Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Perundingan Gencatan Senjata Mandek, Kecemasan dan Ketakutan Bayangi Semangat Ramadan Warga Gaza

Editor:  Rozie Winata
Reporter: Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Warga Palestina menikmati hidangan buka puasa di antara puing-puing rumah yang hancur pada hari pertama Ramadan di Kota Jabalia, Jalur Gaza utara, pada 1 Maret 2025. (Foto: Xinhua/Mahmoud Zaki)

Nusantaraterkini.co, GAZADi tengah kehancuran dan kehilangan orang-orang tercinta, warga Palestina di Jalur Gaza terpaksa menyambut bulan suci Ramadan tahun ini dengan luka emosional dan kondisi fisik yang kelelahan, setelah 15 bulan rentetan serangan Israel di daerah kantong yang terkepung itu.

Nuansa berbeda yang dijalani umat Islam di seluruh dunia dalam menyambut Ramadan dengan doa dan perayaan, pemandangan di Gaza justru mencerminkan kisah sebaliknya.

Ruas-ruas jalan di Gaza yang dahulu ramai dan dipenuhi semarak kehidupan, kini tinggal bersama puing-puing rumah yang hancur akibat konflik. Sementara udara dipenuhi bau mesiu, kematian, dengan berbagai dampaknya.

Menyusul berakhirnya fase pertama gencatan senjata antara Palestina dan Israel pada Sabtu (1/3/2025) kemarin, dan belum adanya sinyal dimulainya fase kedua gencatan senjata, warga Gaza kini hidup dalam kecemasan tinggi, dan ketakutan akan kemungkinan konflik yang bisa kembali pecah kapan saja.

"Hari-hari yang berlalu tanpa serangan telah memberikan sedikit kelegaan. Namun di saat yang sama, kami hidup dalam ketakukan akan terjadi kembali serangan," kata Om Mohammed al-Najjar dari Khan Younis, Gaza selatan.

Akibat perang, Mohammed al-Najjar mengaku kehilangan tempat tinggal dalam pengeboman baru-baru ini.

“Kita sudah cukup menderita. Ramadan seharusnya menjadi masa yang penuh kedamaian, tapi di sini, tidak ada kedamaian,” ujarnya.

Baca Juga: Perundingan Gencatan Senjata Mandek, Masa Depan Gaza Masih Terombang-Ambing (Bagian 1)

Sementara Mohammed Al-Dahdouh (45), seorang ayah empat anak dari Kota Gaza, mengenang kembali momen-momen indah saat keluarganya menghiasi rumah mereka dengan lentera dan hiasan berwarna cerah. Dapur dipenuhi aroma lezat maqluba dan qatayef, hidangan tradisional Timur Tengah, dan gelak tawa menggema di seluruh ruangan.

“Dahulu, Ramadan selalu menjadi momen berkumpulnya anggota keluarga di sekitar meja makan, dengan gelak tawa anak-anak, dan aroma makanan yang memenuhi ruangan,” kata Al-Dahdouh kepada Xinhua.

“Sekarang, tidak ada rumah, bahkan tidak ada meja makan. Kami terpaksa berdesakan di dalam tenda kecil, dan makanan yang kami miliki hampir tidak mencukupi,” tambahnya.

“Kami bertahan hidup karena tidak punya pilihan lain. Kami orang-orang yang mencintai kehidupan, dan kami berhak hidup dengan damai dan aman,” ungkapnya.

Di Kota Beit Lahia di Gaza utara, Suzanne Abdel-Ati berjalan di antara tenda-tenda yang dipasang di sebuah lahan terbuka. Sambil berkeliling, dia bertukar sapa dengan para tetangga barunya, yang sebagian besar merupakan sesama pengungsi.

“Selama konflik berlangsung, para tentara musuh membunuh hampir seluruh anggota keluarga saya, dan saat ini saya hanya ditinggalkan bersama dengan dua orang anak saya yang masih hidup,” kata Abdel-Ati kepada Xinhua.

Dia mengenang kembali masa-masa ketika keluarganya berkumpul setiap malam untuk berbuka puasa. “Sekarang, mereka sudah tiada,” ujarnya lirih.

Sedangkan, Tasaheel Nassar, seorang wanita Palestina dari Kota Rafah yang kehilangan suaminya, saudara laki-laki, dan orang tuanya dalam sebuah serangan udara Israel, mengungkapkan kepada Xinhua bahwa "Semangat bulan suci Ramadhan seolah-olah sudah memudar di Gaza. Tidak ada lagi dekorasi lentera, hiasan khas Ramadhan, dan keriuhan pasar yang semarak. Sebaliknya, yang ada hanyalah resistensi yang ditinggalkan oleh bayang-bayang kematian dan kehancuran yang terus menghantui."

Baca Juga: Perundingan Gencatan Senjata Mandek, Masa Depan Gaza Masih Terombang-Ambing (Bagian 2)

“Orang-orang tercinta kami sudah tiada, dan kami tidak lagi memiliki gairah untuk melanjutkan hidup,” katanya, seraya menambahkan bahwa “kepedihan seakan tak berhenti menyayat, dan kini semakin parah karena bulan suci Ramadhan membawa kembali kenangan akan anggota keluarga yang sudah tiada.”

Meski begitu, sebagian warga Gaza tetap memilih untuk tidak menyerah. Arkan Radi, pria berusia 35 tahun dari Deir al-Balah, Gaza tengah, bersama teman-temannya, menggantung dekorasi khas Ramadhan di tenda mereka.

“Kami tahu dekorasi ini tidak akan mengubah kenyataan kami,” kata Radi, “Namun, ini adalah bentuk pesan bahwa kami masih di sini, masih bertahan hidup, bahkan di masa-masa tergelap sekalipun. Ini memang bukan solusi, tetapi saya ingin memberikan pesan harapan dan kegembiraan bagi anak-anak saya.”

(Zie/Nusantaraterkini.co)

Sumber: Xinhua