Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Kisah Nelayan Gaza, Berjuang untuk Bertahan Hidup di Tengah Kelaparan dan Blokade Israel

Sejak pecahnya konflik Israel-Hamas di Jalur Gaza pada Oktober 2023, lautan berubah menjadi tempat yang penuh bahaya, keputusasaan, dan harapan

Seorang nelayan Palestina terlihat menebar jaring di pantai di Kota Khan Younis, Jalur Gaza selatan, pada 22 Oktober 2024. (Foto: Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Seorang nelayan Palestina terlihat menebar jaring di pantai di Kota Khan Younis, Jalur Gaza selatan, pada 22 Oktober 2024. (Foto: Xinhua/Rizek Abdeljawad)
A A

, - Setiap pagi, jauh sebelum matahari menyinari lanskap, Salim Abu Rayala, seorang Palestina dari kamp pengungsi Al-Shati di sebelah barat Kota Gaza, melepaskan ikatan perahunya, sebuah perahu kayu yang telah lapuk akibat cuaca. Dia lalu mendorong perahu itu menuju perairan Mediterania.

Abu Rayala hafal betul sifat dualisme laut. Di satu sisi, laut dapat memberikannya hasil tangkapan yang baik, sedangkan di sisi lain, laut dapat merenggut nyawanya. Namun, ayah delapan anak itu tidak mempunyai pilihan lain.

“Saya harus berjuang untuk keluarga saya,” ujarnya.

Baca Juga: Israel Lancarkan 200 Lebih Serangan Udara di Gaza dalam 3 Hari

Di usianya yang kini menginjak 55 tahun, Abu Rayala menghabiskan lebih dari tiga dekade untuk menangkap ikan sarden, belanak, dan ikan keris di sepanjang pesisir pantai Gaza. Namun, sejak pecahnya Israel- di Jalur Gaza pada Oktober 2023, lautan berubah menjadi tempat yang penuh bahaya, keputusasaan, dan harapan yang kian susut.

“Saya tetap melaut setiap hari, meski terkadang tidak mendapatkan apa-apa,” kata Abu Rayala.

"Beberapa hari, saya berlayar cukup jauh untuk menebar jala, namun harus kembali dengan tangan hampa. Saya mempertaruhkan nyawa saya untuk hal yang sia-sia, tetapi pilihan apa yang saya miliki?," lanjutnya.

Dengan tindakan ketat Israel terhadap akses ke perairan untuk menangkap ikan di , setempat terus menerus menghadapi ancaman ditembak, dilecehkan, atau ditangkap jika mereka keluar dari batas yang ditetapkan.

"Terkadang, mereka (tantara Israel) menembak ke udara. Di lain waktu, mereka mengincar mesin perahu," kenang Abu Rayala.

"Saya sudah pernah melihat teman-teman saya terluka dan perahu mereka hancur. Namun, kami tetap bertahan, kami punya keluarga yang harus dinafkahi," sambungnya.

Baca Juga: Militer Israel Klaim Sudah Kuasai Sepertiga Wilayah Gaza

Karena serangan Israel yang terus berlanjut, industri perikanan kini berada di ambang kehancuran total, menghadapi berbagai kendala, seperti kelangkaan bahan bakar dan kekurangan suku cadang.

“Dulu, saya biasa membawa pulang ikan untuk makan malam. Sekarang, saya menjual apa pun hasil tangkapan saya demi membeli beras, minyak, dan sayuran. Ini bukan lagi soal memberi makanan Bergizi bagi keluarga saya, melainkan soal bertahan hidup,” tutur Abu Rayala.

Dia mengaku, setiap kilogram ikan dijual seharga 30 dolar AS (1 dolar AS = Rp16.862).

“Harganya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga sebelum perang, tetapi saya tetap tidak bisa menghasilkan nafkah,” kata Abu Rayala.

Di seluruh wilayah pesisir Gaza, pemandangan serupa terjadi setiap hari. Ribuan nelayan mengungsi atau bahkan terpaksa melepaskan profesi mereka.

Banyak juga dari mereka yang beralih ke mata pencaharian lain, bahkan menukar alat menangkap ikan mereka dengan gerobak dorong atau mengumpulkan kayu bakar dari gedung-gedung yang dibom.

Ahed Baker, seorang nelayan lain di kamp pengungsi Al-Shati, terlihat sedang menambal jaring. Perahu kecilnya sudah tidak melaut selama lima pekan.

"Bahan bakarnya terlalu mahal, dan saya bahkan tidak punya umpan," ujarnya kepada Xinhua.

“Dahulu, laut adalah sumber penghidupan kami. Namun kini, laut sudah diblokir, rusak, dan penuh dengan bahaya,” tuturnya. "Tidak ada lagi yang tersisa bagi kami. Tanah kering. Langit menghujani kami dengan bom. Meskipun laut kosong, laut tetap menjadi satu-satunya tempat yang benar-benar saya beri tahu untuk saya arungi," pungkasnya.

(Zie/)

Sumber: Xinhua 

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait