Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Petani Karet Sumsel Sambut Positif Pembebasan Tarif Ekspor ke AS

WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Ilustrasi pohon karet (foto:istimewa)

Nusantaraterkini.coPALEMBANG — Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo) Sumatera Selatan menyambut positif kebijakan pembebasan tarif ekspor ke Amerika Serikat (AS). Tarif sebesar nol persen dinilai mampu meningkatkan daya saing karet lokal di pasar internasional pada awal pekan ini.

Langkah ini diprediksi akan mendongkrak volume ekspor serta pendapatan petani di Sumatera Selatan seiring dengan tren penguatan harga karet global. Di pasar Singapore Exchange (SGX) dan Sicom, harga Karet Kering (KKK) 100 persen tercatat menguat ke level Rp32.661 per kilogram, atau naik Rp210 dibandingkan penutupan akhir pekan lalu.

Baca Juga : Alex Noerdin Derita Infeksi Empedu, Kuasa Hukum: Penyakitnya Sudah Menyebar

"Dengan tarif nol persen, peluang peningkatan volume ekspor sangat terbuka. Ini bisa berdampak langsung pada pendapatan petani dan eksportir, karena produk karet Indonesia akan menjadi jauh lebih kompetitif di pasar Amerika Serikat," ujar Sekretaris DPW Apkarindo Sumsel, Rudi Arpian, Rabu (25/2/2026).

Baca Juga : Harga TBS Sawit Sumsel Periode II Februari 2026 Naik ke Rp3.569 per Kg

Meski demikian, Rudi mengingatkan para petani dan pelaku usaha untuk tetap konsisten menjaga kualitas produksi guna menghadapi persaingan dengan negara produsen lainnya. Ia menekankan bahwa momentum kebijakan tarif nol persen ini harus dibarengi dengan strategi jangka panjang agar industri karet nasional tidak bergantung pada ekspor bahan mentah semata.

Menurutnya, penguatan sektor hilir menjadi kunci utama agar nilai tambah komoditas karet dapat dinikmati sepenuhnya oleh masyarakat di dalam negeri, khususnya di wilayah Sumatera Selatan sebagai salah satu lumbung karet nasional.

Baca Juga : Iran Tetapkan Militer Uni Eropa Teroris Usai Pernyataan Kontroversial Dubes AS

"Kebijakan ini menguntungkan dan meningkatkan kesejahteraan petani serta eksportir. Namun, tetap perlu upaya hilirisasi untuk menghasilkan produk jadi guna meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan," pungkasnya.

Baca Juga : MoU Rp650 Triliun RI–AS Disambut Positif, DPR : Jangan Hanya Pencitraan Diplomasi

 (Tia/Nusantaraterkini.co)