Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menilai Indonesia perlu mengubah cara pandang dalam menghadapi bencana yang kian sering muncul akibat perubahan iklim. Selama ini, kata dia, kebijakan iklim nasional terlalu menitikberatkan pada mitigasi, sementara kebutuhan adaptasi justru mendesak dan berdampak langsung pada keselamatan masyarakat.
Hanif mencontohkan rentetan bencana yang melanda Sumatra dan Aceh sebagai bentuk climate disaster yang nyata. Namun, menurutnya, respons kebijakan masih timpang karena aksi adaptasi belum diprioritaskan.
“Selama ini kita cenderung fokus pada mitigasi, sementara langkah adaptasi kurang mendapat perhatian. Sekarang saatnya berpikir sebaliknya,” ujar Hanif saat memaparkan hasil COP30 UNFCCC Brazil di Hotel Kempinski Indonesia, Jakarta, Selasa (2/12/2025).
Ia menegaskan bahwa mitigasi sering memerlukan kesepakatan panjang di tingkat internasional. Sedangkan bencana datang tanpa menunggu keputusan global apa pun.
“Bencana tidak menunggu konsensus internasional untuk terjadi. Hari ini saja korban sudah lebih dari 600 jiwa,” tegasnya.
Karena itu, Hanif menilai bahwa Indonesia harus segera membangun langkah adaptasi yang konkret dan siap dijalankan di lapangan. Ia mendorong perubahan strategi, dari yang sebelumnya lebih menonjolkan mitigasi menjadi memberi ruang lebih besar pada adaptasi.
Baca Juga : Menteri Lingkungan Hidup Hentikan Sementara Operasional Tiga Perusahaan di Tapsel
“Kita harus memastikan keselamatan warga ketika climate disaster kembali muncul. Masa iya kita tidak mampu melindungi penduduk kita di kesempatan berikutnya?” tambahnya.
Hanif menekankan bahwa adaptasi tidak bisa berjalan tanpa dukungan teknologi yang memadai. Menurutnya, penguatan teknologi menjadi fondasi utama untuk meminimalkan dampak bencana di masa depan.
“Karena itu kita perlu membangun adaptasi yang ditunjang oleh teknologi yang relevan dan kuat,” kata Hanif menutup pernyataannya.
(Dra/nusantaraterkini.co)
