Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Analis Pasar: Pelemahan Kurs Rupiah Diramalkan Bisa Menembus Level Rp16.000 Per Dolar AS Tertekan Ancaman Trump untuk Negara BRICS

Editor:  Team
Reporter: wiwin
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
kurs rupiah masih terus mengalami tekanan. Pelemahan rupiah diprediksi bisa menembus level Rp 16.000 per dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot 

Nusantaraterkini.co, Jakarta - Pada perdagangan Selasa (3/12/2034) kurs rupiah masih terus mengalami tekanan. Pelemahan kurs rupiah diprediksi bisa menembus level Rp 16.000 per dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot.

BACA: Kurs Rupiah Tak Mampu Membalikkan Keadaan Terus Melemah 0,25% Ditutup di Level Rp15.946 Per Dolar AS 

Diperdagangan tadi sore kurs rupiah ditutup di level Rp 15.946 per dolar AS

Baca Juga : Prabowo Ajak Ramaphosa Perkuat Hubungan Sesama Anggota BRICS

Diketahuai ternyata hal ini yang membuat kurs rupiah melemah 0,25% dibandingkan dengan penutupan Senin (2/12) di level Rp 15.906 per dolar AS. Alhasil, rupiah pun menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia.

BACA: IHSG Menguat 102,18 Poin ke Level 7.149,16 di Perdagangan Selasa (3/12/2024) Sesi I Siang Ini

Menanggapi hal tersebut,  menurut Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong menilai dengan pelemahan rupiah belakangan ini maka peluang rupiah menembus level Rp 16.000 terbuka. 

Baca Juga : BRICS Dinilai Potensi Jadi Mitra Dagang Potensial Indonesia

"Akhir tahun rupiah diperkirakan dikisaran Rp 15.800 - Rp 16.100 per dolar AS," ujarnya.

Tertekannya kurs rupiah, salah satunya disebabkan kekhawatiran akan ancaman Trump mengenakan tarif 100% untuk negara BRICS

Pengenaan tarif itu diberlakukan apabila negara BRICS membuat mata uang baru sebagai alternatif penggunaan dolar AS.

Baca Juga : Momen Trump dan Anwar Ibrahim Joget di Karpet Merah Jelang KTT ASEAN

BACA: Kurs Rupiah Melemah 0,29% Berada di Level Rp15.953 Per Dolar AS di Perdagangan Selasa (3/12/2024 Siang Ini

Lukman berpendapat, sebetulnya BRICS tidak ada rencana untuk membuat mata uang baru.

Menurutnya, gejolak pada mata uang rupiah, termasuk mata uang Asia, akibat kekhawatiran investor apabila Trump akan membenarkan kebijakan tarifnya dengan segala macam alasan yang tidak masuk akal ke depannya.

Baca Juga : Trump Ngamuk, Mendadak Hentikan Perundingan Dagang dengan Kanada

BACA: Harga Emas Antam Naik Rp5.000 Bertengger di Level Rp 1.514.000 Per Gram di Perdagangan Selasa (3/12/2024)

Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo senada bahwa rupiah berpotensi menembus level Rp 16.000 per dolar AS. 

Selain sentimen BRICS, faktor lainnya seperti ketidakpastian ekonomi global, ketegangan geopolitik, dan menguatnya dolar AS turut menambah tekanan terhadap rupiah.

Baca Juga : Rupiah Lanjutkan Tren Penguatan, Dolar AS Tertekan di Level Rp16.760

Menurut Sutopo, kesehatan ekonomi global secara keseluruhan, termasuk tingkat pertumbuhan dan inflasi, akan memainkan peran penting.

 Perlambatan aktivitas ekonomi global dapat menyebabkan peningkatan permintaan aset safe haven seperti Dolar AS, yang akan menekan rupiah.

"Kekuatan Dolar AS didorong oleh faktor-faktor seperti data ekonomi AS dan kebijakan Federal Reserve akan memengaruhi rupiah," sebutnya.

Baca Juga : Rupiah Menguat di Awal Pekan, Dolar AS Tertekan ke Rp16.770

Lalu, konflik geopolitik yang sedang berlangsung, khususnya yang melibatkan negara-negara BRICS, dapat menciptakan ketidakpastian di pasar. 

Hal ini dapat menyebabkan arus keluar modal dari pasar berkembang, termasuk Indonesia yang juga akan melemahkan rupiah.

Dari dalam negeri, kinerja ekonomi domestik Indonesia, termasuk pertumbuhan PDB, inflasi, dan neraca perdagangan juga akan memengaruhi rupiah. 

"Akhir tahun rupiah dikisaran Rp 16.000," sebutnya.

Gejolak rupiah juga berpotensi berlanjut hingga kuartal I 2025. Lukman menilai, hal itu bisa terjadi dengan asumsi intervensi dari Bank Indonesia (BI) tidak lebih agresif.

"Jika ditambah dengan berjalannya rencana Trump mengenai tarif, rupiah di kuartal I 2025 dikisaran Rp 16.500 - Rp 16.800 per dolar AS.

Untuk jangka pendek, Lukman berpendapat faktor yang dapat menahan rupiah menembus level Rp 16.000 dari aksi intervensi BI dan bank sentral Indonesia itu tetap mempertahankan suku bunga di level saat ini.

Karenanya, Lukman memperkirakan BI belum akan memangkas suku bunganya pada Desember nanti untuk menjaga gejolak rupiah.

"Ekonomi akan kurang baik apabila suku bunga BI ditahan, tetapi kalau rupiah bergejolak bisa lebih parah," tutupnya.

(nusantaraterkini.co/win)