Rupiah Melemah ke Rp17.300 per Dolar AS, BI Ungkap Faktor Global di Baliknya
Rupiah melemah ke Rp17.300 per dolar AS akibat konflik global dan arus modal ke AS. BI lakukan intervensi untuk menjaga stabilitas.
Nusantaraterkini.co, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali tertekan dan sempat menyentuh level Rp17.300 per dolar AS pada Kamis (23/4/2026). Pelemahan ini dipicu oleh kombinasi faktor global, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik dan perubahan arus modal internasional.
Bank Indonesia menilai kondisi tersebut tidak terlepas dari memanasnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang mendorong investor global beralih ke aset yang lebih aman (safe haven).
Direktur Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juli Budi Winantya, menjelaskan bahwa saat ini terjadi pergeseran aliran modal dari negara berkembang menuju instrumen keuangan di Amerika Serikat.
“Aliran dana ke emerging market menjadi lebih terbatas karena investor cenderung memilih aset yang lebih aman di tengah ketidakpastian global,” ujarnya dalam forum diskusi di Bandung.
Selain itu, kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) turut memperkuat daya tarik dolar. Hal ini dipicu oleh meningkatnya kebutuhan pembiayaan pemerintah AS, termasuk untuk belanja terkait konflik.
“Kondisi tersebut mendorong kenaikan yield US Treasury, baik tenor 2 tahun maupun 10 tahun, sehingga mempercepat arus modal keluar dari negara berkembang,” jelas Juli.
Akibatnya, dolar AS mengalami penguatan luas terhadap berbagai mata uang dunia, termasuk rupiah.
Sementara itu, Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menegaskan bahwa tekanan terhadap rupiah merupakan bagian dari tren regional, di mana mata uang negara berkembang sama-sama mengalami pelemahan.
Menurutnya, ketidakpastian global masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi pasar keuangan, dengan pelemahan rupiah tercatat sekitar 3,54 persen secara year to date.
Di tengah tekanan tersebut, BI terus melakukan berbagai langkah stabilisasi untuk menjaga kepercayaan pasar dan daya tarik aset domestik. Upaya ini dilakukan melalui intervensi di berbagai lini, baik di pasar offshore maupun domestik.
“Langkah stabilisasi dilakukan secara konsisten, termasuk intervensi di pasar NDF, spot, DNDF, serta pembelian SBN di pasar sekunder,” ujar Destry.
BI juga memastikan cadangan devisa Indonesia tetap berada pada level aman, yakni sebesar USD 148,2 miliar per akhir Maret 2026, sebagai bantalan menghadapi gejolak eksternal.
(Dra/nusantaraterkini.co).
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
KRIMINALBelum Jera, Residivis Narkoba di Medan Kota Kembali Diringkus Polisi, 7 Paket Sabu Siap Edar Diamankan
Rozie Winata·12 menit yang lalu -
NASIONALFilep Wamafma Usulkan Pembentukan Dinas Khusus Masyarakat Adat untuk Perkuat Otsus Papua
Rozie Winata·21 menit yang lalu -
EKONOMIRupiah Kembali Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Tekanan Global Jadi Sorotan
hendra·53 menit yang lalu -
EKONOMIHarga Emas Antam Anjlok ke Rp2.580.000 Per Gram, Buyback Ikut Turun Tajam
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
SUMSELGubernur Sumsel Larang Keras Dana Karhutla Rp30 Miliar Diserap untuk Keperluan Pejabat
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
NASIONALKomisi IX DPR Pastikan Perlindungan Hukum Ojol Tanpa Ubah Status Kemitraan
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
SUMSELAngin Berubah Arah, Kabut Asap Karhutla di Palembang Mulai Berkurang
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
POLITIKKunker ke Papua, Yorrys Dorong Percepatan RUU Pelindungan Masyarakat Adat
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
POLITIKHendri Satrio Sentil Gibran: Perjalanan Politik Anda Berbeda dengan Jokowi!
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
EKONOMIAturan Saham Rp1 Berlaku, IHSG Melemah 1,51%, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
hendra·3 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan