Nusantaraterkini.co, LANGKAT - Hutan mangrove di Kabupaten Langkat, Sumatera Sumatera, memiliki lahan yang cukup luas. Bahkan, kerusakan hutan mangrove disebut-sebut cukup signifikan.
Hal ini terungkap saat Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) melakukan Sosialisasi Percepatan Rehabilitas Mangrove dan Perencanaan Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove di Kabupaten Langkat yang digelar di Ruang Pola, Kantor Bupati Langkat, Kamis (29/8/2024).
"Pertama kita melaksanakan sosialisasi percepatan sosialisasi mangrove di Kabupaten Langkat. Pertama untuk memberikan informasi terkait dengan rehabilitas mangrove," ujar Plh Deputi edukasi dan Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan BRGM, Suwignya Utama.
Baca Juga : Menilik Pesona Hutan Bakau di Bekasi Jawa Barat
Lanjut Utama, diharapkan sosialiasi dilakukan adanya kesepahaman bersama pentingnya rehabilitas mangrove.
"Kedua mengidentifikasi peran-peran stakeholder di dalam mendukung merehabilitas mangrove di Kabupaten Langkat. Dan yang ketiga membulatkan tekad kesiapan berpartisipasi dalam program rehabilitas mangrove," ucap Utama.
Sementara itu, Kapokja Rehabilitasi Mangrove Wilayah Sumatera, Sumidi menjelaskan, hutan mangrove di Kabupaten Langkat cukup luas sekitar 20 ribu hektar.
Baca Juga : 6.078 Hektare Mangrove Ditarget Direhabilitasi hingga 2027
Dan kemudian sudah ada potensi habitat mangrove sekitar 4 ribu hektar.
"Jadi kalau kita lihat di peta mangrove Nasional, mangrove-mangrove yang rusak teridentifikasi pada tutupan mangrove yang jarang dan sedang sekitar 8 ribu hektar," kata Sumidi.
"Dan untuk potensi sendiri bisa berupa lahan terbuka, pesisir yang rusak, atau tambak serta wilayah-wilayah yang sebenarnya potensi menjadi habitat mangrove yang luasnya sekitar 4 ribu hektar tadi. Saya kira tantangan di Kabupaten Langkat ini cukup besar karena mangrovenya luas dan kerusakannya cukup signifikan," sambungnya.
Baca Juga : Wisatawan Keluhkan Jalan Rusak Menuju Desa Bonandolok Samosir
Sumidi menambahkan, tahun ini pihaknya mendapat dukungan kegiatan program Mangrove Costa Rebillion yang dilaksanakan pada tahun 2024 ini.
Ia mengaku timnya bersama beberapa stakeholder dari KPH, BRGM, dari dinas sebagainya, sudah melakukan beberapa kegiatan untuk mengidentifikasi untuk lokasi-lokasi yang menjadi sasaran kegiatan.
"Dilanjutkan dengan kegiatan padiatapa. Itu penyampaian informasi kepada masyarakat yang ada lokasi yang rusak untuk dilakukan rehabilitas mangrove. Jadi pemyampaian informasi di awal tanpa paksaan atau padiatapa. Kegiatan ini diharapkan bisa diterima oleh masyarakat," tutupnya. (rsy/nusantaraterkini.co)
Baca Juga : Hujan Deras Disertai Angin Kencang Terjang Binjai, Puluhan Pohon Tumbang, Rumah dan Sekolah Rusak
