Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Trauma Banjir Bandang, Warga Desa Ujung Batu di Tapteng Bangun Tanggul Darurat Secara Mandiri

Warga Ujung Batu, Tapteng, bangun tanggul darurat sendiri pasca banjir bandang untuk antisipasi luapan sungai berikutnya.

Nasruddin Simanullang (77), menunjukkan tanggul darurat yang dibangun secara mandiri oleh warga Desa Ujung Batu, Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, Senin (15/12/2025).(Foto: Junaidin Zai/Nusantaraterkini.co)
Nasruddin Simanullang (77), menunjukkan tanggul darurat yang dibangun secara mandiri oleh warga Desa Ujung Batu, Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, Senin (15/12/2025).(Foto: Junaidin Zai/Nusantaraterkini.co)
A A

Nusantaraterkini.co,- bandang yang menerjang Desa , Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, , pada akhir November lalu, disebut warga sebagai yang paling parah sepanjang ingatan mereka.Sebagai antisipasi, Senin (15/12/2025), warga menyelesaikan pembuatan yang mereka kerjakan secara mandiri.

Suasana di desa tersebut tampak sibuk. Pria tua hingga pemuda berkumpul di tepian sungai yang tebingnya telah tergerus arus. Menggunakan alat seadanya, mereka mengisi ribuan karung plastik dengan pasir dan tanah, lalu menyusunnya berlapis-lapis sebagai benteng pertahanan sementara. Langkah ini merupakan aksi spontanitas warga yang merasa "ditinggalkan" setelah air surut, demi mengantisipasi potensi bahu hulu yang sewaktu-waktu bisa kembali meluap.

Baca Juga : Pascabanjir, Sungai Aek Sibundong di Tapteng Melebar: Warga Sorkam Khawatir Ancaman Luapan

"Air bah datang tiba-tiba dari arah hulu, memecah tanggul sungai dan meluap ke permukiman, merobohkan dan menghanyutkan serta memaksa warga mengungsi ke desa tetangga. Seumur hidup kami di sini, belum pernah air setinggi itu. Tanggul jebol, air langsung masuk kampung,” kata Nasruddin Tanjung (71), warga , yang rumahnya hanyut tersapu arus, mengingat peristiwa akhir November itu.

Pantauan di lokasi, bekas masih terlihat jelas. Endapan lumpur menutupi pekarangan rumah, puing kayu dan perabot rumah tangga tersangkut di semak-semak. Di tepi sungai, tanggul tanah yang sebelumnya menjadi penahan luapan kini telah hancur.

“Kalau hujan turun lagi, kami takut air naik. Jadi ini kami buat seadanya dulu, yang penting bisa menahan,” ujar Nasruddin Simanullang (77), warga setempat, sembari menunjukkan lokasi tanggul yang jebol.

Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan. Setelah banjir besar itu, alur melebar dan tebingnya tergerus. Saat hujan deras turun di kawasan hulu, debit air dikhawatirkan meningkat cepat dan berpotensi kembali meluap.

Warga berharap ada penanganan lebih permanen dari pemerintah, mulai dari perbaikan tanggul hingga normalisasi sungai. Menurut mereka, dari karung pasir hanya solusi sementara yang rawan jebol jika banjir besar kembali datang.

Hingga kini, warga masih berjaga setiap kali hujan turun. Malam hari, sebagian memilih tetap terjaga untuk memantau ketinggian air sungai. Trauma banjir terparah itu belum benar-benar hilang.

Bagi warga Ujung Batu, tumpukan karung pasir di tepi sungai bukan sekadar tanggul darurat. Ia menjadi simbol kecemasan, sekaligus daya bertahan warga desa menghadapi bencana yang mereka sebut sebagai yang paling dahsyat sepanjang sejarah kampung.

“Sekarang sungainya sudah lain bentuk. Lebih lebar, lebih dekat ke rumah dan kami trauma,” kata Siti Aminah, ibu rumah tangga yang rumahnya hanya berjarak puluhan meter dari sungai.

Baca Juga : Enam Rumah Hilang Satu Rusak Parah Usai Banjir di Tapteng, Warga Sebut Dihantam Gelondongan Kayu

Warga desa mengaku belum ada perhatian langsung dari pemerintah semenjak banjir telah surut. Saat ini, warga bertahan di rumah yang masih bisa ditempati, sementara warga yang lain mengungsi ke desa tetangga.

(Cw7/Nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru