Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Rupiah Melemah ke Rp17.981 per Dolar AS, Tekanan Dolar Global dan PMI Jadi Sorotan

Rupiah melemah ke Rp17.981 per dolar AS pada awal Juli 2026. Penguatan dolar AS, PMI manufaktur, dan data perdagangan jadi sorotan pasar.

Seorang pekerja tengah memperlihatkan mata uang dolar dan rupiah. (Foto: istimewa)
Seorang pekerja tengah memperlihatkan mata uang dolar dan rupiah. (Foto: istimewa)
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA memulai perdagangan perdana Juli 2026 dengan kecenderungan melemah di pasar offshore. Tekanan berasal dari penguatan (AS) yang masih mendominasi pasar global, ditambah sejumlah indikator ekonomi domestik yang belum menunjukkan perbaikan signifikan.

Mengacu pada data , rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) dibuka melemah 0,02 persen ke posisi Rp17.960 per pada Rabu (1/7/2026). Tidak lama kemudian, tekanan berlanjut sehingga turun 0,13 persen ke level Rp17.981 per dolar AS.

Pelemahan tersebut memperpanjang tren negatif di pasar offshore yang telah berlangsung sejak awal pekan.

Salah satu faktor utama yang membebani mata uang Garuda adalah menguatnya indeks yang bertahan di kisaran 101,24 terhadap enam mata uang utama dunia. Kuatnya dolar membuat sebagian besar mata uang Asia bergerak di zona merah pada perdagangan pagi.

Baht Thailand menjadi mata uang dengan pelemahan terbesar, disusul won Korea Selatan, yen Jepang, dolar Singapura, serta yuan offshore yang sama-sama mengalami tekanan. Di sisi lain, ringgit Malaysia mampu bertahan sebagai satu-satunya mata uang regional yang mencatat penguatan tipis.

Penguatan ringgit didorong oleh data sektor manufaktur Malaysia yang menunjukkan ekspansi. Purchasing Managers' Index (PMI) negara tersebut tercatat berada di level 50,7 pada Juni 2026, memberikan sentimen positif bagi mata uangnya.

Sementara itu, dari dalam negeri, sentimen negatif datang dari merosotnya Purchasing Manufacturing Index (PMI) Indonesia. Pada Juni 2026, turun ke level 46,9 dari posisi 50 pada bulan sebelumnya.

Penurunan tersebut menandakan aktivitas manufaktur kembali berada dalam fase kontraksi sekaligus menjadi level terendah sejak Juni 2025. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran pasar terhadap kekuatan pemulihan sektor riil dan prospek pertumbuhan pada paruh kedua tahun 2026.

Meski menghadapi tekanan, laju pelemahan rupiah masih mendapat penopang dari derasnya aliran modal asing ke pasar (SBN). Hingga 26 Juni 2026, tercatat melakukan pembelian bersih obligasi pemerintah senilai sekitar US$2,1 miliar, seiring meningkatnya daya tarik imbal hasil instrumen tersebut.

Ke depan, pelaku pasar akan mencermati rilis data Indonesia, termasuk angka dan yang dijadwalkan diumumkan pada pukul 11.00 WIB. Konsensus pasar memperkirakan pertumbuhan ekspor melambat menjadi sekitar 3,5 persen, sementara impor diproyeksikan masih tumbuh tinggi di kisaran 18 persen.

Data tersebut diperkirakan menjadi salah satu penentu arah pergerakan rupiah dalam perdagangan hari ini, di tengah masih kuatnya sentimen global dan dinamika internasional.

(Dra/nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait