Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Menelusuri Jejak Leluhur dalam Ziarah Palembang Lamo, Mengenal Sang Penjaga Sejarah Palembang

Editor:  Herman Saleh Harahap
Reporter: Adetia Purwaningsih
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Suasana ziarah di kompleks pemakaman Sabokingking tempat yang dianggap sakral dan merupakan pusat pemerintahan

Nusantaraterkini.coPALEMBANG - Ki Gede Ing Suro (Penguasa Awal Palembang) Beliau adalah sosok kunci dalam masa transisi sejarah Palembang. Ki Gede Ing Suro merupakan bangsawan dari Kerajaan Demak yang hijrah ke Palembang pada abad ke-16 (sekitar tahun 1540-an) setelah runtuhnya Kesultanan Demak.

Ia dianggap sebagai peletak dasar pemerintahan Islam di Palembang sebelum resmi menjadi kesultanan. Di bawah kepemimpinannya, Palembang mulai membangun benteng-benteng pertahanan dan menjadi pusat pemukiman yang kuat di pinggir Sungai Musi.

Baca Juga : Gurihnya Laksan Kuah Udang Satang Kedai Pempek Ce’ Anie: Menilik Primadona Buka Puasa yang Tembus Pasar Hong Kong

Setelah ia meninggal, kompleks pemakaman Sabokingking tempatnya bersemayam dianggap sebagai wilayah paling sakral dan merupakan pusat pemerintahan "Palembang Lamo".

Baca Juga : Gurihnya Laksan Kuah Udang Satang Kedai Pempek Ce’ Anie: Menilik Primadona Buka Puasa yang Tembus Pasar Hong Kong

Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) I (Pendiri Kawah Tengkurep) Berbeda dengan SMB II yang merupakan pahlawan nasional melawan penjajah, Sultan Mahmud Badaruddin I (Jayo Wikramo) adalah Sultan Palembang ketujuh yang memerintah pada tahun 1724-1757.

Beliau adalah sosok visioner yang membangun Masjid Agung Palembang dan kompleks pemakaman Kawah Tengkurep. Di masa pemerintahannya, Kesultanan Palembang mengalami kemajuan pesat di bidang arsitektur, kebudayaan, dan ekonomi.

Beliau membangun makam ini dengan konsep unik, di mana atap cungkup makamnya menyerupai kawah (kuali besar) yang terbalik atau tengkurep. Di sinilah beliau dimakamkan bersama istri-istri, anak-anak, serta para ulama besar kepercayaannya.

Alur Ziarah Makam

Sebelumnya, Keagungan sejarah para tokoh tersebutlah yang memanggil ratusan warga untuk kembali berkumpul, meski langit di atas kawasan 1 Ilir tampak kelabu dan rintik hujan mulai membasahi Bumi Sriwijaya pada Sabtu (14/2/2026) pagi.

Dingin yang menusuk tak sedikit pun menyurutkan langkah kaki mereka, sebuah bukti bahwa hangatnya rasa hormat kepada leluhur jauh lebih kuat daripada rintik hujan.

Dengan payung dan jas hujan, mereka berkumpul di Masjid Sultan Agung memulai sebuah perjalanan spiritual yang melintasi lorong waktu, yakni Ziarah Kesultanan dan Auliya’ Palembang Darussalam ke-VI.

Ziarah ini bukan sekadar prosesi tabur bunga. Ini adalah "Pawai Ta'aruf" atau perkenalan kembali generasi masa kini dengan para raksasa sejarah yang membentuk fondasi Palembang.

Dari Masjid Sultan Agung, iring-iringan motor dan mobil bergerak khidmat menuju titik-titik sakral yang menyimpan jasad para pendiri dan penjaga ruhani kota ini.

Destinasi pertama membawa peziarah ke Makam Ki Gede Ing Suro di kompleks Sabokingking. Di sinilah bersemayam sosok bangsawan dari Kerajaan Demak yang hijrah ke Palembang pada abad ke-16, menjadi peletak batu pertama bagi eksistensi Kesultanan Palembang Darussalam.

Di sela pembacaan Yasin dan Tahlil, gema sejarah seolah berbisik tentang bagaimana kedaulatan kota ini bermula. Kemudian, perjalanan berlanjut ke pemakaman Kawah Tengkurep. Nama "Tengkurep" sendiri diambil dari bentuk atap makam yang menyerupai kuali besar terbalik.

Di sana, bersemayam Sultan Mahmud Badaruddin I beserta keluarga dan para ulama besar. Kompleks ini adalah bukti bisu masa keemasan Palembang sebagai pusat perdagangan dan penyebaran Islam di Nusantara.

"Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya," ujar Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama, RM Fauwaz Diradja, di sela-sela ziarah, di kutip dari RMOL Sumsel, Rabu (18/2/2026).

Bagi Sultan, istikamah menjalankan tradisi ini selama enam tahun adalah cara menjaga "Ukhuwah" atau persaudaraan antara zuriat (keturunan) kesultanan dengan masyarakat umum.

Ada pemandangan menarik sebelum prosesi dimulai. Terlihat, warga duduk melingkar menyantap bubur suro. Tradisi kuliner yang kian langka ini sengaja dihadirkan kembali oleh panitia.

Untuk Generasi Muda

Ustadz KH Ahmad Fauzi Zawawi Idzhom, sang inisiator, menyimpan kekhawatiran mendalam terhadap generasi muda yang mulai "buta" akan akar budayanya sendiri. Ia melihat banyak anak muda Palembang yang tak lagi mengenali adat istiadat, bahkan makanan khas leluhurnya.

"Kami sengaja mengangkat kembali seni budaya dan makanan khas melalui momen ziarah ini. Kami ingin anak-anak sekolah, anggota majelis taklim, dan kaum milenial tahu bahwa leluhur kita memiliki peradaban yang sangat besar," imbuhnya.

Kegiatan yang dihadiri oleh berbagai elemen, mulai dari tokoh agama, budayawan seperti Vebri Al Lintani dan Ali Goik, hingga aparat TNI-Polri ini, menjadi simbol bahwa sejarah Palembang adalah milik kolektif.

Meski hujan terus mengguyur hingga akhir acara, kekhidmatan tak luntur. Ziarah Palembang Lamo telah menjadi jembatan bagi warga untuk pulang sejenak, mengenali jati diri mereka di tengah gempuran zaman. 

(Tia/Nusantaraterkini.co)