Nusantaraterkini.co, JAKARTA - DIrektur Rumah Politik Indonesia Fernando Emas menilai, pidato Ketua DPR, Puan Maharani dalam sidang tahunan MPR yang menyinggung tentang narasi "Indonesia Gelap", Negeri Wakanda hingga One Piece merupakan bentuk harapan kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Apalagi, seperti apa yang disampaikan oleh Puan, bahwa simbol yang disampaikan oleh masyarakat ada pesan yang harus didengar karena ada harapan kepada pemerintah.
"Apa yang disampaikan oleh Puan menunjukkan dukungan PDI Perjuangan kepada kritik yang dilakukan oleh masyarakat terhadap pemerintah. Membuktikan bahwa PDI Perjuangan berada di luar pemerintahan dan membutuhkan masyarakat untuk melakukan kontrol terhadap pemerintahan Prabowo Subianto," katanya, Sabtu (16/8/2025).
Baca Juga : Puan Maharani Soroti Sindiran “Indonesia Gelap” hingga Bendera One Piece di Sidang Tahunan MPR/DPR
Selain itu, pidato Puan terkait dengan demokrasi campur tangan dan buah tangan, menurut Fernando ditujukan bagi semua para elit dan pemimpin bangsa agar tidak merusak demokrasi dan menjadikan negara ini sebagai negara dinasti.
Namun bisa saja pernyataan tersebut dimaknai, ditujukan kepada Presiden ke-7, Joko Widodo yang dianggap pada saat memerintah ikut "cawe-cawe" pada pemilu yang lalu.
"Namun pernyataan Puan tersebut harus menjadi pengingat bagi semua untuk tidak memanfaatkan kekuasaan memenangkan pihak yang diinginkan," tegas dia.
Sebelumnya, Ketua DPR Puan Maharani menyinggung berbagai bentuk kritik kreatif masyarakat terhadap pemerintah
Puan menyebut, kritik kini kerap disampaikan dengan bahasa yang dekat dengan generasi muda dan dunia digital, mulai dari kalimat satir, lelucon politik, hingga simbol-simbol populer.
Baca Juga : Puan Maharani: DPR akan Tinjau Permintaan Basuki untuk Bandara VIP Jadi Bandara Umum
"Ada yang menulis ‘kabur aja dulu’, sindiran tajam ‘Indonesia Gelap’, lelucon politik ‘negara Konoha’, sampai simbol baru seperti ‘bendera One Piece’. Semua itu menyebar luas di ruang digital,” kata Puan.
Menurutnya, fenomena ini adalah bukti bahwa aspirasi rakyat tidak lagi selalu disampaikan lewat cara formal, melainkan dengan gaya komunikasi zaman sekarang.
Ketua DPP PDIP itu mengingatkan para pemegang kekuasaan untuk tidak mengabaikan pesan yang terkandung di balik setiap sindiran.
(cw1/nusantaraterkini.co)
