Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Misteri Kematian Winda di Medan: Pernah Jadi Saksi KPK dalam Kasus Bea Cukai

DPR Minta Polda Sumut Bentuk Tim Khusus

Winda Lorenza Gowasa ditemukan tewas di Medan dan pernah diperiksa KPK terkait kasus Bea Cukai. DPR minta Polda Sumut ungkap kasus secara transparan.

Winda Lorenza Gowasa ditemukan meninggal dunia tidak wajar di kamar mandi rumah mantan mertuanya di Kompleks Bumi Asri, Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan, Sumatera Utara, pada Minggu (2/8/2026) siang lalu. (Foto: istimewa)
Winda Lorenza Gowasa ditemukan meninggal dunia tidak wajar di kamar mandi rumah mantan mertuanya di Kompleks Bumi Asri, Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan, Sumatera Utara, pada Minggu (2/8/2026) siang lalu. (Foto: istimewa)
A A

Nusantaraterkini.co, – Kematian di Kota Medan mendapat perhatian luas setelah diketahui bahwa perempuan tersebut sebelumnya pernah diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi () sebagai saksi dalam perkara dugaan korupsi di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC).

Winda ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tidak wajar di kamar mandi rumah mantan mertuanya di Kompleks Bumi Asri, Kecamatan Helvetia, Kota Medan, Minggu (2/8/2026) siang.

Kabar tersebut kemudian menjadi sorotan karena nama Winda tercatat dalam agenda pemeriksaan terkait penyidikan dugaan korupsi di sektor kepabeanan.

Meski demikian, hingga saat ini belum ada bukti atau keterangan resmi dari aparat penegak yang menyatakan kematian Winda berkaitan dengan perkara yang pernah didalami KPK.

Polisi masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap secara utuh penyebab dan rangkaian peristiwa yang menyebabkan perempuan tersebut meninggal dunia.

Pernah Dipanggil KPK sebagai Saksi

Sebelum meninggal, diketahui pernah menjalani pemeriksaan di KPK pada April 2026.

Dalam agenda tersebut, Winda yang tercatat sebagai pihak swasta diperiksa bersama Salisa Asmoaji, seorang pegawai .

Keduanya dimintai keterangan sebagai saksi dalam penyidikan dugaan tindak pidana korupsi di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

Juru Bicara KPK Budi Prasetyo saat itu membenarkan adanya agenda pemeriksaan tersebut.

“Hari ini KPK menjadwalkan pemeriksaan saksi terkait dugaan tindak pidana korupsi di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai,” kata Budi pada Kamis (9/4/2026).

Pemeriksaan tersebut merupakan bagian dari proses penyidikan KPK untuk mengurai dugaan praktik korupsi dalam sektor kepabeanan.

Dalam perkara itu, penyidik menduga terdapat pengaturan terhadap jalur importasi yang memungkinkan barang tertentu melewati proses pemeriksaan secara tidak semestinya.

Salah satu dugaan modus yang diungkap adalah manipulasi pada sistem atau mesin pemeriksaan sehingga barang milik PT Blueray Cargo tidak menjalani pemeriksaan fisik sebagaimana mestinya.

Praktik tersebut diduga berkaitan dengan pemberian uang secara berkala kepada pihak tertentu.

Penyidik KPK juga mendalami dugaan pengelolaan uang hasil praktik tersebut secara tersembunyi. Sejumlah tempat disebut diduga digunakan untuk menyimpan uang, termasuk kendaraan operasional.

Dalam operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan pada awal Februari 2026, KPK menyita barang bukti dengan nilai sekitar Rp40,5 miliar.

Dalam perkara tersebut, KPK telah menetapkan enam orang sebagai tersangka.

Mereka adalah Rizal, Direktur Penindakan dan Penyidikan DJBC; Sisprian Subiaksono, Kepala Subdirektorat Intelijen P2 DJBC; Orlando Hamonangan, Kepala Seksi Intelijen DJBC; John Field, pemilik PT Blueray Cargo; Andri, Ketua Tim Dokumen Importasi; serta Dedy Kurniawan, Manajer Operasional PT Blueray Cargo.

Adapun Winda Lorenza Gowasa dalam perkara tersebut berstatus sebagai saksi, bukan tersangka.

Identitas Korban dan Saksi KPK Masih Perlu Konfirmasi Resmi

Kematian Winda kemudian memunculkan pertanyaan lain mengenai identitas korban yang ditemukan meninggal di Medan dengan perempuan yang pernah diperiksa KPK pada April 2026.

Hingga berita ini ditulis, KPK belum memberikan konfirmasi resmi mengenai hal tersebut.

Juru Bicara KPK Budi Prasetyo juga belum memberikan tanggapan ketika dikonfirmasi melalui WhatsApp pada Jumat (7/8/2026) malam.

Pesan konfirmasi yang dikirim belum dibaca saat berita ini ditayangkan.

Di sisi lain, sumber internal KPK secara off the record menyebutkan bahwa Winda Lorenza Gowasa yang diperiksa penyidik KPK merupakan orang yang sama dengan perempuan yang ditemukan meninggal di Medan.

Namun, informasi tersebut belum dapat diposisikan sebagai pernyataan resmi KPK sehingga masih membutuhkan konfirmasi dari lembaga antirasuah tersebut.

Yasonna Minta Bentuk Tim Khusus

Winda turut mendapat perhatian anggota Komisi XIII DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, .

Yasonna meminta Polda menangani perkara tersebut secara terbuka dan transparan.

“Kita minta mengungkap kasus ini secara terbuka dan transparan,” kata Yasonna, Sabtu (8/8/2026).

Menurut Yasonna, informasi mengenai kematian Winda yang beredar di publik mengandung sejumlah hal yang perlu ditelusuri secara serius.

Karena itu, ia mendorong Polda Sumut membentuk tim khusus untuk menangani penyelidikan.

“Untuk itu Polda Sumut perlu membentuk Tim Khusus untuk menyelidikinya. Puslabfor Polri juga perlu dilibatkan,” ujarnya.

Desakan tersebut menambah perhatian terhadap Winda yang kini tidak hanya menjadi sorotan masyarakat, tetapi juga mendapat perhatian dari parlemen.

Dokter Forensik Ungkap Temuan pada Jenazah

Hasil pemeriksaan terhadap jenazah Winda sebelumnya juga telah disampaikan dokter forensik RS Bhayangkara Medan, dr. Mistar Ritonga.

Dari pemeriksaan tersebut ditemukan luka yang disebut sebagai luka tembak tempel.

Luka tersebut terjadi ketika senjata api berada dalam posisi menempel pada permukaan kulit saat ditembakkan.

“Ciri-ciri luka tembaknya adalah luka tembak tempel. Kalau luka tempel berarti senjatanya menempel ke kulit,” jelas Mistar.

Menurut pemeriksaan forensik, proyektil peluru bergerak hingga ke bagian dasar tengkorak dan menyebabkan keretakan. Namun, peluru tidak sampai menembus kulit karena kehilangan daya.

Selain luka tembak, dokter juga menemukan luka sayatan pada tangan serta sejumlah bekas luka lama.

Sementara itu, pemeriksaan tidak menemukan tanda kekerasan berupa cekikan.

Lebam pada tubuh korban juga diduga merupakan perubahan fisiologis yang terjadi setelah kematian dan bukan akibat tindak kekerasan.

Adapun bekas jahitan di bagian leher dan kepala merupakan bagian dari proses autopsi.

Polisi Perlu Ungkap Fakta Secara Menyeluruh

Kematian Winda menjadi perhatian lebih besar karena namanya sebelumnya muncul dalam proses penyidikan KPK. Namun, fakta tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa kematian Winda berkaitan dengan perkara dugaan korupsi .

Kedua perkara tersebut perlu ditempatkan secara terpisah sampai penyidik menemukan bukti yang menunjukkan adanya hubungan.

Hal terpenting saat ini adalah pengungkapan fakta berdasarkan hasil penyelidikan dan pemeriksaan ilmiah.

Kepolisian perlu menjelaskan kronologi kejadian, hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), pemeriksaan balistik, hasil autopsi, serta keterangan para saksi.

KPK juga diharapkan dapat memberikan kejelasan mengenai status pemeriksaan Winda dalam perkara dugaan korupsi Bea Cukai apabila memang telah terkonfirmasi bahwa korban merupakan orang yang sama dengan saksi yang pernah diperiksa.

Dorongan Yasonna agar Polda Sumut membentuk tim khusus dan melibatkan Puslabfor Polri menunjukkan pentingnya pendekatan berbasis bukti dalam mengungkap kasus tersebut.

Pada akhirnya, publik membutuhkan kepastian mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada Winda Lorenza Gowasa.

Jawaban atas kasus ini harus lahir dari fakta, bukti forensik, dan hasil penyelidikan yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan dari spekulasi.

Transparansi aparat penegak hukum menjadi penting agar proses pengungkapan kematian Winda berjalan secara profesional sekaligus mencegah munculnya berbagai dugaan yang justru dapat mengaburkan fakta sebenarnya.

(Dra/nusantaraterkini.co).

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru