Nusantaraterkini.co, SANTORINI - Tercatat lebih dari 200 kali gempa bumi terjadi di dekat tempat wisata ikonik Yunani, pulau Santorini pada Minggu (2/2/2025).
Para ahli gempa bumi mengatakan peningkatan aktivitas seismik di sekitar pulau yang terkenal dengan bangunan bercat putih dan pantai berpasir hitam tidak terkait dengan aktivitas vulkanik. Gempa bumi terkuat yang tercatat berkekuatan 4,6 magnitudo pada Minggu sore.
"Sementara beberapa gempa bumi berkekuatan lebih dari 4 magnitudo dan puluhan gempa bumi berkekuatan 3 magnitudo telah menyusul," ungkap laporan tersebut, seperti dimuat Sky News dilansir via RMOL, Senin (3/2/2025).
Baca Juga: Gempa Magnitudo 6.2 Aceh Selatan, Masyarakat Berlarian, BNPB Pastikan Tidak Ada Korban Jiwa
Perdana Menteri Yunani Kyriakos Mitsotakis memimpin rapat darurat di Athena, saat otoritas Santorini bersiap menghadapi kemungkinan evakuasi. Tenda telah didirikan di stadion luar ruangan, polisi dan pemadam kebakaran telah disiagakan, dan unit tanggap bencana khusus dengan anjing pelacak telah bersiaga.
Penduduk pulau telah disarankan untuk menghindari acara terbuka yang besar dan menjauh dari empat pelabuhan kecil termasuk pelabuhan Fira, yang sebagian besar melayani kapal pesiar.
Pemilik rumah dan hotel juga telah diminta untuk menguras kolam renang mereka karena khawatir volume air yang besar dapat mengganggu kestabilan bangunan jika terjadi gempa bumi yang kuat. Sekolah juga akan ditutup pada hari Senin di Santorini serta di pulau-pulau terdekat Amorgos, Ios, dan Anafi.
Baca Juga: Gempa Magnitudo 6,2 Guncang Aceh Selatan, Getaran Dirasa Sampai Medan
Para ahli mengatakan tidak mungkin untuk memprediksi apakah aktivitas seismik dapat menyebabkan gempa bumi yang lebih kuat, tetapi menambahkan bahwa daerah tersebut berpotensi menghasilkan gempa bumi berkekuatan 6 magnitudo.
Diketahui, Yunani terletak di beberapa garis patahan dan sering diguncang gempa bumi. Santorini dikunjungi oleh sekitar tiga juta orang setiap tahunnya, termasuk banyak wisatawan Inggris.
Salah satu letusan gunung berapi terbesar dalam sejarah, sekitar tahun 1600 SM, membentuk pulau tersebut dalam bentuknya saat ini, sementara letusan terakhir di daerah tersebut terjadi pada tahun 1950.
(*/Nusantaraterkini.co)
