Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Loyalisme Personal sebagai Pengkhianatan Demokrasi

Demokrasi Indonesia dirancang bukan untuk melayani figur, keluarga, atau kelompok kecil tertentu, melainkan untuk menjadi wadah perjuangan kepentingan

Ilustrasi. (Foto: istimewa)
Ilustrasi. (Foto: istimewa)
A A

nusantaraterkini.co, JAKARTA - dirancang bukan untuk melayani figur, , atau kelompok kecil tertentu, melainkan untuk menjadi wadah perjuangan rakyat. menegaskan bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat, dijalankan melalui mekanisme representasi institusional.

Namun, hari ini kita menyaksikan sebuah gejala berbahaya: menguatnya loyalis atau fanatisme , yang menjelma dalam bentuk seperti atau . Mereka tidak memperjuangkan ideologi, tidak mengusung agenda publik, dan tidak mewakili kepentingan rakyat banyak. Yang mereka perjuangkan adalah kepentingan , keluarga, dan kelompok politik tertentu.

Fenomena ini bukan sekadar ekspresi dukungan politik. Ia adalah bentuk pengkhianatan terhadap dan rakyat karena:

 1. Menggeser dari institusi ke figur.

Demokrasi seharusnya bekerja melalui partai politik, ormas, serikat pekerja, asosiasi profesi, dan organisasi masyarakat sipil. Ketika fanbase masuk ke ruang pengambilan keputusan, maka demokrasi kehilangan basis institusionalnya.

 2. Melembagakan nepotisme.

Orientasi loyalis personal adalah melanggengkan dan lingkaran terdekat figur. Ini merupakan bentuk modern dari politik dinasti, yang bertentangan dengan prinsip kesetaraan warga negara.

 3. Melahirkan kolusi dan politik balas jasa.

Jabatan dan kekuasaan tidak lagi dilandaskan pada kompetensi atau integritas, melainkan pada seberapa besar loyalitas kepada figur. Akibatnya, kebijakan publik terjebak dalam transaksi politik.

 4. Menyuburkan oligarki.

Fanatisme personal membutuhkan penyandang dana untuk bertahan. Dengan demikian, oligarki ekonomi masuk sebagai sponsor, dan negara jatuh ke dalam perangkap kolusi antara loyalis personal dan oligarki finansial.

Dengan kata lain, fenomena ini bukan sekadar soal pro-Jokowi atau anti-Jokowi. Persoalannya jauh lebih fundamental:

 • Apakah kita akan membiarkan demokrasi direduksi menjadi panggung nepotisme?

 • Apakah kita rela rakyat hanya menjadi penonton, sementara negara dikendalikan oleh fanatisme personal dan oligarki modal?

Refleksi ini adalah seruan moral dan politik: fenomena loyalisme personal harus dihentikan. Bukan karena kebencian pada seorang figur, melainkan karena kesetiaan kepada konstitusi, demokrasi, dan rakyat.

Demokrasi hanya akan sehat bila:

 • Kepentingan rakyat menjadi pusat kebijakan.

 • Jabatan publik diisi berdasarkan meritokrasi, bukan balas jasa.

 • Institusi lebih kuat daripada figur.

Jika kita tidak berani menghentikan normalisasi fanatisme personal, maka yang kita wariskan kepada generasi mendatang bukanlah demokrasi, melainkan nepotisme, kolusi, dan oligarki dalam balutan demokrasi semu.

Penulis: Leriadi Napol (Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional Jakarta)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru