NUSANTARATERKINI.CO – Lailatul Qadar adalah malam di mana ayat-ayat pertama Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw.
Dilansir dari berbagai sumber, pada malam itulah Allah pertama kali menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril.
Baca Juga : 10 Amalan di Bulan Suci Ramadan yang Pahalanya Berlipat Ganda, Nomor 7 Jarang Dilakukan!
Nabi Muhammad menghabiskan waktu yang lama, khususnya selama bulan Ramadan, bermeditasi tentang dunia di sekitarnya dan mencari bantuan untuk membimbing umatnya dari kejahatan moral dan penyembahan berhala
Baca Juga : Mengungkap Keistimewaan Salat di Malam Lailatul Qadar
Dalam beberapa kesempatan, beliau melakukan perjalanan ke Gua Hira, sebuah gua kecil di perbukitan dekat Mekah di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Arab Saudi.
Diyakini bahwa pada suatu waktu, mungkin sekitar tahun 610 Masehi, beliau menerima ayat-ayat pertama Al-Quran dari Allah.
Baca Juga : Ramadan Pertama, Pedagang Takjil di Aceh Tamiang Diserbu Warga
Wahyu itu adalah surat Al-Alaq ayat 1-5 yang berbunyi:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan (1) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah (2) Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah (3) Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam (4) Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (5)”
Baca Juga : DPR Soroti Penetapan Tersangka Guru Honorer: Jaksa Harus Pahami Semangat KUHP Baru
Nabi Muhammad SAW terkejut dan ketakutan dengan kejadian ini, beliau tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Baca Juga : Stok Beras di Gudang Bulog Sumsel Babel Melimpah, DPR RI Minta Stok Lama Disalurkan
Beliau segera pulang ke rumah dan meminta istrinya, Khadijah binti Khuwailid RA, untuk menyelimutinya dengan selimut.
Beliau menceritakan kepada istrinya apa yang telah terjadi padanya.
Khadijah RA adalah seorang wanita yang saleh dan cerdas, ia percaya bahwa suaminya adalah seorang yang jujur dan dapat dipercaya.
Ia pun menenangkan dan menguatkan suaminya.
Lailatul Qadar adalah peringatan hari tersebut, tetapi tidak jelas kapan tepatnya wahyu itu terjadi.
Oleh karena itu, banyak Muslim menganggap sepuluh hari terakhir bulan Ramadan sebagai hari yang paling baik, di mana mereka mengunjungi masjid-masjid serta membaca Al-Quran.
Dalam kitab Tafsir ibn Katsir, terdapat sebuah riwayat yang menjelaskan sejarah Lailatul Qadar.
Dikisahkan bahwa suatu hari Nabi Muhammad SAW bercerita kepada empat orang, Ayub, Zakariya, Hizqil bin 'Ajuz dan Yusqa' bin Nun.
Maka para sahabat mengagumi hal itu. Kemudian datanglah Jibril kepada Nabi SAW dan berkata, "Wahai Muhammad, umatmu kagum dengan ibadah selama 80 tahun, yang tidak pernah berbuat maksiat sekejap mata pun."
Kemudian Allah menurunkan sesuatu yang lebih baik dari sesembahan Bani Israil, lalu Jibril membacakannya kepada Nabi: "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan, tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu, ia lebih baik dari seribu bulan" (QS al-Qadr: 1-3), ia lebih baik dari apa yang kamu dan kaummu sembah."
Kemudian Nabi Muhammad dan para sahabatnya sangat gembira.
Dalam bukunya 10 Malam Akhir Ramadhan, Shabri Shale Anwar mengutip sebuah hadis riwayat Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW memerintahkan mereka untuk mencari Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.
Rasulullah SAW bersabda,
تَحَرَّوْا وفي رواية : الْتَمِسُوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِيْ الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ
Artinya: "Carilah malam Lailatulqadar di (malam ganjil) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan." (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits lain, Rasulullah SAW turut menggambarkan suasana pagi usai datangnya malam lailatul qadar. Beliau SAW bersabda,
"Pagi hari malam lailatul qadar, matahari terbit tidak menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi." (HR Muslim)
(*/Nusantaraterkini.co)
