Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Direktur Ekonomi Center of Economics and Law Studies (Celios) Nailul Huda menyebut bergabungnya Indonesia ke dalam BRICS membuka kesempatan untuk menanggalkan ketergantungan terhadap pasar Amerika Serikat (AS) dan Eropa.
Sebab, keanggotaan di BRICS disebutnya dapat memperluas pasar komoditas Indonesia di luar negeri.
Sebelumnya, Brasil telah mengumumkan Indonesia resmi menjadi anggota penuh BRICS pada Senin (6/1/2025) kemarin.
Nailul menyebut ekspor Indonesia selama ini masih bergantung pada pasar tradisional seperti AS dan Eropa. Negara-negara BRICS disebut dapat menjadi pasar baru yang menguntungkan Indonesia.
"Bergabung dengan BRICS, akan memberikan keuntungan bagi Indonesia untuk bisa lepas dari pasar tradisional seperti AS dan Eropa. Eropa pun sebenarnya sudah mulai resek dengan kebijakan ekspor Indonesia di mana sering terlibat perselisihan dalam hal perdagangan global," katanya, Rabu (8/1/2025).
Menurut Nailul, Eropa saat ini 'menjegal' perdagangan luar negeri Indonesia, khususnya untuk komoditas kelapa sawit. Kebijakan European Deforestation Regulation (EUDR) disebutnya membuat Indonesia perlu mencari pasar baru untuk produk kelapa sawit.
Baca Juga: Donal Trump Ancam Tarif 100% untuk Negara BRICS, Indonesia Siap-siap! Terimbas Dampaknya....
"Prabowo pun menunjukkan keberpihakannya kepada sawit lokal, saya rasa itu menjadi pertimbangan juga untuk mencari pasar alternatif," katanya.
Lebih lanjut, Nailul menilai proporsi ekonomi negara-negara BRICS di dunia meningkat cukup tajam sejak 1990. Pada 1990, proporsi ekonomi BRICS hanya 15,66 persen, naik menjadi 32 persen pada 2022.
Selain itu, anggota BRICS terus bertambah, khususnya setelah organisasi antarpemerintah tersebut menyepakati 13 negara mitra pada Oktober 2024 lalu.
"Negara Timur Tengah sudah mulai masuk ke koalisi BRICS, hal ini sejalan dengan keinginan pemerintah untuk masuk ke pasar Timur Tengah. Jadi, sebenarnya keuntungan masuk BRICS cukup besar," sebutnya.
Kendati demikian, Nailul mengingatkan keanggotaan di BRICS dapat membuat Indonesia bentrok kepentingan dengan AS. Terlebih lagi, kebijakan ekonomi presiden terpilih AS, Donald Trump disinyalir akan memicu perang dagang dengan China saat menjabat.
"Ada potensi ekonomi global akan melambat dan ber-impact (berdampak, -red) pada negara koalisi. Memang saya rasa pilihan masuk ke BRICS lebih rasional ke depan walaupun juga ada risikonya dengan negara-negara OECD dan negara blok barat," tandasnya.
Analis Pasar: Pelemahan Kurs Rupiah Diramalkan Bisa Menembus Level Rp16.000 Per Dolar AS Tertekan Ancaman Trump untuk Negara BRICS
Wujudkan Politik Bebas Aktif
Ketua Fraksi Gerindra DPR Budisatrio Djiwandono mengapresiasi strategi politik luarnegeri pemerintah yang dinilai mampu membuka lebih banyak peluang kolaborasi dankerjasama dengan negara berkembang lainnya.
“Fraksi Gerindra tentu menyambut gembira keanggotaan Indonesia dalam BRICS. Karena iniadalah wujud sejati dari falsafah politik luar negeri bebas aktif yang ditekankan oleh PresidenPrabowo Subianto,” ujar Budisatrio.
Menurut Budisatrio yang juga Wakil Ketua Komisi I DPR tersebut, keanggotaan penuh Indonesia dalam BRICS berpotensi menciptakan tatanan global yang lebih inklusif dan berkeadilan.
Terutama di tengah tren geopolitik global yang saat ini cenderung berorientasipada kepentingan dalam negeri masing-masing negara (inward-looking), alih-alih mendorongkolaborasi ekonomi yang setara dan berkelanjutan.
“Untuk memperkuat peran Indonesia dalam geopolitik global, politik luar negeri kita harusmampu mendorong kolaborasi, bukan konfrontasi. Kita punya kedaulatan untuk menjalindiplomasi dengan semua pihak serta menciptakan relasi yang setara dan salingmenguntungkan,” ujar Budisatrio.
“Maka dari itu kami mengapresiasi pemerintah yang berhasil menjalankan kedaulatan tersebut demi kepentingan bangsa,” lanjutnya.
Sementara itu, Ketua DPD RI Sultan B Najamuddin mengapresiasi kinerja diplomatik Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Luar Negeri RI Sugiono.
"Kami menyambut baik masuknya Indonesia sebagai anggota BRICS. Hal ini tentunya menjadi kabar yang positif bagi hubungan internasional khususnya kinerja perdagangan Indonesia", ungkap Sultan melalui keterangan resminya pada Selasa (7/1/2025).
Menurutnya, capaian diplomatik tersebut tidak terlepas dari kerja keras Presiden dan jajaran kementerian Luar Negeri RI yang secara maraton dan intensif melakukan kunjungan kenegaraan untuk meyakinkan para pemimpin di banyak negara dalam dua bulan awal pemerintahan.
"Sebagai salah satu negara dengan ekonomi terbesar dunia, Indonesia tentunya memiliki daya tarik tersendiri bagi organisasi-organisasi multilateral. Dengan demikian peluang Indonesia untuk mendapatkan kepercayaan pasar dan memperoleh investasi asing semakin terbuka", ujarnya.
Lebih lanjut mantan aktivis KNPI itu mengatakan energi kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto menandai awal dari momentum bagi bangsa Indonesia untuk melewati fase yang penting ini. Di mana peningkatan eskalasi dan ketidakpastian geopolitik di banyak kawasan berpengaruh langsung terhadap Indonesia.
"Kita beruntung memiliki pemimpin nasional yang sudah lebih dulu menyiapkan modal diplomatik untuk tampil percaya diri di panggung internasional. Artinya keberadaan dan sikap diplomatik Indonesia semakin diperhitungkan oleh kekuatan-kekuatan global saat ini", tegasnya.
Baca Juga: Dukung Indonesia Gabung BRICS, DPD: Ekonomi Indonesia Perlu Tumbuh 8 persen
Diketahui, Sebagai tuan rumah dan presiden BRICS tahun ini, Brasil mengatakan seluruh anggota asosiasi itu telah menyetujui secara konsensus soal keanggotaan Indonesia.
Menurut Brasil, keanggotaan Indonesia di BRICS merupakan bagian dari dorongan perluasan organisasi saat pertemuan puncak BRICS pada 2023 di Johannesburg.
Sekedar informasi, BRICS merupakan blok ekonomi yang beranggotakan negara-negara berkembang. Nama BRICS sendiri diambil dari nama negara-negara yang menjadi anggota sekaligus inisiatornya. Negara-negara tersebut meliputi Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan.
(cw1/Nusantaraterkini.co)
