Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Malaysia Tangkap 171 Orang yang Diduga Terkait Pelecehan Anak

Editor:  hendra
Reporter: Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Ilustrasi

nusantaraterkini.co, MEDAN - Sebanyak 20 lokasi panti asuhan di Malaysia digerebek polisi setempat. Penggerebekan itu dilakukan pada Rabu (11/9/2024).

Dalam penggerebekan serentak itu, polisi Malaysia menangkap 171 orang, termasuk guru agama.

"Penggerebekan serentak di rumah panti asuhan di kedua negara bagian itu berhasil meangkap 171 orang termasuk pengurus dan guru agama serta ketua tempat tersebut," kata Inspektur Jenderal Polisi Malaysia, Razarudin Husain, pada Rabu, seperti dikutip dari New Straits Times.

Baca Juga : Pedagang Mainan Lecehkan 20 Siswa SD, Korban Diimingi Uang Dua Ribu Rupiah

Dari 171 orang yang ditangkap, 66 merupakan pria, 105 wanita berusia antara 17 dan 64 tahun. Hingga saat ini, belum diungkap identitas tersangka yang ditangkap.

Dalam penggerebekan itu, aparat juga menyelamatkan lebih dari 400 anak dari panti asuhan yang diduga dikelola oleh Global Ikhwan Services and Business (GISB).

Menurut Razarudin, ratusan anak itu termasuk 201 laki-laki dan 201 perempuan berusia antara satu hingga 17 tahun.

Baca Juga : Viral Aksi Ibu Lecehkan Anak Kandung di Tangerang, Polisi Tetapkan Pelaku sebagai Tersangka

Penggerebekan dilakukan sebagai tanggapan atas laporan warga yang diajukan bulan September ini atas adanya penelantaran, penganiayaan, pelecehan seksual, dan penganiayaan di tempat tersebut.

Dikutip dari Reuters, menurut pernyataan departemen agama Islam Selangor pada Kamis (12/9/2024), dua tempat yang digerebek terdaftar di pemerintah negara bagian sebagai sekolah Islam.

Departemen itu mengatakan telah memantau sekolah-sekolah tersebut pada Juli lalu, namun tidak menemukan pelanggaran yang dilakukan. Mereka akan menyelidiki lebih lanjut dan mengambil tindakan yang tepat jika ditemukan pelanggaran.

Di sisi lain, GISB membantah bahwa mereka mengeksploitasi anak-anak sebagai pekerja dan menyebut tuduhan tersebut sebagai fitnah.

“Kami membantah tuduhan ini dan menekankan bahwa perusahaan tidak akan berkompromi dengan kegiatan apa pun yang melanggar hukum, khususnya mengenai eksploitasi anak-anak sebagai pekerja," tutur GISB, seperti dikutip dari CNA.

“Kami siap menawarkan kerja sama kami kepada pihak berwenang untuk menyelesaikan masalah ini,” katanya dalam pernyataan yang dirilis pada Rabu malam.

GISB Holdings, perusahaan konglomerat Muslim yang memiliki aset sekitar USD 74,9 juta secara global, didirikan pada 2010.

Menurut laporan 2022 yang dikutip Free Malaysia Today, perusahaan ini memiliki supermarket, minimarket, toko roti, 120 restoran, dan bisnis lainnya di Malaysia, Timur Tengah, Eropa, dan China.

Konglomerasi ini memiliki lebih dari 5.000 karyawan dan mengoperasikan 415 gerai bisnis di 20 negara di Asia, Eropa, Afrika, dan Australia.

Perusahaan tersebut diduga terkait dengan Al-Arqam yang telah dibubarkan pemerintah Malaysia sejak 1994.

GISB telah mengakui adanya afiliasi tersebut, namun sekarang hanya menggambarkan dirinya sebagai perusahaan konglomerasi Islam yang bergerak sesuai praktik-praktik Muslim.

(Dra/nusantaraterkini.co).