Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Iringan Presiden Ekuador Diserang Massa, Noboa Selamat dari Upaya Pembunuhan

Editor:  hendra
Reporter: Hendra Mulya
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Polisi anti huru hara Ekuador. (16/9/2025). (Foto: Rodrigo Buendia/AFP)

nusantaraterkini.co, EKUADOR Ketegangan politik di Ekuador memuncak setelah iring-iringan Presiden Daniel Noboa diserang massa pada Selasa (7/10/2025). Beruntung, sang presiden yang baru berusia 35 tahun itu dilaporkan selamat dari dugaan percobaan pembunuhan.

Menurut laporan resmi otoritas setempat, sekelompok besar massa menyerang konvoi kepresidenan dengan lemparan batu dan benda keras. 

Menteri Lingkungan Hidup Ines Manzano menyebut kejadian tersebut sebagai aksi terencana yang mengarah pada upaya pembunuhan.

Baca Juga : 49 Sandera Geng Narkoba Dibebaskan Polisi dan Tentara di Lokasi Tambang

“Kami menemukan bekas peluru di kendaraan yang ditumpangi Presiden Noboa. Saat kejadian, lebih dari 500 orang mengepung iring-iringan itu,” ungkap Manzano dalam pernyataannya.

Pihak kepolisian Ekuador telah menangkap lima orang tersangka yang kini dijerat dengan pasal percobaan pembunuhan dan terorisme.

Usai insiden itu, Noboa tetap melanjutkan agendanya berbicara di hadapan mahasiswa di kota Cuenca. Dalam pidatonya, ia menegaskan tidak akan gentar menghadapi kekerasan dan berjanji menegakkan hukum tanpa pandang bulu.

Baca Juga : Berikut Jadwal Perempat Final Copa America 2024, Argentina Vs Ekuador

"Jangan tiru mereka yang mencoba menghentikan langkah kami dan menyerang kami. Tindakan seperti itu tidak akan dibiarkan di Ekuador yang baru. Hukum berlaku untuk semua,” tegas Noboa, dikutip dari Reuters, Rabu (8/10/2025).

Sementara itu, Federasi Warga Adat Ekuador (CONAIE) – kelompok yang selama ini vokal mengkritik pemerintahan Noboa – turut buka suara. Mereka justru menuduh aparat polisi dan militer melakukan kekerasan terhadap warga sipil saat konvoi presiden melintas di Cuenca.

CONAIE menyebut seorang lansia mengalami luka akibat bentrokan tersebut.

Baca Juga : Pemisahan Pemilu Nasional dan Daerah Dinilai Ancam Demokrasi Lokal, Masa Transisi 2029-2031 Jadi Sorotan

Selama dua pekan terakhir, organisasi tersebut memimpin aksi mogok nasional dan pemblokiran jalan sebagai bentuk protes terhadap kebijakan pemerintah yang menghapus subsidi bahan bakar diesel.

Untuk mengendalikan situasi yang semakin memanas, Presiden Noboa akhirnya menetapkan status darurat di sejumlah provinsi.

(Dra/nusantaraterkini.co)

Baca Juga : Pengamat Nilai Ijeck Disarankan Cabut usai Dipecat dari Ketua DPD Golkar Sumut