nusantaraterkini.co, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih menunjukkan sinyal penguatan pada awal pekan ini. Setelah ditutup menguat kemarin, mata uang Garuda diperkirakan masih punya peluang melanjutkan tren positif pada perdagangan hari ini, Selasa (21/10/2025).
Pada penutupan perdagangan Senin (20/10/2025), rupiah tercatat menguat 0,09% ke level Rp 16.575 per dolar AS di pasar spot. Kinerja ini menandai apresiasi tipis, namun tetap menjadi sinyal positif di tengah fluktuasi pasar global.
Potensi Penguatan Lanjutan
Baca Juga : Dolar Melemah Usai Pidato Trump, Rupiah Dibuka Naik 0,30%
Indikasi penguatan rupiah juga terlihat dari pergerakan di pasar Non-Deliverable Forward (NDF). Untuk tenor satu bulan, rupiah diperdagangkan di kisaran Rp 16.542 per dolar AS pada pagi ini — lebih kuat dibandingkan posisi penutupan sebelumnya.
Meski begitu, penguatan rupiah tetap perlu diwaspadai karena dolar AS mulai menunjukkan pemulihan. Dollar Index, yang mencerminkan pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, naik 0,17% ke posisi 98,559 pada perdagangan kemarin, menandai penguatan dua hari berturut-turut dengan total kenaikan 0,23%.
Namun, laju dolar AS dinilai masih terbatas. Sentimen negatif terhadap perekonomian AS masih membayangi seiring ketidakpastian kebijakan fiskal dan rilis data inflasi yang akan datang.
Baca Juga : Rupiah Terseret Isu Geopolitik, Dibuka Melemah ke Rp16.832 per Dolar AS
Sentimen Global: Fokus ke Data Inflasi AS
Setelah sempat tertunda akibat penutupan sementara (shutdown) pemerintahan AS, Bureau of Labor Statistics dijadwalkan merilis data inflasi September pada akhir pekan ini. Berdasarkan konsensus Bloomberg, inflasi inti diperkirakan naik 0,3% secara bulanan dan 3,1% secara tahunan.
“Inflasi inti kemungkinan melandai karena tekanan dari bea impor mulai berkurang, meski harga energi bisa membuat inflasi umum naik,” ujar Oscar Munoz, ekonom TD Securities, dikutip dari Bloomberg News.
Baca Juga : Rupiah Lanjutkan Tren Penguatan, Dolar AS Tertekan di Level Rp16.760
Data inflasi tersebut menjadi kunci bagi pelaku pasar untuk membaca arah kebijakan Bank Sentral AS (The Fed). Berdasarkan data CME FedWatch, peluang penurunan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75–4% mencapai 99,4%.
Jika The Fed benar-benar memangkas suku bunga, maka daya tarik aset berbasis dolar AS akan menurun, membuka ruang bagi mata uang emerging market, termasuk rupiah, untuk menguat.
Analisis Teknikal: Waspadai Level Kunci
Baca Juga : Rupiah Menguat di Awal Pekan, Dolar AS Tertekan ke Rp16.770
Secara teknikal, pergerakan rupiah dalam daily time frame menunjukkan potensi penguatan lanjutan, meski dalam rentang terbatas. Pivot point harian berada di Rp 16.573 per dolar AS.
Resisten 1: Rp 16.569 (MA-5)
Resisten 2: Rp 16.563 (MA-10)
Baca Juga : Rupiah Melemah di Pembukaan, Mata Uang Asia Kompak Bergerak Fluktuatif
Support 1: Rp 16.597
Jika rupiah mampu menembus area Rp 16.569, peluang menuju level Rp 16.563 terbuka lebar. Namun jika tekanan jual meningkat, rupiah berisiko kembali melemah ke sekitar Rp 16.597 per dolar AS.
(Dra/nusantaraterkini.co)
Baca Juga : Rupiah Dibuka Menguat Tipis ke Rp16.656 per Dolar AS, Didukung Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga The Fed
