Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Komisi VI DPR Soroti Pemadaman Listrik PLN di Aceh Selatan

Editor:  Rozie Winata
Reporter: Luki Setiawan
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Rivqy Abdul Halim (Foto: istimewa)

Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Anggota Komisi VI DPR Rivqy Abdul Halim menyoroti kualitas layanan Perusahaan Listrik Negara (PLN), salah satunya terkait pemadaman listrik yang masih banyak dikeluhkan masyarakat.

Meski begitu Rivqy mengapresiasi terkait peningkatan pendapatan penjualan. Namun, kata dia, data yang disampaikan masih dalam satuan TWh (Terawatt hour), bukan dalam satuan rupiah.

Baca Juga : DPR Tegaskan Reformasi Polri Mengikat, Kapolri Paparkan Arah Transformasi Digital dan Posisi Polri di Bawah Presiden

“Terus memang presentasinya sangat menarik, tapi yang disampaikan hanya pendapatan penjualan yang cantik-cantik saja,” ungkap legislator asal daerah pemilihan (Dapil) Jawa Timur IV itu, Rabu (4/12/2024).

Baca Juga : DPR dan Pemerintah Pastikan Pilpres Tetap Langsung, RUU Pilkada Tak Masuk Prolegnas 2026

Sementara, lanjut Rivqy, laba bersih PLN pada kuartal tiga 2024 mengalami penurunan 3,3 persen. Beban usaha juga naik 14,69 persen. Dia juga menyoroti terkait evaluasi dan penyesuaian soal kebijakan tarif PLN untuk memastikan kepatuhan dan optimasi pendapatan.

Proyek infrastruktur listrik juga menjadi sorotan. Menurut Gus Rivqy, masih ada proyek infrastruktur listrik yang mengalami keterlambatan. Salah satunya proyek pembangunan transmisi 500 KV di Sumatera. Proyek itu belum rampung dan sangat berlarut-larut.

Baca Juga : Wakil Bupati Simalungun Turun Langsung Tanggapi Aduan Warga di Media Sosial

Selanjutnya, Rivqy menyoroti kualitas layanan PLN, khususnya terkait pemadaman listrik di Aceh Selatan. Menurutnya, banyak masyarakat yang menyampaikan komplain dan keluhan soal pemadaman listrik. Di antaranya, dari masyarakat Kecamatan Trumon dan Kecamatan Bakongan.

Baca Juga : PLN Pulihkan Listrik di Tapanuli Selatan, Garoga dan Huta Godang Normal

Padahal, di wilayah tersebut terdapat sumber gas, misalnya Arun Regas. Selain itu, di daerah tersebut juga terdapat banyak pembangkit listrik, seperti di Arun, Belawan, Paya Pasi, dan Lhokseumawe.

“Bagaimana suplai di Aceh sendiri kok mati nyala begitu. Padahal ada sumber gas dan banyak pembangkit listrik di sana,” beber alumnus fakultas ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta itu.

Baca Juga : Spanyol dan Portugal Dilanda Pemadaman Listrik Massal

Terakhir, Rivqy mengkritisi pembangkit listrik combine cycle, yaitu pembangkit listrik yang menggabungkan tenaga gas dan uap. Berapa persen memanfaatkan bahan bakar gas dan berapa persen memanfaatkan marine fuel oil (MFO)?

Baca Juga : Cuaca Ekstrem Rusak Jaringan, PLN Gerak Cepat Pulihkan Listrik Untuk Kenyamanan Pelanggan

“Jangan - jangan penggunaan gas ini sebagai tameng saja biar kelihatan go green , tapi yang paling banyak dipakai ternyata MFO-nya,” tandas politikus PKB ini.

(cw1/Nusantaraterkini.co)