Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Rupiah Melemah ke Rp17.845 per Dolar AS, Pasar Cermati Sinyal Kenaikan Suku Bunga The Fed

Rupiah melemah ke Rp17.845 per dolar AS. Penguatan dolar dipicu sinyal kenaikan suku bunga The Fed dan ketidakpastian global.

Seorang karyawan menghitung rupiah yang ditukarkan dengan dolar Amerika Serikat di salah satu money changer. (Foto: istimewa).
Seorang karyawan menghitung rupiah yang ditukarkan dengan dolar Amerika Serikat di salah satu money changer. (Foto: istimewa).
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Jumat (19/6/2026) pagi. Mata uang Indonesia tercatat berada di level Rp17.845 per dolar AS, melemah 51 poin atau sekitar 0,29 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya.

Pelemahan rupiah terjadi seiring menguatnya dolar AS yang masih mendominasi pergerakan global. Kondisi ini juga diikuti oleh sejumlah mata uang Asia yang mayoritas bergerak di zona negatif.

Yuan China tercatat melemah 0,11 persen terhadap dolar AS. Tekanan serupa juga dialami peso Filipina yang turun 0,14 persen, ringgit Malaysia melemah 0,05 persen, serta dolar Singapura yang terkoreksi 0,09 persen.

Meski demikian, tidak semua mata uang Asia mengalami pelemahan. Yen Jepang justru menguat 0,12 persen, sementara won Korea Selatan naik 0,06 persen. Dolar Hong Kong tercatat bergerak stabil pada perdagangan pagi ini.

Di pasar negara maju, sejumlah mata uang utama juga terpantau kehilangan tenaga terhadap dolar AS. Euro melemah 0,05 persen, poundsterling Inggris turun 0,08 persen, dolar Australia terkoreksi 0,13 persen, dolar Kanada melemah 0,08 persen, dan franc Swiss turun 0,11 persen.

Analis mata uang dari , , menilai tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut. Menurutnya, penguatan dolar AS dipicu oleh meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve setelah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC).

Selain faktor kebijakan moneter AS, kekhawatiran pasar terkait belum pulihnya pasokan minyak mentah dunia akibat konflik geopolitik juga turut mendorong investor memburu dolar AS sebagai aset aman.

“Penguatan dolar AS masih didukung prospek kenaikan suku bunga pasca-FOMC. Di sisi lain, ketidakpastian pasokan energi global akibat konflik yang berlangsung turut memperkuat posisi dolar,” ujar Lukman.

Untuk perdagangan hari ini, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS, dengan sentimen global masih menjadi faktor utama yang memengaruhi arah pergerakan pasar.

(Dra/nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru