Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Rupiah Terseret Isu Geopolitik, Dibuka Melemah ke Rp16.832 per Dolar AS

Editor :  hendra
Reporter :  Hendra Mulya
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Ilustrasi mata uang Rupiah dan Dollar AS. (Foto: Antara).

Nusantaraterkini.co, JAKARTANilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memulai perdagangan Rabu (25/2/2026) di zona merah. Tekanan eksternal dari ketegangan geopolitik hingga sentimen fiskal dalam negeri membayangi pergerakan mata uang Garuda.

Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.20 WIB, rupiah terkoreksi 0,02% atau turun 3 poin ke posisi Rp16.832 per dolar AS. Sehari sebelumnya, Selasa (24/2), rupiah ditutup melemah 27 poin di level Rp16.829 per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS tercatat turun tipis 0,06% ke level 97,7. Meski dolar global melemah, tekanan terhadap rupiah masih terasa akibat kombinasi sentimen global dan domestik.

Baca Juga : Rupiah Terkoreksi ke Rp16.835 per Dolar AS, Pasar Nantikan Sentimen Global dan APBN

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp16.830 hingga Rp16.860 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.

Menurut Ibrahim, pelaku pasar masih mencermati perkembangan hubungan antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan memasuki putaran ketiga pembahasan isu nuklir di Jenewa pada Kamis mendatang.

Presiden AS, Donald Trump, kembali menegaskan sikap kerasnya terhadap program nuklir Iran. Dalam pernyataan terbarunya, Trump memperingatkan konsekuensi serius apabila tidak tercapai kesepakatan. Di sisi lain, Iran tetap membantah tengah mengembangkan senjata nuklir.

Baca Juga : Rupiah Awali Pekan Menguat ke Rp16.868 per Dolar AS, Sentimen Global Masih Bayangi Pasar

Selain isu geopolitik, pasar juga merespons kebijakan perdagangan AS. Trump disebut berencana menaikkan tarif sementara impor dari 10% menjadi 15%, yang merupakan batas maksimal sesuai regulasi perdagangan AS. Kebijakan ini berpotensi meningkatkan ketidakpastian global dan mendorong investor mencari aset lindung nilai.

Dari dalam negeri, pelaku pasar menyoroti realisasi pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Pemerintah tercatat menarik utang baru sebesar Rp127,3 triliun hingga Januari 2026, setara 15,3% dari target tahunan Rp832,2 triliun.

Sementara itu, pembiayaan non-utang tercatat minus Rp22,2 triliun atau 15,6% dari target APBN sebesar minus Rp145,1 triliun. Secara keseluruhan, realisasi pembiayaan hingga akhir Januari 2026 mencapai Rp105,6 triliun atau sekitar 15,2% dari outlook Rp689,15 triliun.

Baca Juga : Rupiah Rebound ke Rp16.775, Dolar AS Tertekan Jelang Rilis Data Tenaga Kerja

Capaian tersebut lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai 29,6%. Kondisi ini dinilai mencerminkan strategi pembiayaan yang lebih terukur, menyesuaikan kebutuhan kas pemerintah dan dinamika pasar keuangan.

Dengan kombinasi tekanan eksternal dan kehati-hatian fiskal domestik, pergerakan rupiah diperkirakan masih rentan terhadap sentimen global dalam jangka pendek.

(Dra/nusantaraterkini.co).

Baca Juga : Rupiah Terkoreksi ke Rp16.848 per Dolar AS, Tekanan Mata Uang Asia Masih Berlanjut