Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Pengamat: BERANI Ungguli Debat Pertama Pilkada Medan 2024

Editor:  Feriansyah Nasution
Reporter: Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Debat perdana Pilkada Medan 2024. (Foto: Elvirida Lady Angel Purba/Nusantaraterkini.co)

Nusantaraterkini.co, MEDAN - Dilema paslon 1 dan paslon nomor 3 sukar disembunyikan, ketika mereka menginginkan dukungan pemilih kota namun sekaligus dengan tetap memuji Bobby Afif Nasution, Wali Kota Medan Non-aktif.  

Demikian penilaian Pengamat Politik Sumut Shohibul Anshor Siregar usai menyaksikan debat perdana Pilkada Medan 2024, Jumat (8/11/2024). 

Menurut Shohibul, disadari atau tidak, tampaknya Rico menyampaikan visi paslon nomor urut 1 ini dengan penekanan kritik yang cukup pedas terhadap Wali Kota Medan dengan konsep pemerataannya.

Baca Juga : Mantapkan Kesiapan PPK, KPU Medan Gelar Simulasi Pungut dan Hitung Suara di TPS

Pelayanan kesehatan bukan utuk si A atau si B, namun untuk semuanya. Pendidikan bukan utuk si A atau si B, namun untuk semuanya. Pelayanan kesejahteraan bukan hanya untuk si A atau si B, melainkan untuk semuanya. Ini jelas kritik. 

Rico juga menekankan perhatian atas konsep pemerataan, ramah investasi dan infrastruktur yang humanis dan harmonis untuk pembangunan yang sustainable.

Paslon ini berjanji membangun Kota Medan untuk semua.

Baca Juga : Rico-Zaki Punya Semangat Baru Menangkan Pilkada Medan

Dalam memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan debat, kata Shohibul, akhirnya kedua paslon ini berhenti sebatas reaksi-reaksi normatif belaka, tanpa elaborasi dan eksplorasi berbasis logika sehat. 

Hidayatullah bahkan kehabisan waktu dalam pemaparan visi karena seakan lebih memerlukan penegasan untuk memuji-muji Bobby Afif Nasution. 

Hidayatullah tentu tak menghitung kemanfaatan data yang diungkapkannya dengan mengatakan bahwa tahun lalu Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai Rp 303 triliun. Pendapatan perkapita Rp 120 juta pertahun, atau Rp 10 juta perbulan. 

Orang yang faham tentu mencibir, bahwa data agregat ini amat teoritis dan jauh dari kenyataan hidup yang diderita rakyat kebanyakan. Bahkan jika tanpa pemerintahan pun PDRB yang dia ungkapkan juga akan tumbuh sedemikian rupa.

Tetapi sadar bahwa jika terus memuji-muji, ia akan ditinggal pemilih. Karena itu, dalam bagian terakhir ia memaparkan kondisi buruk Medan saat ini dengan jumlah warga miskin cukup besar, 187 ribu jiwa.

Sedangkan, di tangan Ridha Dharmajaya, lanjut Shohibul, hal-hal yang ingin ditutupi oleh kedua paslon lawannya itu menjadi amat jelas. 

Banjir, infrastruktur yang kacau, rendahnya daya beli rakyat di tengah melonjaknya harga sembako. Medan butuh pemimpin yang tak akan membiarkan rakyat menderita, bukan pemimpin yang meninggalkan permasalahan besar karena ingin meraih kekuasaan lebih besar. 

Karenanya, saran Shohibul, untuk debat berikutnya kedua paslon pemuji Bobby Afif Nasution itu perlu memikirkan agar keterancaman nasib keterpilihan paslon sendiri tidak semakin besar hanya karena ingin melindungi Bobby Afif Nasution. 

Banyak keuntungan bagi Paslon nomor 2 jika pola yang ditempuh oleh paslon nomor 1 dan 3 tidak dirubah. 

(fer/nusantaraterkini.co)