Senator Mirah Dorong UMKM NTB Naik Kelas, Bidik Pasar Lebih Luas dan Lapangan Kerja Baru
Senator Mirah Midadan Fahmid mendorong UMKM NTB naik kelas melalui inovasi, perluasan pasar, akses pembiayaan, dan penciptaan lapangan kerja.
Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Anggota DPD sekaligus Nusa Tenggara Barat (NTB), Mirah Midadan Fahmid, mendorong penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui peningkatan kualitas produk, inovasi, perluasan pasar, serta penciptaan lapangan kerja berkelanjutan.
Menurut Mirah, keberhasilan pembinaan UMKM tidak cukup diukur dari jumlah pameran yang diikuti pelaku usaha. Lebih dari itu, program pembinaan harus mampu meningkatkan kualitas produk, memperluas jangkauan pemasaran, mendorong pertumbuhan omzet, dan menciptakan lapangan kerja baru.
“Pembinaan UMKM harus menghasilkan perubahan yang nyata. Bukan sekadar berapa kali pelaku usaha mengikuti pameran, tetapi bagaimana kualitas produknya meningkat, pasarnya semakin luas, omzetnya berkembang, dan usahanya mampu menciptakan lapangan kerja baru,” ujar Mirah, Minggu (18/10/2026).
Ia mengapresiasi sinergi Pemerintah Provinsi NTB dan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) NTB dalam mendorong transformasi pembinaan UMKM melalui inovasi produk, desain kreatif, dan pengembangan wirausaha baru.
Berdasarkan data Sistem Informasi Data Tunggal (SIDT) 2024 yang dirujuk Dinas Koperasi UKM NTB, jumlah UMKM di NTB mencapai sekitar 324 ribu unit, dengan lebih dari 99 persen di antaranya merupakan usaha mikro.
Kondisi tersebut, kata Mirah, menunjukkan pentingnya pendampingan yang mampu meningkatkan produktivitas, skala usaha, serta kemampuan UMKM dalam menyerap tenaga kerja.
Ia juga menilai evaluasi program pembinaan perlu dilakukan secara berkala agar manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha yang sama. Regenerasi pengusaha, pendampingan usaha rintisan, dan pemerataan akses pembinaan di seluruh kabupaten/kota di NTB harus menjadi perhatian.
Menurutnya, NTB memiliki potensi besar dalam mengembangkan produk kerajinan, fesyen, kuliner, dan berbagai produk berbasis kearifan lokal. Potensi tersebut perlu didukung desain yang menarik, kualitas produksi, kreativitas, serta identitas merek yang kuat agar memiliki nilai jual lebih tinggi.
“Produk lokal kita memiliki cerita, budaya, dan karakter yang bisa menjadi keunggulan. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut diterjemahkan menjadi produk yang menarik, berkualitas, dan memiliki nilai jual,” katanya.
Mirah menambahkan, inovasi UMKM tidak selalu membutuhkan teknologi canggih atau modal besar. Perbaikan kemasan, pemilihan bahan, desain produk, konsistensi kualitas, hingga pemanfaatan pemasaran digital dapat menjadi langkah awal untuk meningkatkan daya saing.
Peluang pengembangan UMKM tersebut juga terlihat dalam kegiatan Karya Kreatif NTB 2026 yang melibatkan 119 UMKM. Kegiatan itu mencatat transaksi sebesar Rp645 juta atau meningkat 64,67 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, terdapat komitmen pembiayaan perbankan senilai Rp20,55 miliar.
Menurut Mirah, capaian tersebut menunjukkan adanya respons pasar terhadap produk lokal. Namun, keberhasilan kegiatan juga perlu diikuti dengan pendampingan dan akses pembiayaan yang berkelanjutan agar pelaku usaha dapat terus berkembang setelah pameran berakhir.
Ia menegaskan, pengembangan UMKM harus terhubung langsung dengan penciptaan lapangan kerja, termasuk memberikan peluang ekonomi bagi generasi muda di wilayah perdesaan.
“UMKM harus menjadi salah satu pintu bagi masyarakat untuk memperoleh penghasilan dan membangun kemandirian ekonomi. Karena itu, program pendampingan perlu memastikan semakin banyak wirausaha baru tumbuh, termasuk dari desa-desa yang memiliki potensi produk unggulan,” tegasnya.
Mirah mendorong pemerintah daerah dan BI NTB memperkuat pendampingan melalui pelatihan desain, peningkatan kapasitas produksi, sertifikasi, akses pembiayaan, digitalisasi, serta kemitraan dengan sektor swasta dan jaringan distribusi yang lebih luas.
Ia juga meminta agar keberhasilan program pembinaan diukur melalui indikator yang jelas, seperti pertumbuhan omzet, perluasan pasar, peningkatan produktivitas, jumlah usaha baru, dan penyerapan tenaga kerja.
“UMKM NTB harus diberi kesempatan untuk tumbuh, berinovasi, dan menembus pasar yang lebih besar. Tujuan akhirnya bukan hanya membuat produk lokal dikenal, tetapi memastikan manfaat ekonominya kembali kepada masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan keluarga,” pungkasnya.
(LS/Nusantaraterkini.co).
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
SEPAKBOLAGagal Menang di Elland Road, Manchester United Tertahan di Peringkat 13 Usai Ditahan Leeds 1-1
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
SUMUTWamenhan Richard Tampubolon Terima Laporan Kerugian Bencana Taput Rp3,78 Triliun
Rozie Winata·3 jam yang lalu -
INTERNASIONALGelombang Demonstrasi Berujung Rusuh di Perancis: Menara Jam Bersejarah Runtuh, Ribuan Orang Ditangkap
Rozie Winata·3 jam yang lalu -
-
PERISTIWATruk Kopdes Merah Putih Angkut Sawit di Karo Bikin Heran, Ini Kata Ketua DPRD
Rozie Winata·4 jam yang lalu -
PERISTIWAJalan Lintas Sipirok–Tarutung Putus Total Akibat Longsor, Truk Terjun ke Jurang
Rozie Winata·5 jam yang lalu -
E-SportTeam Liquid ID Kunci Juara Regular Season MPL ID S18 Usai Bantai ONIC 2-0
Herman Saleh Harahap·5 jam yang lalu -
NASIONALSurvei PPl: Kepuasan Publik atas Kinerja Pemerintah dan Prabowo Tembus 65 Persen
Rozie Winata·6 jam yang lalu -
-
NEWS VIDEOViral Atap Rumah Warga Bolong Kena Bongkahan Dry Ice, Ini Kata BMKG!
Fadli Tara·6 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan