Sosiolog: Represif Tak Selesaikan Masalah Tawuran dan Konflik Sosial di Belawan
tindakan represif kepolisian seperti penggunaan senjata api justru akan memperburuk situasi
Nusantaraterkini.co, MEDAN - Sosiolog Universitas Syiah Kuala (USK), Yuva Ayuning Anjar menegaskan, tawuran dan konflik sosial di Belawan bukan semata persoalan keamanan, melainkan gejala ketidakhadiran pemerintah dalam menangani problem sosial setempat.
Untuk itu menurutnya, tindakan represif kepolisian seperti penggunaan senjata api justru akan memperburuk situasi.
“Permasalahan seperti kemiskinan struktural, angka pengangguran, narkoba, rendahnya pendidikan, dan minimnya fasilitas umum harus menjadi perhatian utama pemerintah kota,” katanya dalam diskusi publik digelar KontraS Sumut di FISIP USU, Jumat (20/6/2025).
Ia menegaskan bahwa pendekatan represif kepolisian, seperti dalam kasus tewasnya remaja MS (15) di Belawan, bukan solusi dan hanya melanggengkan lingkaran kekerasan.
“Sejauh yang saya baca, tidak ada bukti bahwa represifitas bisa menekan angka kriminalitas. Yang ada malah memperburuk situasi,” ujarnya.
Menurut Yuva, solusi jangka panjang harus melibatkan banyak pihak dan fokus pada upaya persuasif dan humanis untuk menangani problem Belawan secara menyeluruh.
“Belawan harus menjadi tanggung jawab bersama banyak pihak,” ungkapnya.
Sebelumnya, KontraS memaparkan hasil investigasi mereka soal penembakan yang diduga dilakukan Kapolres Belawan AKBP Oloan Siahaan, awal Mei lalu. Menurut para saksi mata, polisi langsung menembak tanpa memberi peringatan terlebih dahulu.
Kepala Operasional KontraS Sumut, Adinda Zahra Noviyanti menjelaskan, bahkan korban MS bahkan belum sempat melawan dan tawuran di Belawan sudah berlangsung turun-temurun sebagai dampak dari masalah sosial yang menumpuk.
“Penggunaan senjata api diduga melanggar prinsip penggunaan kekuatan sesuai Perkap Nomor 1/2009 dan Perkap Nomor 8/2009,” tegasnya.
Selain itu, KontraS juga menemukan fakta bahwa polisi sempat meminta ibu korban menandatangani surat pernyataan bahwa anaknya menyerang petugas permintaan yang akhirnya ditolak.
“Kami mencatat sepanjang 2022-2024 ada 13 peristiwa penggunaan senjata api di Sumatera Utara, hampir seluruh korbannya adalah terduga kriminal,” tambahnya.
Ia mendesak reformasi institusi Polri agar penegakan hukum tak hanya berorientasi pada pendekatan kekerasan dan impunitas.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Medan dan Polda Sumut yang diundang dalam diskusi ini tidak hadir memberikan tanggapan.
(Cw7/Nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
RELIGIRibuan Warga Palembang Padati Tabligh Akbar dan Maulid Nabi Bersama UAS di Kambang Iwak
Rozie Winata·28 menit yang lalu -
EKONOMIIHSG Diprediksi Melemah Hari Ini, Analis Ungkap Saham yang Layak Dicermati
hendra·33 menit yang lalu -
KRIMINALPolres Padangsidimpuan Gagalkan Penyelundupan 10 Kg Ganja, Satu Pelaku Diringkus
Rozie Winata·53 menit yang lalu -
SEPAKBOLAJohn Herdman Sebut Skuad Garuda Belum Turun dengan Kekuatan Penuh
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
EKONOMIMichael Saylor Peringatkan Sistem Keuangan AS Harus Dibangun Ulang untuk Era AI
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
INTERNASIONALKlaim Miliki Kendali Penuh, Trump Tolak Usulan Bersyarat Iran Terkait Pembukaan Kembali Selat Hormuz
Rozie Winata·3 jam yang lalu -
NEWS VIDEOMartin Hutabarat: Perubahan UUD Penting Dipahami untuk Menentukan Arah Bernegara
Fadli Tara·9 jam yang lalu -
-
KRIMINALViral Video Dugaan Bullying Siswi SMPN 12 Pematangsiantar, Polisi Langsung Turun Tangan
hendra·10 jam yang lalu -
BADMINTONDua Ganda Putra Indonesia Tembus Semifinal Asian Games 2026, Leo/Daniel Tantang Pasangan Nomor 1 Dunia
hendra·11 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan