Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Rupiah Berpotensi Berfluktuasi, Tekanan Dolar AS Masih Membayangi Awal Pekan

Nilai tukar rupiah diperkirakan fluktuatif dengan risiko melemah seiring penguatan dolar AS dan sentimen The Fed serta geopolitik global.

Ilustrasi mata uang Rupiah dan Dollar AS. (Foto: Antara).
Ilustrasi mata uang Rupiah dan Dollar AS. (Foto: Antara).
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA — Pergerakan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih akan berlangsung fluktuatif pada perdagangan awal pekan ini, Senin (12/1/2026). Meski demikian, tekanan penguatan dolar AS membuat rupiah berisiko kembali ditutup melemah.

Mengacu pada data Bloomberg, rupiah pada penutupan perdagangan Jumat (9/1/2026) tercatat melemah 0,13 persen ke posisi Rp16.819 per dolar AS. Pelemahan rupiah sejalan dengan penguatan indeks dolar AS (DXY) yang naik 0,08 persen ke level 99,01.

Tekanan terhadap mata uang Asia juga terlihat cukup merata. Yen Jepang terkoreksi 0,39 persen, disusul won Korea Selatan yang melemah 0,47 persen. Dolar Singapura, dolar Hong Kong, dolar Taiwan, serta peso Filipina masing-masing melemah di rentang 0,04 hingga 0,14 persen. Sementara itu, rupee India dan ringgit Malaysia ikut tertekan dengan pelemahan masing-masing 0,20 persen dan 0,27 persen.

Di sisi lain, hanya yuan China dan baht Thailand yang mampu mencatat penguatan tipis, masing-masing sebesar 0,04 persen dan 0,25 persen.

Direktur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pergerakan rupiah pada pekan ini dipengaruhi sejumlah sentimen global dan domestik. Salah satu faktor utama adalah ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat, khususnya terkait peluang pelonggaran suku bunga The Federal Reserve.

Pernyataan pejabat The Fed masih menunjukkan perbedaan pandangan. Gubernur The Fed Stephen Miran menilai aktivitas ekonomi AS tetap solid, namun masih membutuhkan suku bunga yang lebih rendah. Sebaliknya, Presiden The Fed Richmond Thomas Barkin menyebut suku bunga saat ini berada di level netral dan tidak memberikan tekanan maupun stimulus berlebih pada perekonomian.

Di tengah ketegangan geopolitik global, pasar juga meningkatkan ekspektasi bahwa The Fed berpotensi memangkas suku bunga hingga dua kali sepanjang tahun ini. Investor pun mencermati rilis data ketenagakerjaan AS, khususnya non-farm payrolls (NFP) Desember, sebagai petunjuk lanjutan arah kebijakan suku bunga.

Sentimen geopolitik turut menambah volatilitas . Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Venezuela menjadi perhatian pelaku pasar, terutama setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan pasokan minyak dari Caracas menyusul penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari peningkatan . Bank Indonesia melaporkan posisi cadangan devisa per akhir Desember 2025 mencapai US$156,5 miliar, naik signifikan dibandingkan November 2025 sebesar US$150,1 miliar.

Kenaikan tersebut ditopang oleh penerimaan pajak dan jasa, penerbitan sukuk global pemerintah, serta penarikan pinjaman luar negeri. Pasar juga mencermati proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional. IMF, Bank Dunia, dan Bank Indonesia memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5 persen pada 2026, sementara pemerintah optimistis pertumbuhan bisa menembus 6 persen.

(Dra/nusantaraterkini.co).

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru