Nusantaraterkini, Dairi - Kisah perjuangan para guru honorer di Indonesia kembali menarik perhatian publik. Salah satunya adalah cerita N.S, seorang guru honorer di desa Kerajaan, Kecamatan Sempat Nempu, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara.
Dengan gaji yang jauh dari layak, N.S tetap setia mendidik generasi muda meskipun harus menghadapi berbagai keterbatasan ekonomi dan fasilitas.
Baca Juga : Rumah Hanyut Disapu Banjir, Mak Sari Tetap Semangat Mengais Harapan di Balik Meja Takjil Tenda Pengungsian
Kisah ini menggambarkan bagaimana guru-guru di pelosok negeri tetap berjuang meski dengan gaji minim dan beban tanggung jawab yang besar.
Baca Juga : Kisah Pak Nanang: Mengais Rezeki di Balik Riuh Perayaan Imlek Glodok
Dalam wawancara eksklusif melalui panggilan suara WhatsApp pada Kamis, (10/10/24), N.S berbicara tentang perjuangannya selama belasan tahun menjadi guru honorer.
"Saya sudah jadi guru honorer lebih dari 17 tahun," ungkapnya.
"Dulu, gaji saya hanya Rp 450 ribu per triwulan. Itu pun bergantung pada jumlah murid yang ada di sekolah, karena kami dibayar dari Dana BOS. Kalau murid sedikit, gajinya juga ikut sedikit."
Baca Juga : Herman dan Becak Dayungnya: Kisah Inspiratif di Tengah Laju Modernitas
N.S menjelaskan bahwa dana BOS yang mengatur penggajian guru honorer sering kali tidak mencukupi. Akibatnya, ia harus bertahan dengan gaji minim selama bertahun-tahun.
Meskipun kini gajinya naik menjadi Rp 1,5 juta per triwulan, ia merasa jumlah itu tetap tidak layak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Baca Juga : Viral MBG Tercemar Ada Cacing dan Ulat, SMKN 1 Sei Rempah Desak Evaluasi SPPG
"Kalau dihitung per bulan, saya hanya menerima sekitar Rp 500 ribu. Itu tentu saja tidak cukup, apalagi untuk kebutuhan hidup sekarang yang semakin mahal, apalagi anak saya sudah mau kuliah. Saya juga sambilan berjualan di sekolah seperti makanan ringan," ujarnya dengan nada lirih.
Baca Juga : Ditinggal Beli Takjil, Sepeda Motor Penjaga Toko Lenyap Digasak Maling
Selain gaji yang minim, N.S juga menghadapi berbagai tuntutan administrasi yang harus diurus.
"Sebagai guru, kami tidak hanya mengajar. Ada banyak berkas yang harus diselesaikan, mulai dari data murid hingga laporan ke sekolah. Tuntutan administrasi ini kadang membuat kami kewalahan, apalagi dengan fasilitas yang terbatas di kampung," ungkapnya.
N.S menceritakan bagaimana fasilitas di sekolah tempatnya mengajar jauh dari memadai.
"Kadang kami harus mengajar dengan perlengkapan seadanya. Komputer pun terbatas, jadi pengisian data harus antri. Ini membuat pekerjaan administrasi semakin lama selesai, tapi mau bagaimana lagi, kami harus tetap melakukannya."
Meski kondisi finansialnya jauh dari layak, N.S tetap setia pada profesinya sebagai pendidik.
Ia mengungkapkan bahwa kecintaannya terhadap dunia pendidikan menjadi salah satu alasan ia bertahan hingga kini.
"Saya memang mencintai dunia pendidikan. Melihat anak-anak berhasil memahami pelajaran dan tumbuh menjadi generasi yang lebih baik, itulah kebahagiaan saya. Rasa cinta itulah yang membuat saya bertahan selama ini, meski gajinya tidak sebanding dengan kerja keras yang dilakukan," kata N.S dengan suara bergetar.
Kisah N.S ini mengingatkan pada nasib Pak Alvi, seorang guru honorer di Jawa Timur yang viral di media sosial karena harus bekerja sebagai pemulung sepulang mengajar.
Meski sudah mengabdi selama 36 tahun, Pak Alvi masih harus mencari penghasilan tambahan untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.
"Kisah Pak Alvi sangat menyentuh hati. Saya bisa merasakan apa yang beliau alami karena kami berada di posisi yang sama. Banyak guru honorer yang menghadapi kesulitan yang sama, tapi mereka tetap bertahan karena rasa tanggung jawab terhadap pendidikan anak-anak," kata N.S.
N.S berharap ada perhatian lebih dari pemerintah terhadap kesejahteraan para guru honorer, terutama di daerah-daerah terpencil.
"Harapan saya, pemerintah bisa meningkatkan gaji kami agar lebih layak. Selama ini kami merasa diabaikan, padahal peran kami di dunia pendidikan sangat penting. Kami juga berharap ada peningkatan fasilitas di sekolah-sekolah pelosok, agar proses belajar mengajar bisa lebih efektif dan anak-anak bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik."
Ia juga menyampaikan harapannya agar status guru honorer bisa diperjelas, terutama terkait peluang untuk diangkat menjadi pegawai negeri.
"Banyak dari kami yang sudah mengabdi puluhan tahun tapi belum juga diangkat. Rasanya seperti bekerja tanpa kepastian masa depan. Kami berharap, ada kebijakan yang lebih adil untuk guru-guru honorer seperti kami," tambahnya.
Kisah perjuangan N.S dan Pak Alvi menggambarkan betapa sulitnya hidup sebagai guru honorer di Indonesia.
Meski hidup dalam keterbatasan, mereka tetap menjalankan profesinya dengan penuh dedikasi dan cinta.
"Kami hanya ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak, meski kondisi kami sendiri jauh dari sejahtera. Itulah yang membuat kami tetap bertahan," pungkas N.S.
Harapan besar mereka kini tertuju pada perhatian pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan para guru honorer di seluruh Indonesia.
Dengan gaji yang layak dan fasilitas yang memadai, para guru ini bisa fokus menjalankan tugas mereka mencerdaskan kehidupan bangsa tanpa harus terjebak dalam kesulitan ekonomi.
(Cw9/Nusantaraterkini.co)
