Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Rupiah Nyaris Sentuh Rp18.000 per Dolar AS, Mayoritas Mata Uang Asia Masih Tertekan

Rupiah melemah ke Rp17.980 per dolar AS dan semakin dekat Rp18.000. Mayoritas mata uang Asia ikut tertekan akibat penguatan dolar AS.

Seorang karyawan menghitung rupiah yang ditukarkan dengan dolar Amerika Serikat di salah satu money changer. (Foto: istimewa).
Seorang karyawan menghitung rupiah yang ditukarkan dengan dolar Amerika Serikat di salah satu money changer. (Foto: istimewa).
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA kembali bergerak melemah pada awal perdagangan Jumat (24/7/2026), sehingga semakin mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan ini terjadi di tengah tekanan yang masih membayangi mayoritas mata uang di kawasan Asia.

Berdasarkan data hingga pukul 09.25 WIB di pasar spot, rupiah dibuka turun 44 poin atau sekitar 0,25 persen ke posisi Rp17.980 per . Pergerakan tersebut memperpanjang tren pelemahan setelah pada penutupan perdagangan sebelumnya rupiah terkoreksi 19 poin dan berakhir di level Rp17.936 per dolar AS.

Tekanan terhadap mata uang Garuda sejalan dengan menguatnya yang turut menekan berbagai mata uang regional sepanjang sesi perdagangan pagi.

Di antara , mencatat pelemahan paling dalam dengan turun 0,83 persen ke level 1.463,33 per dolar AS. Sementara itu, terkoreksi 0,13 persen menjadi 4,0945 per dolar AS.

Pelemahan juga dialami dolar Taiwan yang turun 0,11 persen ke posisi 32,3140 per dolar AS serta peso Filipina yang melemah 0,11 persen ke level 61,83 per dolar AS.

Adapun dolar Hong Kong bergerak turun tipis 0,01 persen ke posisi 7,8418 per dolar AS, sedangkan yuan China relatif stabil di kisaran 6,7763 per dolar AS.

Di tengah tekanan yang melanda sebagian besar mata uang Asia, justru mampu mencatat penguatan terhadap dolar AS. Mata uang Negeri Sakura itu naik sekitar 0,05 persen dengan kurs US$/JPY berada di level 163,77.

Pergerakan yang semakin mendekati level Rp18.000 per dolar AS menjadi perhatian pelaku pasar. Investor masih mencermati perkembangan sentimen global, arah kebijakan moneter, serta pergerakan indeks dolar AS yang berpotensi memengaruhi volatilitas dalam waktu dekat.

(Dra/nusantaraterkini.co).

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait