berperan besar dalam pencapaian target ini adalah Sumatera Utara, yang memiliki potensi besar dalam sektor pertanian, terutama dalam produksi padi.
Baca Juga : Perkuat Ketahanan Pangan, Pemprov Sumsel Dorong Pemetaan Sumber Daya Air Terintegrasi
Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang diperbarui pada 15 Oktober 2024, luas panen padi di Sumatera Utara pada tahun 2024 mencapai 419.089,12 hektare, dengan produktivitas sebesar 51,40 kuintal per hektare. Dari luas panen tersebut, produksi padi di Sumatera Utara diperkirakan mencapai 2.154.117,08 ton gabah kering giling (GKG).
Baca Juga : DPR Apresiasi Swasembada Pangan, Wanti-wanti Ancaman Distribusi
Angka ini menunjukkan kontribusi signifikan Sumatera Utara terhadap produksi pangan nasional.
Namun, menurut Gunawan Benjamin, pengamat ekonomi yang diwawancarai melalui WhatsApp pada Senin (21/10/2024), pencapaian swasembada pangan tidak hanya mengandalkan produktivitas tinggi, tetapi juga memerlukan keterlibatan lebih banyak petani serta dukungan dari pemerintah.
Baca Juga : Harga Emas Tahun 2026 Masih Bullish
“Pemerintah harus lebih aktif dalam memberikan akses pembiayaan, pelatihan, dan teknologi kepada petani. Dengan begitu, mereka dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil pertanian mereka,” jelasnya.
Baca Juga : Program Makan Bergizi Gratis Diprediksi Jaga Ekonomi Sumut di Level 5% pada 2026
Gunawan juga menekankan pentingnya kebijakan yang mendorong pembangunan industri pertanian di sektor hulu dan hilir.
“Pembangunan industri pupuk, pestisida, dan pengolahan hasil pertanian sangat penting untuk mendukung ketahanan pangan. Tanpa dukungan ini, petani akan kesulitan menghadapi tantangan produksi dan pasokan,” katanya.
Baca Juga : Viral MBG Tercemar Ada Cacing dan Ulat, SMKN 1 Sei Rempah Desak Evaluasi SPPG
Ia menambahkan bahwa pendekatan padat karya harus lebih diutamakan, di mana lebih banyak petani dilibatkan dalam proses produksi untuk menciptakan lapangan kerja dan mendistribusikan pendapatan secara merata.
Baca Juga : Ditinggal Beli Takjil, Sepeda Motor Penjaga Toko Lenyap Digasak Maling
Pemerintah, menurut Gunawan, juga perlu memastikan adanya anggaran untuk mengatasi kegagalan panen.
Mengingat potensi kegagalan panen akibat perubahan iklim atau serangan hama, penting bagi pemerintah untuk menyediakan jaminan dan dukungan bagi petani agar mereka tetap dapat bercocok tanam bahkan dalam kondisi yang tidak menguntungkan.
"Lahan yang tidak produktif karena gagal panen harus tetap dimanfaatkan dengan dukungan yang tepat," imbuhnya.
Ia juga mengingatkan bahwa meskipun swasembada pangan dapat meningkatkan kemandirian, harga produk pertanian di dalam negeri tidak selalu lebih murah dibandingkan produk impor.
“Oleh karena itu, perlindungan pasar domestik sangat penting. Kita harus melindungi petani dari serbuan produk luar yang dapat merugikan petani lokal,” tegasnya.
Sumatera Utara memiliki banyak komoditas pertanian yang memungkinkan untuk dicapai swasembada, seperti beras, gula pasir, jagung, dan kedelai.
Dengan dukungan infrastruktur yang memadai, pengembangan teknologi pertanian, serta pelatihan bagi petani, potensi besar ini dapat dimanfaatkan untuk mencapai target swasembada pangan nasional.
Dengan keterlibatan aktif petani dan dukungan pemerintah yang kuat, Sumatera Utara diharapkan dapat menjadi salah satu provinsi yang berperan penting dalam mewujudkan ketahanan pangan Indonesia.
Program-program pertanian yang berkelanjutan dan inovatif sangat dibutuhkan untuk mencapai tujuan ini, sehingga kesejahteraan petani dapat terjamin dan kebutuhan pangan masyarakat dapat terpenuhi secara optimal.
(cw9/Nusantaraterkini.co)
